Kumpulan dari cerita - cerita yang menarik sperti cerita cinta, cerpen, cergam, dan lain - lainya
Sabtu, 05 Desember 2009
Jangan Putus Ditengah Jalan
Suatu hari, Leyang menemukan uang emas dalam perjalanan pulangnya, dan ia sangat gembira berlari pulang secepat mungkin dan memberikan uang itu kepada istrinya.
Anehnya, istrinya tidak mau menerimanya dan berkata dengan lembut, “Suamiku, seorang lelaki sejati tidak pernah minum air curian. Mengapa kamu membawa pulang emas yang bukan milik kita? Pasti sang pemilik sedang kebingungan mencari-cari barang ini di tempat yang tadi ia lewati." Leyang tersentuh akan kata-kata istrinya, dan ia mengembalikan uang emas itu ke tempat tadi ditemukan.
Setahun kemudian, Leyang menempuh studi lebih lanjut ke luar daerah, sehingga istrinya tinggal sendiri di rumahnya di desa. Di tengah-tengah masa studinya, Leyang merasa sangat rindu ingin bertemu sang istri, dan ia pulang ke rumah. Istrinya sedang menenun kain di kamar dan merasa kaget saat mengetahui suaminya pulang, bertanya mengapa ia kembali begitu cepat. Suaminya menjelaskan alasannya. Istrinya menjadi marah dan mengambil gunting, diguntingnya putus setengah dari kain tenunannya yang sudah susah payah dibuatnya tadi, membuat suaminya bingung. Istrinya berkata, “Bila sesuatu dihentikan di tengah jalan, bagaikan menggunting kain yang sedang ditenun. Kain hanya dapat berguna saat ia selesai ditenun. Namun kini ia tak berharga, sama seperti sekolahmu.”
Leyang sangat tersentuh akan nasihat istrinya. Ia segera kembali melanjutkan studinya, dan tidak pulang sampai ia lulus dan mendapat pekerjaan yang baik. Kisah ini sering diceritakan di kalangan rakyat Tiongkok agar anak-cucu memiliki semangat memperjuangkan cita-cita.
selamat bercerita ya!!!!!
Jumat, 30 Oktober 2009
Bayangan Anjing
Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia akan tahu bahwa itu hanyalah bayangannya. Tetapi anjing itu tidak berpikir apa-apa dan malah menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai. Anjing serakah tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tepi sungai. Saat dia selamat tiba di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang di bawanya malah hilang, dia kemudian menyesali apa yang terjadi dan menyadari betapa bodohnya dirinya.
Sangatlah bodoh memiliki sifat yang serakah
Cerita anak sebelum tidur. Selamat bercerita
Rabu, 02 September 2009
Perangkap tikus

Seekor tikus mengintip lewat sebuah celah ditembok untuk mengamati sang petani dan istrinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan apa kiranya? Ia terkejut sekali, ternyata itu jebakan tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu meneriakkan peringatan: "Awas! Ada jebakan tikus di dalam rumah. Awas! ada jebakan tikus di dalam rumah!"
Sang ayam tenang-tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya, ya.. maafkan aku, pak Tikus, aku tahu ini memang urusan gawat bagi anda, tapi kan buat aku pribadi tak ada pengaruhnya. Jangan bikin aku pusinglah."
Tikus berbalik dan pergi menuju sang babi, katanya, "Ada jebakan tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus dirumah!" "Wah, aku menyesal dengar kabar ini," si babi menghibur dengan penuh simpati, "tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu ada dalam doa-doaku!"
Tikus kemudian berbelok menuju si sapi. Sapi inipun berujar sinis, "Seperti apa ya pak Tikus sebuah jebakan tikus? Jadi saya dalam bahaya besar ya?"
Jadi tikus itu kembalilah kerumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, menghadapi jebakan tikus sendiri.
Malam itu juga terdengar sebuah suara menggema diseluruh rumah, seperti bunyi jebakan tikus yang berhasil menangkap korbannya. Istri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di kegelapan itu ia tak bisa melihat bahwa yang terjebak adalah ekor ular amat berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan istri petani itu.
Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit. Ia kembali ke rumah dengan demam. Sudah umum setiap orang akan menangani demam panas dengan memberikan sop ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah ia ke lahan belakang mencari bahan pokok untuk sopnya itu.
Penyakit istrinya berlanjut sehingga teman-temannya maupun para tetangganya datang duduk-duduk menjenguk, dari jam ke jam selalu berdatangan para tamu. Petani itupun menyembelih babinya untuk memberi makan para pengunjung itu.
Istri petani itu tak kunjung sembuh. Ia meninggal, jadi makin banyak lagi orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksa menjagal sapinya agar bisa menjamu orang yang datang.
Kamis, 23 Juli 2009
Cinta, cinta, cinta dan cinta

Alkisah, di suatu pulau kecil tinggallah berbagai benda abstrak ada CINTA, kesedihan, kegembiraan, kekayaan, kecantikan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.
Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik membasahi kakinya.
Tak lama CINTA melihat kekayaan sedang mengayuh perahu, “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!,” teriak CINTA “Aduh! Maaf, CINTA!,” kata kekayaan “Aku tak dapat membawamu serta nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.” Lalu kekayaan cepat-cepat pergi mengayuh perahunya. CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!,” teriak CINTA. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak dapat mendengar teriakan CINTA. Air semakin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik.
Tak lama lewatlah kecantikan “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!,” teriak CINTA “Wah, CINTA kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu pergi. Nanti kau mengotori perahuku yang indah ini,” sahut kecantikan. CINTA sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat kesedihan “Oh kesedihan, bawlah aku bersamamu!,” kata CINTA. “Maaf CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..,” kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa.
Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara “CINTA! Mari cepat naik ke perahuku!” CINTA menoleh ke arah suara itu dan cepat-cepat naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, CINTA turun dan perahu itu langsung pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang menolongnya. CINTA segera bertanya pada penduduk pulau itu. “Yang tadi adalah WAKTU,” kata penduduk itu “Tapi, mengapa ia menyelamatkan aku? Aku tidak mengenalinya. Bahkan teman-temanku yang mengenalku pun enggan menolong” tanya CINTA heran “Sebab HANYA WAKTULAH YANG TAHU BERAPA NILAI SESUNGGUHNYA DARI CINTA ITU”
Selasa, 21 Juli 2009
Memandang Api dari Seberang Pantai
Kisah ini tentang seorang pemuda bernama Bian Zhuangzi. Suatu hari dia melihat dua ekor harimau sedang bertarung memperebutkan seekor kerbau. Dia hendak menarik pedangnya membunuh harimau-harimau namun abdinya menghentikannya. Abdinya berkata, “Tunggulah sebentar, Tuanku. Lihat, dua ekor harimau sedang bertarung memperebutkan kerbau yang sama. Ini artinya akan ada pertarungan berdarah di antara keduanya yang tak akan terelakan. Tak diragukan bahwa yang kuat akan menang dan yang lemah akan mati. Tetapi yang kuat juga akhirnya akan terluka. Jadi mengapa tidak menunggu saja, dan anda hanya cukup membunuh sisa harimau yang terluka tersebut?”
Chen Zheng melanjutkan, “Sekarang Han dan Wei sedang bertarung satu sama lainnya seperti dua ekor harimau ini. Segera ataupun nantinya si lemah akan di taklukan oleh yang kuat. Kaisar yang mulia, mengapa tidak melakukan seperti apa yang Bian Zhuangzi perbuat, menunggu dan lihat hasilnya?. Seperti yang diprediksi Chen Zheng, Qian akhirnya mengumumkan sebagai pemenang terakhir dalam konfik antara Han dan Wei.
Umumnya perkataan ini mengandung makna tidak merespon ataupun mengambil tindakan apapun. Tetapi sebenarnya mengandung arti yang lebih dalam, yaitu membiarkan situasi yang menganggu musuh Anda berkembang sehingga Anda akan mendapat manfaat darinya. Dengan perkataan lain, tunggu dan lihat bagaimana kejadian tersebut akan bekerja sesuai perkembangan yang Anda harapkan hingga secara alamiah berakhir. Barang akan menjadi milik siapa yang dapat sabar menunggu hingga situasi berubah menjadi keberuntungan mereka.
Kamis, 16 Juli 2009
Cerpen Sang Penguasa
Sang Sultan memerintahkan untuk mencari orang yang dimaksud, dan akhirnya tanda-tanda yang disebutkan oleh para dokter dapat ditemukan pada anak kecil, putra seorang petani. Ayah dan ibunya dipanggil dan diberikan banyak hadiah hingga mereka puas. Hakim memberikan pertimbangannya, bahwa diperbolehkan untuk mengorbankan darah seorang bawahan demi mempertahankan nyawa Sultan.
Ketika tiba saatnya algojo menghabisi nyawanya, anak tersebut memalingkan wajah ke langit dan tertawa. “Bagaimana kamu dapat tertawa di saat demikian?”, Sultan yang menyaksikan bertanya. Anak tersebut menjawab: Mengasuh anak dengan kasih sayang adalah kewajiban ayah dan ibu; pertimbangan hukum ditujukan ke hakim, dan keadilan dituntut dari seorang penguasa; tetapi sekarang, demi harta duniawi, ayah dan ibu telah menyerahkan saya pada kematian, hal mana juga telah disetujui oleh hakim, sedangkan Sultan melihat keselamatan dirinya dalam kematian saya; selain kepada Tuhan saya sungguh tidak melihat lagi tempat untuk berpaling.
Hati Sultan sangat tersentuh, sehingga air matanya mengalir. Sultan berkata: Lebih baik saya mati, daripada menumpahkan darah orang yang tidak berdosa. Sultan mencium kepala dan mata anak tersebut, memeluknya erat-erat dan memberikan hadiah yang berlimpah serta membiarkan anak tersebut pergi. Diceritakan, Sultan tersebut pada minggu yang sama sehat kembali.Dan membiarkan mereka hidup bagaia seperti sedia kala lagi. Kasian nyawa seorang anak kecil dikorbankan.
Senin, 13 Juli 2009
Cerpen Tempat Air Suci yang Angkuh
cergam, cerita anak, cerita cinta, cerita dongeng, cerita misteri, cerita pendek, cerpen, keindahan baliCerpen Tempat Air Suci yang Angkuh
Zaman dahulu kala, ada sebuah vas di surga. Dewi Kuwan Im menggunakan vas tersebut untuk menaruh air suci pengobat segala penyakit dan ranting daun. Vas itu telah bersama Dewi Kwan Im di surga selama ribuan tahun dan berpikir bahwa ia sangatlah berarti bagi Sang Dewi. Suatu hari, Dewi Kwan Im berkata kepadanya, "Kamu telah menjadi kotor dan tidak bisa lagi tinggal di sini. Kamu harus turun ke bawah sesuai tingkatanmu sekarang." Vas itu berkata dengan cemas, "Dewi Kwan Im, saya tidak kotor! Saya bersih dan berkilau seperti dulu saya diciptakan. Saya tidak tercemar ataupun tergores!" Dewi Kwan Im menjelaskan dengan sabar, "Ya, penampilan kamu masih secantik dahulu, tapi pikiran dan sifatmu sudah menjadi buruk. Kamu tidak lagi sesuai dengan kriteria di alam ini!' Vas itu mulai memohon, "Dewi Kwan Im, saya telah bersama Anda selama bertahun-tahun, bisakah Anda membuat pengecualian untuk saya?" Dewi Kwan Im tersenyum dan berkata, "Membandingkanmu dengan kamu yang dulu, sungguh berbeda jauh." Vas angkuh itu menjadi kecewa dan berkata, "Bila saya tidak lagi diterima disini, saya lebih baik turun ke dunia manusia dan mencari orang yang bisa menghargai saya." Kemudian ia turun ke dunia manusia.
Begitu ia turun ke dunia manusia, ia berada di suatu rumah mewah. Ia sangat senang dengan rumah barunya. Melihat sekeliling ruangan, vas itu dipajang dengan vas-vas antik lainnya dari berbagai dinasti Tiongkok kuno dalam sebuah lemari kaca. Vas itu kemudian berpikir, "Saya adalah vas khayangan dari surga, vas-vas lainnya disini tidak sebanding dengan saya!" Pada kenyataannya, sang pemilik juga memperlakukan vas tersebut dengan istimewa, dia membersihkan vas itu dengan cairan khusus yang membuatnya tambah kinclong setiap hari. Vas itu sangat senang diperlakukan demikian dan berpikir bahwa adalah suatu keputusan yang tepat untuk datang ke dunia manusia.
Suatu hari seorang gembel datang mengunjungi rumah tersebut. Namun anehnya pemilik rumah bersikap sopan kepadanya. Dia menjamu tamu tersebut dengan makan malam yang mewah. Vas itu dalam hati berkata, "Kenapa tuan saya menjamu orang miskin itu bagaikan orang terhormat?" Setelah mereka selesai makan malam, orang kaya itu menunjukkan vas itu dan berkata, "Tuan Zhang, lihatlah harta karun yang baru saja saya miliki ini, sangat berharga bukan?" Lalu ia berkata, "Sebagai tanda terima kasih karena Anda telah menyelamatkan saya dari bahaya tenggelam waktu itu, maka saya ingin memberikan vas ini kepada Anda. Tanpa pertolongan Anda, pasti saya sudah tewas." Lalu ia memberikan vas itu kepada tamunya itu.
Merasa heran dan takut, vas itu mulai marah kepada orang kaya tersebut dan mengutuk didalam hati: "Jadi saya tidak ada artinya bagi kamu selain hanya dijadikan sebagai hadiah bagi seorang gembel.” Vas itu mencium bau busuk ikan dari gembel tersebut, dan kepingin muntah kalau saja dia bisa. Meskipun gembel tersebut menolak hadiah itu, namun orang kaya itu memaksanya. Ia berkata, "Bila Anda menolak pemberian tulus saya ini, saya akan memecahkan vas mahal ini sekarang!" Tamu itu tidak punya pilihan lain selain mengambil vas tersebut dan kemudian pamit pulang.
Kini vas itu menjadi milik gembel tesebut, dibawa pulang ke sebuah gubuk kotor dengan bau amis ikan. Vas itu hampir tidak percaya kini ia harus hidup di gubuk seorang nelayan miskin. Begitu nelayan itu masuk kedalam rumah, ia berteriak kepada istrinya, "Sayang, saya membawa pulang sebuah vas, tolong isi dengan arak dan besok akan saya bawa saat mencari ikan." Lalu seorang wanita keluar dari dapur dan mengambil vas itu. Dipegang dalam genggaman tangan wanita itu yang kasar, vas itu merasa tidak nyaman. Kemudian, ia diisi dengan arak murahan. Vas itu merasa sakit hati. Dulu ia diisi oleh air suci Dewi Kwan Im, sekarang ia diisi oleh arak murahan di dunia manusia!
Setelah beberapa lama waktu, vas itu terlihat baret, berminyak dan kotor. Sekian lama tinggal di dunia manusia, ia terbiasa dengan bau arak murahan dan melihat orang-orang di dunia manusia ini suka meminumnya. Saat araknya habis, ia merasa sedih dan rindu aromanya. Pada suatu hari yang berangin kencang, nelayan itu membawanya lagi saat mencari ikan. Ombak besar menghantam perahu dan vas itu jatuh ke laut. Tutupnya lepas dan araknya tumpah keluar. Air laut yang asin dan kotor kini masuk kedalam vas tersebut, membuatnya merasa jijik.
Saat terombang-ambing di lautan beberapa lama, vas itu teringat kepada Dewi Kwan Im. Ia mulai menimpakan segala kemalangannya kepada Dewi Kwan Im, dan mulai membencinya. Setiap kali ia mulai timbul rasa benci, ombak menghantamkan tubuhnya ke batu karang, menyebabkan beberapa bagian vas itu pecah. Kemudian ia juga mulai berpikiran buruk kepada orang kaya pemilik rumah mewah dan juga sang nelayan, membenci semuanya, tubuhnya semakin hancur diterjang ombak dan batu karang, dan akhirnya tenggelam ke dasar laut dan perlahan-lahan terkubur oleh pasir pantai. Ia tak lagi dapat melihat cahaya, semuanya gelap dan tak ada suara. Seolah-olah bahkan waktu pun telah berhenti. Ia merasa takut dan tak berdaya. Ia ingin keluar dan bebas, namun tidak bisa.
Dikelilingi oleh kesunyian abadi dan ditutup oleh lapisan tebal pasir di dasar laut yang dalam, vas itu mulai merindukan hari-hari dimana ia duduk disamping Dewi Kwan Im di surga. Begitu ia rindunya pada suasana dahulu, ia mulai lagi timbul kebencian kepada Dewi Kwan Im, pemilik rumah mewah dan nelayan itu. Lama kelamaan ia merasa bahwa ia kehilangan akalnya, dan pada akhirnya ia benar-benar kehilangan kemampuannya untuk berpikir. Yang tersisa adalah keping-kepingan vas kotor yang terkubur di dasar laut dalam.
Selasa, 07 Juli 2009
Cerpen : Pemerah Susu dan Embernya
Seorang wanita pemerah susu telah memerah susu dari beberapa ekor sapi dan berjalan pulang kembali dari peternakan, dengan seember susu yang dijunjungnya di atas kepalanya. Saat dia berjalan pulang, dia berpikir dan membayang-bayangkan rencananya kedepan.
"Susu yang saya perah ini sangat baik mutunya," pikirnya menghibur diri, "akan memberikan saya banyak cream untuk dibuat. Saya akan membuat mentega yang banyak dari cream itu dan menjualnya ke pasar, dan dengan uang yang saya miliki nantinya, saya akan membeli banyak telur dan menetaskannya, Sungguh sangat indah kelihatannya apabila telur-telur tersebut telah menetas dan ladangku akan dipenuhi dengan ayam-ayam muda yang sehat. Pada suatu saat, saya akan menjualnya, dan dengan uang tersebut saya akan membeli baju-baju yang cantik untuk di pakai ke pesta. Semua pemuda ganteng akan melihat ke arahku. Mereka akan datang dan mencoba merayuku, tetapi saya akan mencari pemuda yang memiliki usaha yang bagus saja!"
Ketika dia sedang memikirkan rencana-rencananya yang dirasanya sangat pandai, dia menganggukkan kepalanya dengan bangga, dan tanpa disadari, ember yang berada di kepalanya jatuh ke tanah, dan semua susu yang telah diperah mengalir tumpah ke tanah, dengan itu hilanglah semua angan-angannya tentang mentega, telur, ayam, baju baru beserta kebanggaannya.
Pesan Moral: Jangan menghitung ayam yang belum menetas.
Kisah ini adalah bagian dari Seri Dongeng Aesop
Aesop adalah seorang pendongeng yang konon hidup 600 tahun sebelum Masehi. Dongeng-dongengnya selalu mengajarkan kebaikan atau kebijakan untuk manusia.
Senin, 06 Juli 2009
Cerpen Pedagang Ikan dan Rajawali
cerpen, cerita pendek, cergam, cerita bergambar, cerita anakCerpen ; Pedagang Ikan dan Rajawali
Orang yang bisa menjalankan kewajiban sendiri, baru dapat mencurahkan kemampuannya. Seperti burung yang terbang di angkasa, bunyi kicauan-nya yang nyaring, jelas dan merdu, menambah dinamika kehidupan alam, inilah kewajiban dan kemampuan mereka.
Ada pun manusia, kewajibannya adalah patuh pada hukum dan disiplin diri, berkelakuan baik, sedangkan kemampuan adalah mengembangkan kecakapan intuitif melayani orang lain. Tetapi ada yang hanya ingin memamerkan kemampuan, namun tidak tahu kewajibannya, tidak mau mematuhi kewajibannya, akibatnya keluar dari prosedur dan melanggar aturan, ini sungguh merupakan hal yang sangat mengerikan!
Alkisah pada suatu masa disebuah desa, hiduplah seorang pemuda yang bermata pencaharian dengan berdagang ikan. Suatu hari seperti biasa dia berjualan ikan di ujung jalan desa, “Ikan…ikan….!” sambil berteriak dan memandang ke sekitar, mungkin ada orang yang akan lewat dan membeli dagangannya. Namun tiba-tiba, WUSS… dari angkasa seekor rajawali menukik ke bawah, dan menyambar seekor ikan dari lapaknya lalu terbang lagi ke angkasa. Dengan sangat marah pedagang ikan itu berteriak lantang “Hai kembalikan ikanku!” sambil berteriak ia mengacung-acungkan kepalan tangannya ke angkasa namun teriakannya sia-sia, ia hanya bisa memandangi rajawali itu terbang semakin jauh dan tinggi dengan sedih.
Sambil berguman, ia berkata, “sayang aku tidak punya sayap, jika punya kau tidak akan kulepaskan!” Sambil ia melangkah lemas.
Ketika dia pulang ke rumah, melewati sebuah Kuil Dicang, ia berlutut di depan kuil, berdo’a memohon pada Bodhisatwa agar menjadikannya seekor burung rajawali, agar bisa terbang ke angkasa. “ Ya Bodhisatwa yang Agung, hamba mohon jadikanlah hamba burung agar bisa terbang ke angkasa.” Sejak saat itu, setiap hari ia lewat Kuil Dicang, dan akan berdo’a dengan sepenuh hati.
Kebiasaan itu diamati oleh sekelompok pemuda yang melihat ia setiap hari berdo’a memohon pada Bodhisatwa, dan dengan rasa penasaran mereka saling membicarakannya, salah satu di antaranya berkata: “Ia berdoa setiap hari agar dapat berubah menjadi seekor rajawali agar dapat terbang ke angkasa.”
Yang lainnya lantas berkata : “Aduh! Betapa tololnya dia, mau berdoa’a sampai kapan? Lebih baik dia kita kerjain!”
Keesokan hari, mereka masuk kuil dan menunggu pedagang ikan itu datang seperti biasanya. Salah satu di antara pemuda itu bersembunyi di belakang patung Bodhisatwa. Tidak lama kemudian, pedagang ikan itu datang, seperti biasa ia sembahyang dan memohon dengan tulus, pemuda yang sembunyi di belakang patung Bodhisatwa berkata: “Kau memohon dengan begitu tulus, aku akan memenuhi keinginanmu, pergilah ke desa dan cari sebuah pohon yang paling tinggi, lalu panjatlah pohon itu.”
Pedagang ikan gembira sekali mengira benar-benar telah mendengar petunjuk Bodhisatwa, kemudian bergegas ke desa dan menemukan sebuah pohon yang paling tinggi, lalu naik ke atas pohon itu. Pohon itu benar-benar tinggi sekali. Makin naik ke atas ia semakin cemas.
Ia memanjat sampai ke puncak pohon, dan begitu melongok kebawah dalam hati ia berkata : ”Wah! Tinggi sekali! Apa benar aku bisa terbang?” Sekelompok pemuda itu datang, mereka sengaja ramai-ramai memperbincangkannya dan berteriak : “Hei!, Coba kalian lihat di atas puncak pohon itu, ada seekor rajawali besar, entah dia bisa terbang atau tidak? Kalau memang rajawali, pasti bisa terbang dong!”
Pedagang ikan itu gembira sekali, dia berpikir: “Ternyata aku telah berubah menjadi seekor Rajawali, kalau memang Rajawali, mana mungkin tidak bisa terbang?” Kemudian ia membentangkan kedua tangannya seperti sayap hendak terbang, ia membayangkan bagaimana seekor burung akan terbang, kemudian ……”UPS!” ia meloncat seperti burung hendak terbang tetapi ia ……WOOOOOO terbang ke bawah.
Tapi, kenapa bukan terbang ke atas, malah merosot jatuh ke bawah? O..ngeri sekali! Namun, sudah terlambat. Dan untung saja, ia terjatuh di antara lumpur dan rumput, hanya mengalami luka kecil.
Pemuda-pemuda itu datang menghampiri, dan mengolok-oloknya “Apa yang kalian tertawakan? Ini karena kedua sayap saya patah, bukannya tidak bisa terbang!” Kata pedagang ikan itu tak tahu malu.
Cerita ini dapat memberi kita moral:
Seseorang harus memenuhi kewajiban pribadinya, baru dapat mencurahkan kemampuannya. Jika hanya ingin mendapatkan kemampuan yang besar, namun tidak mematuhi kewajibannya, tidak tahu diri dan secara membabi buta melakukan hal yang melampaui batas kemampuan diri sendiri, itu sangat berbahaya.
Minggu, 05 Juli 2009
Cerpen Kisah Menjual Babi Sakit
Cerpen Kisah Menjual Babi SakitGongsun Mu hidup pada masa Dinasti Han Timur. Ketika dia masih muda, keluarganya sangat miskin. Dia sangat ambisius, bekerja keras dan belajar Puisi Han. Pada musim semi dan gugur, ia belajar dengan tekun kita-kitab kuno seperti Hetu dan Loushu, terutama cara meramal masa akan datang. Dia juga dikenal sebagai seorang yang jujur dan baik, sehingga disegani orang lain.
Gongsun Mu memelihara babi. Ketika salah satu ekor babinya sakit, ia lalu meminta seseorang untuk menjual babi itu di pasar. Gongsun Mu berkata kepada orang tersebut, ”Jika babi itu ada yang berminat, kamu harus memberitahukan pembelinya kalau babi ini sakit, dan kamu harus menjualnya dengan harga yang murah dan pantas. Jangan menipu orang dan meminta harga yang tinggi.” Saat menawarkan babi, orang tersebut tidak memberitahu pembeli bahwa babi itu sakit dan babi itu dijual dengan harga yang sangat tinggi. Setelah mengetahui kejadian ini, Gongsun Mu segera pergi ke pasar dan mencari pembelinya. Dia memberitahu kepada pembeli itu, ”Babi ini sebenarnya sakit. Saya ingin menjualnya dengan harga rendah. Saya tidak menyangka orang tersebut menjual babi tersebut dengan harga tinggi.” Kemudian dia mengembalikan separuh uang kepada pembeli itu.
Sementera itu, ada seorang kaya-raya yang bernama Wang Zhong. Dia berkata kepada Gongsun Mu, ”Kamu dapat melakukan hal-hal yang hebat kalau kamu mempunyai uang. Saya ingin memberi kamu satu juta koin untuk berbisnis. Apa pendapatmu?” Gongsun Mu telah belajar kitab Hetu, Luoshu dan buku-buku kultivasi lainnya. Dia mengerti hukum langit dan takdir pertemuan. Dia berkata, ”Saya sangat menghargai kebaikanmu! Menjadi kaya atau miskin adalah keputusan langit. Saya akan mendapatkannya jika itu ada dalam kehidupan saya. Saya tidak boleh menerima!”
Karena Gongsun Mu mempunyai kebajikan dan kebijakan, dia direkomendasikan mempunyai “Xiao Lian”. “Xiao Lian” adalah salah satu kriteria untuk menyeleksi pejabat. Xiao bermakna penghormatan dan kasih sayang orang tua; Lian bermakna tidak dapat disuapi. Peraturan dari Pengadilan Kaisar menyatakan bahwa orang yang tidak mempunyai sifat Xiao dan Lian tidak memenuhi syarat menduduki posisi sebagai seorang pejabat.
Sejak itulah Gongsun Mu diangkat sebagai pejabat setelah lulus ujian seleksi. Ketika sebagai seorang pejabat, pencapaiannya menjadi pembicaraan dan dia sangat terkenal karena kebaikannya. Begitu juga kelima anak laki-lakinya terkenal karena kebaikan mereka. Cerita “Gongsun Mu Menjual Babi” menjadi contoh moral selama beberapa ribu tahun dan cerita tersebut membawa sanjungan terhadap kejujuran dan integritas.
Cerpen, cerita pendek, cerita lucu, cerita anak
Sabtu, 04 Juli 2009
Cerpen Keluarga Dua Centong

cerita pendek, cerpen, cerita anak
Cerita ini merupakan kisah nyata yang terjadi di Tiongkok. Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah desa kecil yang sederhana dan indah, namanya desa Tianhui. Disana ada seorang warga yang kaya raya, bermarga Yang. Beberapa generasi keluarga Yang adalah orang baik yang suka menolong orang lain.
Kalau menjumpai bhiksu atau pendeta agama Tao yang minta sedekah, hartawan Yang pasti akan menyajikan banyak lauk-pauk untuk mereka.
Terkadang, tetangga rumah juga datang meminjam bahan pangan padanya. Namun karena tetangganya banyak yang miskin, maka ketika mereka hendak mengembalikan bahan pangan yang dipinjaminya itu, tuan Yang tidak mau menerima. Para tetangga merasa bahwa tuan Yang sudah berbaik hati meminjamkan bahan pangan, itu sudah sangat membantu, mana boleh tidak mengembalikan? Tidak, harus dikembalikan kepadanya.
Lalu hartawan Yang memotong 2 bagian kendi besarnya, sebagian besar dan sebagian lagi kecil. Ketika tetangga datang untuk meminjam bahan pangan, tuan Yang menimbang dengan centong besar, centong demi centong bahan pangan dipinjamkannya kepada tetangga. Pada saat tetangga mengembalikan bahan pangan yang dipinjamnya itu, tuan Yang menimbangnya dengan centong kecil, hanya mengambil sedikit saja.
Waktu berlalu dan lama kelamaan, semua orang menyebutnya “Liang Piaojia” (keluarga 2 centong). Diusianya yang ke-80 musim gugur tahun itu, tanaman gandum juga telah matang, “Liang Piaojia” bermaksud hendak ke ladang untuk melihat sejenak gandumnya. Lalu, dengan terhuyung-huyung ia menopang tongkat pergi ke ladang gandumnya seorang diri. Tiba-tiba, langit tertutup oleh awan hitam, petir bergemuruh di ladang. Melihat keadaan seperti ini, dalam benak “Liang Piaojia” berpikir , “Saya sudah tua, tidak bisa jalan lagi, lebih baik mati disini saja!”
Saat itulah, Liang Piaojia mendengar satu suara keras bergema di ladangnya, “Dewa guntur, dewi petir dan naga laut, kalian dengar baik-baik, “Liang Piaojia” saat ini berada di ladang rumahnya, setitik airpun tidak boleh kalian teteskan di atas gandumnya!”
Setelah lama berlalu, hujan yang disertai petir akhirnya berhenti, “Liang Piaojia” bangun dari atas ladangnya dan begitu melihat, tidak ada setetes airpun membasahi ladang gandum tempat ia berbaring, sedangkan ladang gandum orang lain semuanya terbenam air.
Setelah “Liang Piaojia” pulang ke rumah, ia menceritakan kepada putra-putrinya tentang peristiwa yang dialaminya itu, lantas dengan disertai putra-putrinya mereka berlutut menyembah, memanjatkan puji syukur dan terimakasih atas anugerah Yang Maha Kuasa.
Nah, anak-anak, mengapa kilatan petir tidak sampai melukai hartawan Yang? Sebab seumur hidupnya ia memperlakukan orang dengan baik, selalu memikirkan kepentingan orang lain.
Pada zaman dulu di Tiongkok, orang-orang tahu mengenai prinsip bahwa baik dan jahat ada balasannya, percaya bahwa setiap hal yang dilakukan manusia, baik yang kecil maupun besar, Yang Maha Kuasa selalu melihatnya. Karena itu, semua orang berusaha berbuat hal yang baik, tidak melakukan perbuatan jahat.
Anak-anak, tahukah kalian? Bahwa di masyarakat sekarang juga banyak orang baik seperti “Liang Piaojia”, diantara mereka adalah kakek nenek, paman, bibi dan kakak yang berkultivasi Zhen, Shan, Ren (Sejati, Baik, Sabar), meskipun sekarang mereka mengalami penderitaan, namun, kelak pasti akan mendapat balasan yang baik.
Nah, anak-anak, maukah kalian menjadi anak yang baik, sabar dan membantu orang lain tanpa pamrih?
Rabu, 01 Juli 2009
Cerpen Keledai & Garam Muatanya

Cerpen: Keledai & Garam Muatanya
Seorang pedagang, menuntun keledainya untuk melewati sebuah sungai yang dangkal. Selama ini mereka telah melalui sungai tersebut tanpa pernah mengalami satu pun kecelakaan, tetapi kali ini, keledainya tergelincir dan jatuh ketika mereka berada tepat di tengah-tengah sungai tersebut. Ketika pedagang tersebut akhirnya berhasil membawa keledainya beserta muatannya ke pinggir sungai dengan selamat, kebanyakan dari garam yang dimuat oleh keledai telah meleleh dan larut ke dalam air sungai. Gembira karena merasakan muatannya telah berkurang sehingga beban yang dibawa menjadi lebih ringan, sang Keledai merasa sangat gembira ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka.
Pada hari berikutnya, sang Pedagang kembali membawa muatan garam. Sang Keledai yang mengingat pengalamannya kemarin saat tergelincir di tengah sungai itu, dengan sengaja membiarkan dirinya tergelincir jatuh ke dalam air, dan akhirnya dia bisa mengurangi bebannya kembali dengan cara itu.
Pedagang yang merasa marah, kemudian membawa keledainya tersebut kembali ke pasar, dimana keledai tersebut di muati dengan keranjang-keranjang yang sangat besar dan berisikan spons. Ketika mereka kembali tiba di tengah sungai, sang keledai kembali dengan sengaja menjatuhkan diri, tetapi pada saat pedagang tersebut membawanya ke pinggir sungai, sang keledai menjadi sangat tidak nyaman karena harus dengan terpaksa menyeret dirinya pulang kerumah dengan beban yang sepuluh kali lipat lebih berat dari sebelumnya akibat spons yang dimuatnya menyerap air sungai.
Pesanku: Cara yang sama tidak cocok digunakan untuk segala situasi.
Cerpen Pentingnya Belajar dengan Baik

Cerpen: Pentingnya Belajar dengan Baik
Ada seorang guru privat, dia menempuh perjalanan seorang diri di tengah malam, tiba-tiba menjumpai teman yang sudah meninggal. Karena biasanya dia bernyali besar, maka diapun tidak takut.
Dengan kemauan sendiri dia bertanya kepada temannya yang sudah meninggal ini, "Anda sekarang ini hendak kemana ?"
Temannya menjawab, "Saya sekarang menjadi petugas di alam baka, sekarang hendak pergi menangani urusan di selatan desa, kebetulan kita berdua searah."
Guru privat ini lalu berjalan bersama temannya, ketika melewati sebuah rumah lama, petugas alam baka itu berkata, "Di dalam rumah ini tinggal seorang terpelajar yang berbudi luhur dan berwibawa tinggi!"
Guru swasta itu lalu bertanya, "Bagaimana Anda bisa mengetahui bahwa didalam rumah ini tinggal seorang terpelajar yang berbudi luhur dan berwibawa tinggi?"
Petugas alam baka itu menjawab, "Orang yang masih hidup, pada pagi hari karena sibuk dengan urusannya, maka intelijensinya tertutupi. Sampai pada malam hari ketika dia tidur, dan tidak berpikiran apa pun, maka Yuanshen-nya (jiwa primanya) akan nampak keluar."
"Jika dia biasa membaca buku yang baik, seperti Lun Yu dari Kong Zi, Li Sao dari Qu Yuan, Shi Ji dari Si Ma Qian dan lain-lain, maka setiap huruf yang memancarkan cahaya, akan memancar keluar dari ratusan titik akupunktur, beraneka warna dan indah cemerlang."
"Yang paling tinggi bisa berebut kilau dengan bulan dan bintang. Yang agak kurang, cahayanya bisa mencapai beberapa puluhan meter. Lebih rendah lagi, cahayanya bisa mencapai beberapa meter."
"Menurut urutan, yang paling rendah, sinar cahayanya kecil bagaikan sinar dari kunang-kunang atau lampu kecil, hanya menerangi ruangan. Pemandangan seperti ini, tidak bisa terlihat oleh orang biasa, tetapi hantu dan dewa bisa melihatnya."
Guru privat ini bertanya lagi kepada temannya, "Saya membaca buku sudah selama hampir lima puluh tahun, ketika saya tidur nyenyak pancaran sinar saya seberapa tinggi?"
Petugas alam baka tersebut agak ragu sejenak, lalu dia menjawab, "Saya kemarin lewat di depan rumahmu, Anda sedang tidur siang. Anda membaca buku memang sangat banyak tetapi yang bermutu sangat sedikit. Kebanyakan buku-buku yang Anda baca adalah jenis-jenis buku yang sesuai zaman, yang hanya untuk mencari keuntungan pribadi serta buku-buku hobi yang melemahkan tekad untuk maju."
"Setiap huruf-hurufnya berubah menjadi asap hitam, menyelubungi rumah, seperti di dalam kabut awan yang tebal, sama sekali tidak terlihat sinar cahayanya."
Setelah mendengar kata-kata ini, guru privat itu bukannya memeriksa diri dengan penuh kerendahan hati, sebaliknya dia dengan murka mencela temannya itu.
Petugas alam baka itu tidak hendak bertengkar dengan dia, ia hanya tertawa dan menghilang.
Otak manusia sama seperti sebuah penampung, bila ke dalamnya diisi oleh benda apa, maka ia akan menjadi benda itu. Karena itu harus selektif dalam membaca buku maupun menonton film. Usahakan banyak membaca buku-buku yang baik, dan jangan membaca buku-buku yang tidak baik serta yang tidak bermanfaat. Juga jangan menonton film-film yang penuh kekerasan dan yang tidak mendidik .
Untuk menjaga kemurnian jiwa dan pikiran, maka banyak membaca buku yang baik dipercaya dapat melenyapkan karma (dosa), dan menambah substansi putih (de, = pahala) pada diri kita. Orang tersebut juga akan berubah menjadi orang yang berbudi luhur. Jika dipandang dari dimensi lain, maka orang tersebut akan memancarkan cahaya yang luar biasa.
Jika terlalu banyak membaca buku yang tidak baik, maka benda-benda tidak baik juga akan banyak terisi ke dalam otak, dan orang tersebut juga akan berubah menjadi orang jahat.
Orang yang mempunyai kemampuan (mata ketiganya terbuka), maka ia dapat melihat pancaran yang dikeluarkan oleh orang tersebut adalah hawa hitam pekat yang jahat. Tentu tidak ada ruginya bila kita waspada.
Kamis, 25 Juni 2009
Cerpen Reparasi

Cerita pendek Reparasi
Di sebuah jalan raya yang ramai, banyak orang lalu lalang. Hari ini Dede datang ke tengah kota bersama ibunya, mereka berdua terpesona dengan suasana keramaian jalan tersebut. Di tempat yang ramai ini, para pedagang sibuk melayani pelanggan mereka masing masing. Di antara suasana jalan yang sangat sibuk itu, tampak seorang paman sedang asyik memperbaiki barang barang elektronik di sampingnya. Dede dengan antusias mendekati paman itu, tak lama kemudian Dede bertanya, ”Paman, bolehkah saya mengetahui apa yang sedang paman lakukan?”
Sang paman itu melihat sebentar kearah Dede dan berkata sambil tersenyum melihat wajah Dede yang sangat penasaran itu, ”Oh, paman sedang memperbaiki barang-barang elektronik ini”. Si Dede kembali bertanya, ”Ada apa dengan barang-barang elektronik ini? Mengapa harus paman perbaiki?”
Lalu paman itu menghentikan pekerjaannya dan sambil tersenyum ramah menjelaskan, ”Barang-barang elektronik ini adalah milik pelanggan yang ingin diperbaiki. Mereka ingin memberikan kesempatan sekali lagi kepada barang-barang elektronik ini untuk menjalankan tugasnya. Namun jika barang-barang ini dipergunakan agak lama, akan ada sebagian onderdilnya yang sudah aus dan rusak sehingga harus diperbaiki atau diganti dengan yang baru. Nah kalau sudah diperbaiki begini, mungkin akan dapat berfungsi seperti sedia kala tanpa harus membuangnya.”
Dede setelah mendengar perkataan sang paman, dia lalu berpikir sejenak kemudian menolehkan kepala kepada ibunya yang berdiri di samping Dede dan bertanya, ”Mama…apakah manusia juga perlu direparasi?” Ibunya tersenyum bijak dan membelai kepala Dede, ” Kalau seseorang terlalu banyak berbuat hal yang buruk dan memiliki konsep pikiran yang tidak betul, maka dia juga perlu direparasi, akan tetapi kalau mau memperbaiki perilaku dan konsep pikiran kita, itu namanya bukan reparasi (xiu li) tapi disebut kultivasi (xiu lian).” Si Dede pun menganggukkan kepala tanda mengerti. Ada sebuah syair bijak berbunyi:
Tujuan kultivasi adalah,
Kembali ke jati diri yang asli
Kembali ke asal diri sendiri,
Kepada karakter alam semesta yang paling murni,
Kembali ke sifat dasar manusia Sejati Baik Sabar.
Cerpen Dalam Cobaan Iblis

Cerita Dalam cobaan Iblis
Zaman dulu kala, hiduplah seorang yang baik hati yang sangat kaya raya dan punya banyak budak untuk melayaninya. Para budak itu sangat membanggakan tuannya sambil berkata,” Tidak ada tuan yang lebih baik daripada tuan kita di dunia ini. Dia memberi makan kita dengan baik, memberi kita pakaian yang bagus, pekerjaan yang sesuai kemampuan kita. Dia tidak pernah memarahi kita atau bertindak kasar pada kita. Dia tidak seperti majikan-majikan lain, yang memperlakukan budak-budaknya dengan buruk, menghukum mereka tanpa mau tahu siapa yang salah dan tidak pernah bersikap ramah. Kita sudah hidup sangat baik, tidak ada yang sebaik ini.”
Mendengar hal itu, iblis ingin mengacau hubungan yang harmonis antara mereka. Lalu iblis menculik salah seorang budak bernama Aleb. Dia memerintahkan Aleb untuk menggoda budak-budak lain dengan rayuannya. Suatu hari, saat mereka sedang duduk istirahat dan membicarakan kebaikan tuan mereka, Aleb tiba-tiba berkata, :
“Sungguh bodoh kalian ini. Bahkan iblis juga akan baik pada kita, bila kita melakukan apa yang dimintanya. Selama ini kita khan melakukan apa yang diminta majikan kita dengan baik. Coba sekali-kali kita lakukan dengan buruk, lihat bagaimana sikapnya pada kita.”
Budak lain tidak setuju dengan apa yang Aleb katakan dan kemudian menantang Aleb taruhan untuk membuat tuannya marah. Aleb menerimanya. Syaratnya: bila ia gagal, ia akan kehilangan hari libur, namun bila dia sukses, budak lain akan memberikan jatah liburnya. Budak-budak lain bahkan berjanji untuk mendukung Aleb, dan melepaskannya bila ia dirantai atau dihukum kurung oleh tuannya. Setuju dengan taruhan itu, Aleb siap membuat tuannya marah besok.
Abel adalah gembala domba, yang bertanggungjawab mengurus domba ras yang terbaik dan bernilai tinggi yang sangat dibanggakan tuannya. Keesokan paginya, saat tuannya mengantarkan beberapa tamu melihat domba ras tersebut, Aleb mengerdipkan mata ke teman-temannya seolah-olah berkata, “Lihat, saya akan membuatnya marah.”
Budak-budak lain berkumpul di dekat pagar untuk menonton, sementara iblis memanjat pohon di dekat kandang untuk menyaksikan Abel beraksi. Tuannya mendekat ke kandang bersama tamu-tamunya, mempertunjukkan domba-dombanya sambil berkata, “Semua domba di peternakan ini bagus kualitasnya. Saya juga punya satu yang istimewa, domba dengan tanduk bergelung sempurna, yang sangat langka, itu….yang sedang berdiri di paling depan.”
Tiba-tiba Aleb dengan sengaja mengagetkan kumpulan domba itu sehingga mereka saling terpencar, membuat para tamu sulit menemukan mana yang dimaksud domba langka berharga tersebut. Tuannya juga mulai pusing melihat domba-domba itu panik dan berputar-putar.
Ia lalu berkata kepada Aleb, “Aleb, tolong tangkapkan domba terbaik kita, yang mempunyai tanduk tergelung sempurna. Tangkap dia secara hati-hati, dan pegang dia selama beberapa menit.”
Aleb berlari kencang ke kerumunan domba bagaikan seekor singa lapar, menangkap domba berharga itu, mematahkan kaki kanannya, membantingnya ke tanah bagaikan ranting patah. Tuan, Para tamu dan budak lain sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Aleb. Iblis yang berdiri di atas pohon meloncat loncat kegirangan, dan hal ini terlihat oleh sang majikan. Majikannya mengerutkan dahi, tidak mengucapkan sepatah katapun. Para tamu dan para budak juga terdiam, menunggu sesuatu terjadi. Apakah majikan akan marah? Beberapa lama terdiam, tuan menggeleng gelengkan kepalanya dengan kencang seolah-olah melepaskan sebuah beban berat. Lalu ia mengangkat kepalanya, menarik nafas panjang sambil memandang langit. Kerutan-kerutan di wajahnya perlahan menghilang dan dengan senyuman ia berkata kepada Aleb:
“Oh Aleb, Saya tahu iblis menyuruh kamu untuk membuat saya marah. Namun, Tuhan saya lebih kuat daripada dia. Saya tidak marah kepadamu. Kamu takut saya akan menghukummu, sebaliknya, saya akan membebaskanmu dari menjadi budak. Pergilah kemanapun kamu suka.”
Kemudian tuan ini dengan tamu-tamunya kembali ke rumah, dan iblis di atas pohon, menggertakan giginya, jatuh ke tanah dan lenyap.
Rabu, 24 Juni 2009
Rusa Sembilan Warna

Cerita pendek Rusa Sembilan Warna
Pada zaman dahulu kala, di pinggir sungai Heng tinggal seekor Rusa yang lain dari yang lain, bulu ditubuhnya memiliki 9 warna. Pada suatu hari, di atas sungai itu tiba-tiba terdengar suara teriakan “Tolong!tolong!”, ternyata seseorang jatuh ke dalam sungai. Rusa 9 warna mendengar teriakan orang itu, lalu tanpa memikirkan keselamatan sendiri, Rusa itu meloncat ke sungai, berenang ke samping orang itu untuk menolongnya. Rusa 9 warna berkata pada orang itu: “Cepat naik ke atas punggung dan pegang erat tandukku”.
Demikian Rusa 9 warna menyelamatkan orang itu. Orang itu terus berkata pada Rusa 9 warna, “Terimakasih telah menyelamatkan saya, bagaimana saya harus membalas budimu ini?” Rusa 9 warna menggeleng-gelengkan kepala dan dengan lirih berkata, “Saya menolongmu, bukan ingin mendapat imbalan, asalkan kamu tidak menceritakan tentang peristiwa ini kepada orang lain, itu sudah cukup bagiku. Setelah itu, Rusa 9 warna membiarkan orang itu pergi.
Beberapa hari kemudian, Raja megumumkan pemberitahuan kepada seluruh rakyat di negerinya, “Bagi siapa yang dapat membantu raja menangkap Rusa 9 warna, akan diberikan hadiah!”
Setelah kembali ke kota, orang itu mengetahui raja sedang menawarkan hadiah besar bagi orang yang dapat menangkap Rusa 9 warna. Namun, tidak ada seorangpun yang pernah bertemu dengan Rusa 9 warna, apalagi mengetahui dimana keberadaan Rusa 9 warna itu. Dalam benak orang itu berpikir, “Kesempatan saya untuk menjadi kaya akhirnya datang juga.”
Lalu, orang itu datang menemui raja, meminta raja membawa serta prajurit untuk ikut bersama dengannya menangkap Rusa 9 warna itu. Pada saat itu, Rusa 9 warna sedang tidur nyenyak di pinggir sungai, burung kecil yang telah mengetahui hal itu segera memberi kabar, “Celaka, celaka, raja membawa prajuritnya datang menangkapmu, cepat tinggalkan tempat ini!saya tidak akan kabur.” Namun Rusa itu ingin mengatakan sesuatu kepada raja. Rusa 9 warna bertanya, “Baginda, siapakah yang memberitahu anda, saya berada disini?” Raja menunjuk orang itu, dan mengatakan: Dia. Rusa 9 warna menatapi orang itu, dan dengan menitikkan air mata berkata, “Saya tidak mempedulikan segala resiko untuk menyelamatkanmu dari dalam sungai, tetapi, kamu malah membawa orang datang menangkapku.”
Mengetahui keadaan demikian, lantas raja memerintahkan prajuritnya supaya jangan memanah Rusa 9 warna, bahkan mulai hari ini melarang siapapun menangkap Rusa 9 warna. Begitu mendengar raja berkata demikian, saking panik dan gugupnya orang itu mundur ke belakang, sehingga terpeleset dan akhirnya mati tenggelam jatuh ke dalam sungai.
Tanpa peduli dengan segala resiko dan keselamatan diri sendiri, Rusa 9 warna menolong orang, namun, orang yang telah ditolong oleh Rusa 9 warna itu mengingkari janjinya, demi untuk mendapatkan hadiah uang lalu mengkhianati Rusa 9 warna yang telah berbudi terhadap dirinya. Karena dia telah berbuat jahat, akhirnya mendapat balasan mati tenggelam ke dalam sungai
Anak-anak, kalian jangan meniru orang jahat yang tidak bisa dipercaya dan lupa balas budi, ya. Kalian harus meneladani keberanian dan kebaikan Rusa 9 warna, juga paman bibi dan kakak-kakak di sekitar kalian yang menempa diri dalam sejati, baik, sabar, jadilah orang yang lebih baik yang selalu memikirkan orang lain. Anak-anak, jika kalian benar-benar bisa berbuat jujur, baik, toleransi dan menjalin tali kasih persaudaraan, maka guru maupun orang tua kalian pasti akan sangat gembira.
Selasa, 23 Juni 2009
Cerita Jaka Gembala dan Putri Tenun

Jaka Gembala dan Putri Tenun
Putri Tenun tinggal di ujung timur bimasakti, ia adalah putri bungsu kekaisaran langit, karena sangat mahir menenun, jadi semua orang memanggilnya “Putri Tenun”.
Setiap hari dengan tekun dan sibuk Putri Tenun selalu menenun kain. Pagi hari, ia menenun bumi dengan berlaksa-laksa berkas sinar mentari; siang hari, ia menenun langit cerah tanpa awan yang berarak; senja hari, ia menenun matahari senja yang berawan kemerah-merahan; malam hari, ia sibuk menghiasi langit bertabur bintang yang berkelap-kelip di atas kain.
Ia bekerja dengan susah payah setiap hari, namun ia sangat kesepian, karena itu selalu berkeluh-kesah, tidak bahagia. Di ujung barat bimasakti ada seorang jejaka yang menggembalakan sapi, pekerjaannya adalah memelihara sapi di langit. Ia memberi makan sekelompok sapi dengan rumput segar dan memandikannya, pekerjaannya setiap hari banyak sekali. Tetapi Jaka Gembala, demikian dia dipanggil adalah seorang pemuda yang jujur dan rajin, ia bekerja dengan tekun setiap hari, sapi-sapi di langit itu dipeliharanya dengan baik sehingga menjadi gemuk dan sehat, Kaisar Langit sangat mengaguminya.
Suatu hari, Kaisar Langit memanggil dan mempertemukan Jaka Gembala dan Putri Tenun.
“Putri Tenun, saya lihat kamu bekerja dengan susah payah setiap hari, tetapi selalu tidak gembira. Usiamu juga sudah tidak kecil lagi, saya bermaksud menjodohkanmu dengan Jaka Gembala, tidak tahu apakah kamu bersedia atau tidak?” demikian tanya Kaisar Langit pada Putri Tenun.
Putri Tenun tahu, bahwa Jaka Gembala adalah seorang pemuda yang jujur dan bertanggung jawab, ia lantas berkata: ”Segalanya diserahkan pada paduka untuk memutuskan.” Seusai berkata, dengan malu-malu ia menundukkan kepalanya. Mengetahui hal ini, Kaisar Langit sangat gembira, lantas berkata: “Jaka Gembala, saya paling menyayangi putri bungsu ini, dapat dikatakan ia pandai dalam berbagai hal. Dan saya lihat, kamu juga seorang pemuda yang berprestasi, sekarang saya akan menjodohkan sang putri denganmu, apakah kamu bersedia?”
Jaka Gembala memandang putri tenun, dan menilai ia adalah seorang gadis yang manis dan lembut, lalu dengan gembira menyetujuinya.
Sejak itu, Jaka Gembala dan Putri Tenun hidup bahagia dan saling mencintai. Mereka sering saling bergandeng tangan, berjalan-jalan di langit, menikmati pemandangan. Hidup bersama dengan Jaka Gembala, Putri Tenun selalu merasakan sesuatu yang baru dan menarik, sebab dulu ia tidak pernah ke luar rumah dan berjalan-jalan. Ia sibuk bekerja setiap hari, sama sekali tidak mungkin ada kesempatan untuk istirahat.
Begitu juga dengan Jaka Gembala, dulu karena harus menggembalakan sapi, jadi setiap kali hanya bisa berada di padang rumput, kini ada Putri Tenun yang menemani, bermain bersama dan berkeliling ke mana saja, benar-benar bahagia sekali.
Namun mereka berdua lupa akan pekerjaannya masing-masing. Putri Tenun lupa menenun, akibatnya terlihat sehamparan kosong di langit, tidak ada lagi warna langit yang indah; sedangkan Jaka Gembala lupa menggembalakan sapinya, akibatnya sapi di langit berkeliaran tidak menentu, sehingga membuat kerajaan langit menjadi kacau berantakan. Dengan marah, Kaisar Langit berkata pada mereka: “Kalian berdua benar-benar membuat saya sangat kecewa, sepanjang hari kerjanya main dan main saja, sehingga mengabaikan pekerjaan masing-masing, saya memutuskan akan menghukum kalian. Mulai hari ini, kalian kembali ke tempat kerja masing-masing. Dan baru boleh bertemu tiap tanggal 7 Juli setiap tahun, terkecuali hari yang disebutkan ini, tidak boleh bertemu. Jika kalian melanggar perintah, maka kalian akan dihukum mati.”
Sejak itu, Jaka Gembala dan Putri Tenun terpaksa bekerja sambil dengan sabar menanggung derita kerinduan hanya mengharapkan datangnya 7 Juli itu. Dan karena sangat menaruh simpati dengan derita yang dialami Jaka Gembala dan Putri Tenun, lalu tepat pada 7 Juli, si murai membuat sebuah jembatan untuk mereka agar supaya bisa bertemu di atas jembatan untuk saling mengutarakan derita kerinduan mereka.
Jumat, 19 Juni 2009
Anak Kambing dan Srigala

cerita dongeng, cerita anak - anak, cerita budi pekerti
Seekor anak kambing yang sangat lincah telah ditinggalkan oleh penggembalanya di atas atap jerami kandang untuk menghindari anak kambing itu dari bahaya. Anak kambing itu mencari rumput di pinggir atap, dan saat itu dia melihat seekor serigala dan memandang serigala itu dengan raut muka yang penuh dengan ejekan dan dengan perasaan yang penuh kemenangan, dia mulai mengejek serigala tersebut, walaupun pada saat itu dia tidak ingin mengejek sang Serigala, tetapi karena dia merasa serigala tersebut tidak akan dapat naik ke atas atap dan menangkapnya, timbullah keberaniannya untuk mengejek.
Serigala itupun menatap anak kambing itu dari bawah, "Saya mendengarmu," kata sang Serigala, "dan saya tidak mendendam pada apa yang kamu katakan atau kamu lakukan ketika kamu diatas sana, karena itu adalah atap yang berbicara dan bukan kamu."
Jangan kamu berkata sesuatu yang tidak kamu ingin katakan terus menerus
