Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Oktober 2009

Semut dan Belalang

Cerita Pendek Semut dan Belalang

Pada siang hari di akhir musim gugur, satu keluarga semut yang telah bekerja keras sepanjang musim panas untuk mengumpulkan makanan, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan selama musim panas. Saat itu seekor belalang yang kelaparan, dengan sebuah biola di tangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makan untuk dirinya.

"Apa!" teriak sang Semut dengan terkejut, "tidakkah kamu telah mengumpulkan dan menyiapkan makanan untuk musim dingin yang akan datang ini? Selama ini apa saja yang kamu lakukan sepanjang musim panas?"

"Saya tidak mempunyai waktu untuk mengumpulkan makanan," keluh sang Belalang; "Saya sangat sibuk membuat lagu, dan sebelum saya sadari, musim panas pun telah berlalu."

Semut tersebut kemudian mengangkat bahunya karena merasa gusar.

"Membuat lagu katamu ya?" kata sang Semut, "Baiklah, sekarang setelah lagu tersebut telah kamu selesaikan pada musim panas, sekarang saatnya kamu menari!" Kemudian semut-semut tersebut membalikkan badan dan melanjutkan pekerjaan mereka.

Jumat, 11 September 2009

Dewi Kecil dan Kunang-kunang


Peristiwa ini terjadi sudah sangat lama sekali, di pinggiran sebidang hutan yang luas bermukim satu keluarga petani, seorang petani dan istrinya. Mereka adalah orang-orang yang baik hati juga rajin. Maka itu, dalam sekian tahun ini mereka tidak pernah kekurangan sandang pangan, selalu dalam kehidupan tanpa rasa khawatir sedikit pun, tetapi dalam hidup mereka selalu merasakan seperti kekurangan sesuatu, membuat mereka merasa hati kurang mantap. Ternyata, mereka sampai saat itu masih belum mempunyai satu orang anak pun. Cita-cita mereka yang paling besar saat itu adalah mempunyai seorang anak, supaya bisa mencurahkan seluruh hatinya untuk mencintai si kecil ini.

Pada malam hari itu juga, sewaktu dua orang tua itu sedang siap tidur. Mereka berdua sama seperti biasanya berkata pada diri sendiri: "Hai, bila kami bisa mempunyai seorang anak yang bisa bernyanyi, berlompat-lompat alangkah baiknya! Kami begitu ingin mempunyai seorang anak." Ketika mereka dengan suara rendah meracau, tiba-tiba di dekat rumah mereka muncul sebuah sorotan cahaya yang aneh, sinar cahaya ini menerangi seluruh hutan. Pemandangan ini membuat mereka tercengang, seumur hidup mereka tinggal di sini tidak pernah melihat fenomena tersebut. "Wah, apa yang terjadi?"

Lalu mereka memutuskan untuk keluar rumah melihat apa sesungguhnya yang terjadi. Ketika menelusuri cahaya tersebut, dengan cepat ketahuan di tengah cahaya cemerlang berdiri seorang gadis kecil yang cantik. Si gadis ini sungguh cantik sekali, ia mengenakan setelan rok dan blus berwarna putih dan bersih, wajahnya bagaikan rembulan terang yang jernih dan bersinar. Di bawah selubung sinar bintang dan bulan, seluruh tubuh memancarkan cahaya putih perak. Sepasang suami-istri lansia ini tidak pernah menemui gadis secantik ini, sungguh tidak berani mempercayai mata diri sendiri!.

Tiba-tiba melihat si gadis itu berjalan perlahan-lahan hingga di depan mereka, dengan suara lembut berkata: "Saya adalah putri dari dewi surga. Saya di surga bisa melihat kehidupan kalian sehari-hari, saya tahu kalian sedang berbuat apa dan memikirkan apa saja. Saya tahu kalian adalah orang yang baik hati, jujur dan rajin, hanya keinginan mempunyai anak sudah sedemikian lama belum bisa terwujud. Saya terharu oleh ketulusan hati kalian, dengan diam-diam saya meninggalkan surga ingin menjadi putri kalian untuk satu jangka waktu." Petani tua dan istri setelah mendengarnya, masih belum percaya. "Ini apakah benar? Cita-cita kami ingin mempunyai seorang anak apakah benar telah tercapai? Lagi pula adalah seorang gadis dari surga yang begitu cantik dan menakjubkan. Apakah bukan mata sudah kabur?"

Saat itu si dewi kecil lebih mendekat lagi, "Ini benar, mata Anda tidak kabur, sekarang mari kita bersama-sama pulang." Si petani dan istri setelah mendengar perkataan dewi kecil luar biasa senangnya. Mereka dengan riang gembira membawa dewi kecil pulang. Sejak itu, istri petani setiap hari menyiapkan makanan yang lezat untuk dewi kecil, juga sering menjahit pakaian bercorak yang cantik untuknya. Mereka bersama-sama bermain dan bernyanyi. Setiap malam, istri petani duduk di samping ranjang dewi kecil membacakan buku dan menceritakan banyak dongengan yang menarik, sampai dewi kecil tertidur.

Siang hari mereka menanam bunga di taman bunga, saat musim semi tiba, taman bunga penuh dengan bunga segar yang indah cemerlang. Sejak itu, dewi kecil, petani dan istrinya hidup bahagia bersama melewatkan hari-hari dengan penuh gembira dan bahagia. Karena dewi kecil cerdas dan manis, hatinya sangat baik dan jujur, oleh sebab itu orang-orang yang tinggal di sekitarnya sangat menyukainya, terutama anak-anak semuanya senang berteman dengannya. Anak-anak mengajarkan dia nyanyian dan dendang, dan dia menyanyikan lagu-lagu yang merdu dari atas langit sana, juga menceritakan kepada mereka keajaiban dan keindahan langit. Karena ketulusan dan kebaikan hatinya, terhadap siapa pun dia selalu sangat baik, juga suka menolong siapa saja yang ditemuinya.

Hal itu berlangsung selama beberapa tahun. Hingga pada suatu hari, petani dan istrinya tiba-tiba menemukan setiap malam hari tiba, dewi kecil menjadi sangat diam. Dia selalu seorang diri duduk di undakan depan rumah menengadah langit malam. Petani dan istrinya sangat mengkhawatirkannya. Akhirnya pada suatu hari, dia berkata pada petani dan istrinya, "Beberapa tahun ini saya hidup bersama kalian merasa sangat gembira, tapi itu di luar sepengetahuan ibuku. Saya dari surga diam-diam turun kemari, hal ini di atas langit adalah tidak diperbolehkan. Sekarang ibu telah menemukan saya, saya sudah tidak bisa bersama kalian lagi, besok ibu akan menjemput saya pulang ke rumah di atas langit."

Petani dan istrinya sepertinya sudah menduga semuanya ini: Si dewi kecil adalah dewi, mana mungkin selamanya hidup bersama mereka? Tetapi begitu mendengar dewi kecil akan meninggalkan mereka, sungguh tidak tega melepaskannya, merasa datangnya terlalu dini, terlalu cepat! Mereka bertiga sama-sama merasa sangat sedih.

Dua hari kemudian bulan muncul di langit yang gelap, cahaya sinar berwarna putih perak bagaikan jembatan langit dari surga lurus menembus ke bawah, langsung menuju rumah kecil yang ditinggali dewi kecil. Si dewi kecil kaget terbangun oleh cahaya terang tersebut, dia memandang ke luar jendela mengikuti arah cahaya, di tengah cahaya terlihat ada seorang dewi perlahan-lahan turun ke bawah. Dewi kecil mengerti inilah saatnya ibu membawa dia pulang ke surga. Dia lalu memegang tangan ibunya bersama-sama terbang menuju ke "rumah" mereka yang sesungguhnya.

Karena dewi kecil sangat mencintai petani dan istrinya, dia dengan berat hati menjatuhkan selayang pandang yang terakhir ke bumi. Butiran air mata gemerlapan di wajahnya, dia sangat mengharapkan mereka bisa mengetahui, bahwa dia sangat mencintai mereka! Sebagian jiwanya telah menyatu selamanya dengan mereka! Saat itu terjadilah keajaiban, air mata dewi kecil seperti tumbuh sayap, berterbangan turun ke bawah. Mereka memantulkan cahaya, tiba-tiba semua berubah menjadi kunang-kunang yang indah. Dewi kecil mengetahui, mulai saat itu, setiap kali petani dan istrinya melihat kunang-kunang berterbangan di sekitar rumah mereka, bisa mengingatkan mereka betapa bahagianya masa-masa hidup bersama dengan dirinya.

Dia berharap kunang-kunang yang indah ini bisa membawakan keajaiban bagi kehidupan semua orang. Inilah sebabnya mengapa orang sekarang setiap melihat kunang-kunang, dalam hatinya bisa diliputi rasa cinta dan rasa menakjubkan.

Kamis, 03 September 2009

Manusia yang Memahami Bahasa Burung

Pada zaman dahulu, ada seorang pelajar yang miskin, namanya Gong Ye Chang. Ia memiliki sebuah bakat yang tidak dimiliki orang lain, yaitu bisa memahami bahasa burung.

Duduk di bawah rindangnya pohon, adalah kebiasaan yang dilakukan oleh Gong Ye Chang setiap merasa lelah sehabis belajar. Sambil istirahat menikmati suasana angin yang sepoi-sepoi, ia dengan tenang mendengarkan burung kepodang bernyanyi, burung gereja mempergunjingkan temannya, bahkan ocehan cicak yang banyak mengandung informasi, tentang di mana tempat bermain yang menyenangkan dan tempat yang ada makanan enak, terkadang juga mendengar burung gagak mencaci maki yang lain, atau pertengkaran mulut suami-istri burung kenari benar-benar sangat menarik. Acap kali ia terpukau mendengarnya, dan begitu duduk bisa seharian. Orang lain mengira ia sedang melamun!

Suatu hari, ketika Gong Ye Chang sedang siap membuat masakan di dapur, mendapati di dalam tempayan tidak ada sebutir beras pun, dan ketika sedang risau, seekor murai terbang di luar jendela, dan bertengger di atas sebuah pohon, lalu berkata: "Gong Ye Chang, Gong Ye Chang, di balik gunung ada seekor domba gemuk, kamu makan dagingnya, biar saya makan ususnya!"

Setelah Gong Ye Chang mendengarnya, tidak begitu yakin dengan ucapan murai yang nakal, mengira murai sedang mempermainkan dirinya, maka sama sekali tidak peduli. Setelah murai menunggu sejenak, dan melihat Gong Ye Chang tidak memberikan reaksi sedikit pun, lalu kembali berteriak nyaring: "Gong Ye Chang, Gong Ye Chang, di balik gunung ada seekor domba gemuk, kamu makan dagingnya, biar saya makan ususnya!"

Akhirnya Gong Ye Chang berpikir, karena tidak ada beras untuk menanak nasi juga, lebih baik melihat dulu apakah memang benar atau bohong perkataan murai itu, maka pergilah ia ke sana. Burung murai terbang di depan menunjuk jalan, dan tidak lama kemudian tibalah di balik gunung itu.

Begitu Gong Ye Chang melihat ternyata memang benar ada seekor domba gemuk yang terluka, dan mati di sana. Dengan gembira ia berkata pada murai: "Kamu benar-benar tidak membohongi saya! Dan saya pasti akan menyisakan ususnya untukmu!" Kemudian dengan menguras seluruh tenaga dibawalah domba gemuk itu pulang ke rumah.

Dengan menggunakan parang, Gong Ye Chang mengiris sepotong-potong daging domba di dapur, burung murai berteriak lagi dengan suara nyaring: "Kamu makan dagingnya, biar saya makan ususnya!" Dengan kesal Gong Ye Chang berkata: "Ya, ya, kamu pergi dulu ke tempat lain, nanti setelah kamu kembali sudah ada usus yang disediakan untukmu!" Setelah burung murai mendengarnya, lalu dengan ceria terbang dan pergi dari sana.

Gong Ye Chang membuat semenu makanan siang yang lezat dari daging domba, dan benar-benar nikmat rasanya. Ia menganggap usus domba menjijikkan, dan lupa semestinya disisakan untuk diberikan pada murai, lantas membuang seluruh ususnya ke sungai. Tidak lama kemudian, burung murai terbang kembali, dan Gong Ye Chang baru ingat semestinya menyisakan usus domba untuk burung murai. Ia segera bergegas pergi ke sungai, namun usus-usus itu sudah menghilang entah ke mana. Dan dengan terpaksa Gong Ye Chang berkata pada burung murai: "Maaf ya, saya sudah membuang usus itu, dan saya benar-benar minta maaf!" Dengan amarahnya burung murai terbang pergi meninggalkannya, dan Gong Ye Chang juga tidak begitu peduli, maka perlahan-lahan lupa akan hal itu.

Musim dingin telah tiba, dan telah beberapa hari secara berturut-turut turun salju lebat, pada hari itu salju telah berhenti, tiba-tiba Gong Ye Chang mendengar ada suara sedang berteriak di luar dapur: "Gong Ye Chang, Gong Ye Chang, di balik gunung ada seekor domba gemuk, kamu makan daging, biar saya makan ususnya!" Begitu ia menyembulkan kepala dan melihat, ternyata lagi-lagi burung murai tempo hari sedang berkata padanya di atas pohon.

Gong Ye Chang sangat gembira, ada lagi daging domba ynag bisa dinikmatinya, lalu segera bergegas mengikuti burung murai pergi ke gunung. Namun, kali ini yang terbaring di puncak gunung bukan lagi seekor domba gemuk, melainkan orang yang mati beku kedinginan. Gong Ye Chang tahu ia telah ditipu oleh murai, sangat marah, namun sejak dini burung murai telah pergi. Ia melihat orang itu sudah tidak bernapas, apa daya, mau tidak mau ia pulang ke rumah.

Sore hari, tiba-tiba dua orang dari pengadilan pergi ke rumah Gong Ye Chang, menangkap dan membawanya pergi. Karena ada orang menemukan orang mati itu di balik gunung, dan ada yang melihat Gong Ye Chang seorang diri pergi ke gunung, lalu turun lagi, karenanya pejabat kabupaten menganggap bahwa orang yang mati di balik gunung itu dicelakai oleh Gong Ye Chang.

Gong Ye Chang membela diri dengan mengatakan: "Ketika saya ke sana, orang itu telah mati!"

Dengan marah pejabat kabupaten mengatakan: "Di musim salju yang lebat, apa yang kamu lakukan di atas gunung sana? Apalagi hanya ada jejak kakimu di atas gunung itu, jika bukan kamu yang mencelakai, lalu siapa?"

Gong Ye Chang tidak berdaya, terpaksa secara terperinci menceritakan pada pejabat kabupaten mengenai perkataan si burung murai, namun pejabat kabupaten sama sekali tidak percaya, ia menggebrak meja dan berkata: "Mana ada orang yang mengerti perkataan burung? Saya telah hidup setua ini, sama sekali tidak pernah mendengar ada hal demikian!" Lalu, pejabat kabupaten memenjarakan Gong Ye Chang.

Gong Ye Chang tahu, bahwa semua ini dikarenakan ia telah lupa menyisakan usus domba yang gemuk pada si burung murai, karenanya burung murai sengaja mencelakainya. Namun, ia juga tidak tahu bagaimana caranya agar supaya dapat membuat pejabat kabupaten itu percaya dengan kata-katanya.

Di dalam penjara begitu rapat dan ketat, hanya terbuka sebuah jendela kecil di atas tembok yang sangat tinggi. Gong Ye Chang melihat acap kali ada burung gereja terbang ke sana kemari di luar jendela, maka sering kali mendengar kata-kata burung gereja di bawah jendela, sehingga dengan demikian, hidupnya juga tidak merasa sedih.

Suatu hari, Gong Ye Chang mendengar seekor burung gereja berkata berisik: "Ayo, semua cepat kemari! Saya beritahu kalian sebuah kabar gembira! Di atas jembatan gerbang timur ada sebuah kereta sapi terbalik yang dipenuhi dengan muatan gabah, gabah-gabah itu bertebaran seladang! Ayo semuanya bergegas makan di sana!" Sambil berkata, segerombolan burung gereja semuanya terbang berlalu menuju ke sasarannya.

Begitu mendengar, Gong Ye Chang lantas segera berkata pada orang yang mengawasinya: "Segerombolan burung-burung gereja yang terbang pergi itu semuanya hendak ke jembatan gerbang timur untuk makan gabah. Kamu bergegas melapor pada pembesar kabupaten, agar ia mengutus seseorang ke gerbang jembatan timur untuk melihat-lihat, dan jika memang benar-benar ada sebuah kereta sapi terbalik yang dipenuhi dengan muatan gabah, maka bisa membuktikan bahwa saya mengerti perkataan burung."

Meskipun pejabat kabupaten tidak percaya dengan perkataan Gong Ye Chang, namun tetap mengutus orang pergi ke gerbang jembatan timur untuk melihat-lihat, dan ternyata, di sana memang benar-benar ada sebuah kereta sapi terbalik, dan gabah bertebaran seladang, segerombolan burung gereja sedang bersuka ria berebut mendahului burung lainnya mematuk gabah.

Akhirnya pejabat kabupaten percaya bahwa Gong Ye Chang memang benar-benar mengerti bahasa burung, juga percaya akan cerita mengenai si burung murai, dan setelah mengetahui bahwa orang yang mati di atas gunung itu sama sekali bukan dicelakai oleh Gong Ye Chang, lalu melepaskannya.

Setelah Gong Ye Chang pulang ke rumah, banyak sekali tetanga maupun teman-temannya secara berturut-turut datang menjenguknya. Dengan berkeluh kesah Gong Ye Chang berkata pada semua orang: "Setelah saya dipenjara, telah memahami sebuah kebenaran, yaitu bukan saja harus memegang janji terhadap manusia, bahkan terhadap burung pun harus memegang janjinya!


Kisah fabel ini tersebar luas. Dalam kisah itu, Gong Ye Chang tidak menepati janjinya terhadap burung, sehingga mendatangkan bencana yang tak terpikirkan, dari kisah ini jelaslah, bahwa terhadap burung pun harus menepati janjinya, apalagi terhadap manusia? Dan dalam realita kehidupan, Gong Ye Chang adalah seorang arif bijaksana, bukan saja murid Konghucu tetapi juga menantunya!

Rabu, 02 September 2009

Perangkap tikus



Seekor tikus
mengintip lewat sebuah celah ditembok untuk mengamati sang petani dan istrinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan apa kiranya? Ia terkejut sekali, ternyata itu jebakan tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu meneriakkan peringatan: "Awas! Ada jebakan tikus di dalam rumah. Awas! ada jebakan tikus di dalam rumah!"

Sang ayam tenang-tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya, ya.. maafkan aku, pak Tikus, aku tahu ini memang urusan gawat bagi anda, tapi kan buat aku pribadi tak ada pengaruhnya. Jangan bikin aku pusinglah."

Tikus berbalik dan pergi menuju sang babi, katanya, "Ada jebakan tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus dirumah!" "Wah, aku menyesal dengar kabar ini," si babi menghibur dengan penuh simpati, "tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu ada dalam doa-doaku!"

Tikus kemudian berbelok menuju si sapi. Sapi inipun berujar sinis, "Seperti apa ya pak Tikus sebuah jebakan tikus? Jadi saya dalam bahaya besar ya?"

Jadi tikus itu kembalilah kerumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, menghadapi jebakan tikus sendiri.

Malam itu juga terdengar sebuah suara menggema diseluruh rumah, seperti bunyi jebakan tikus yang berhasil menangkap korbannya. Istri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di kegelapan itu ia tak bisa melihat bahwa yang terjebak adalah ekor ular amat berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan istri petani itu.

Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit. Ia kembali ke rumah dengan demam. Sudah umum setiap orang akan menangani demam panas dengan memberikan sop ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah ia ke lahan belakang mencari bahan pokok untuk sopnya itu.

Penyakit istrinya berlanjut sehingga teman-temannya maupun para tetangganya datang duduk-duduk menjenguk, dari jam ke jam selalu berdatangan para tamu. Petani itupun menyembelih babinya untuk memberi makan para pengunjung itu.

Istri petani itu tak kunjung sembuh. Ia meninggal, jadi makin banyak lagi orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksa menjagal sapinya agar bisa menjamu orang yang datang.

Moral kisah ini: Bila kau mendengar ada seseorang yang menghadapi problem dan kau pikir itu tak berurusan denganmu, ingatlah bahwa apabila ada jebakan tikus didalam rumah, seluruh lahan pertanian ikut menanggung resikonya. Tanggap atas kesulitan orang lain akan "menyelamatkan semuanya"

Selasa, 01 September 2009

Mancian di Danau Singkarak

Cerita pendek, Cerita cinta, Cerpen , Cerita misteri, Cerita bergambar, cerita cinta

Mancian di Danau Singkarak


Waktu malam minggu,sakitar jam sabaleh malam..,awak baduo samo Zikra kawan awak manciang di Danau Singkarak.., aia danau sadang riak-riak.., sakitar satu jam kami mamanciang indak ado dapek lauk nyo do.,umpan lah abih.,.

Indak Lamo kamudian tibo lah urang dari Pakan Baru singgah untuk mamanciang di tampek kami tu,kiro-kiro ado sakitar 6 urang nyo. Anak jo bini nyo sato lo mamanciang malam- malam tu..

"Lah ado Dapek ikan Diak..??",kato salah surang laki-laki tadi.

"Alun ado lai Da...", Jawek si Zikra.

"Dari caliak caro nyo mamanciang urang ko dak biaso manciang di danau do Zik..??"kato awak ka si Zikra.

"ba a tu ..??"

"caliak lah bini urang tu....,mamanciang disiko batu - batu nyo sagadang godok,,apuang-apuang nyo pake bola karah-karah sagadang godok lo."

"huakak...kahh...kah...ado ado se mah..."

Lah sakitar tigo jam mamanciang indak yo dapek ikan do ..,umpan kami lah abih.Jadi kami cuma mangawanan urang Pakan Baru tu mamanciang lai.

Indak lamo panciang salah sorang laki-laki tadi panciang nyo dibanam an apuang-apuang nyo,

"Eh lai mah Da...,"kato Zikra.

"yo...gadang takah nyo mah.,,kareh unyuik nyo..."

Bakumpualah keluarga nyo disitu untuk mancaliak hasil yang didapek an.

"Ayo ..Pa..jaan ampe lapeh Pa..",kato bini Uda tu.

Tali panciang digulung taruih, ampiang sampai ditapian lai..lah mulai nampak mangkilek-kilek.

Tau tau nyo sampai panciang diangkek,tapampang lah softek yang lakek dimato panciang paja tadi.

"Aduh...,mimpi a den samalam...,,ado darah lo lai...",kato laki-laki tadi.

Awak samo Zikra payah manahan galak.... keluarganyo galak bacampua sadiah.

Selasa, 25 Agustus 2009

Sang Raja dan Burung Kecil


Cerita pendek, Cerita cinta, Cerpen , Cerita misteri, Cerita bergambar, cerita cinta

Ada sebuah cerita kuno di India. Pada suatu siang hari, beberapa orang dewasa sedang mengobrol dengan santai di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba terdengar suara burung dengan nada sedih yang sedang berusaha terbang sekuat tenaga. Ketika dilihat seekor burung kecil terbang rendah sekali, sebentar jatuh dan terbang lagi, tetapi sama sekali tidak berhasil, tampak menderita sekali.

Di belakang burung kecil itu, ada sekelompok anak sedang mengejarnya dengan riang gembira, sementara para orang dewasa hanya tertawa terbahak-bahak dianggapnya itu mainan yang lucu. Nah, pada saat itulah muncul orang tua yang berpakai baju putih mendekati dan menghalangi anak-anak yang mengejarnya, dan berjongkok mengambil burung kecil itu pelan-pelan dengan kedua tangan.

Oh! Sayap burung itu ternyata diikat dengan tali dan di ujung tali terikat satu biji batu, pantas burung itu tidak dapat terbang! Orang berbaju putih itu merasa kasihan pada burung kecil itu. "Burung itu punya kami, pulangkan kepada kami," kata anak-anak itu dengan nada kurang sopan. Tapi, orang berbaju putih itu berujar, "Aku akan membeli burung ini, berapa harganya?" Mendengar uang, anak-anak itu sangat gembira dan menjualnya kepada orang itu. Orang berbaju putih tersebut dengan penuh belas kasih membuka talinya dan melepaskannya, burung itu terbang berputar-putar di atas kepalanya dengan riang seolah ingin mengucapkan terima kasih.

Selanjutnya, orang berbaju putih ini mengelus kepala anak-anak itu: "Lihatlah anak-anak, burung kecil itu terbang bebas dan bernyanyi gembira, ini indah sekali bukan? Setiap jiwa pun mempunyai harga dan hak untuk hidup, ini adalah jiwa yang indah di dalam langit bumi." Anak-anak itu hanya menundukkan kepala, dan orang-orang dewasa yang di samping itu juga merasa malu. Orang berbaju putih sekali lagi mengelus kepala setiap anak, lalu pergi. Mereka melihat bayang-bayang di belakangnya, terdapat kelapangan dada yang luar biasa, dengan kelembutannya bertutur. Tiba-tiba seorang anak berujar, "Aku ingat! Beliau adalah sang raja kami."

Saat itu adalah zaman kerajaan di mana rajanya seorang penganut agama Buddha yang taat, rakyatnya disayang seperti anaknya sendiri, sering memakai berbaju putih, masuk ke perkampungan penduduk untuk memahami keadaan rakyat, dan sering menolong orang yang susah. Sebagai sesama, kita berusaha memahami jiwa yang indah, dan juga harus selalu bermurah hati kepada orang yang membutuhkan pertolongan, serta memupuk kasih sayang kepada semua jiwa.

Selasa, 21 Juli 2009

Memandang Api dari Seberang Pantai

Di masa negara-negara sedang berperang (Tiongkok kuno), terdapat seorang penasehat terkenal bernama Chen Zheng. Suatu hari, ketika Chen Zheng mengunjungi negara Qian, Kaisar Qian Huei mengambil kesempatan meminta nasehat pada Chen Zheng tentang apakah beliau harus campur tangan sebagai wasit dalam konflik antara negara Han dan Wei. Chen Zheng lalu bercerita pada Kaisar Qian Huei tentang kisah bagaimana Bian Zhuangzi membunuh harimau. Harimau ganas, galak.

Kisah ini tentang seorang pemuda bernama Bian Zhuangzi. Suatu hari dia melihat dua ekor harimau sedang bertarung memperebutkan seekor kerbau. Dia hendak menarik pedangnya membunuh harimau-harimau namun abdinya menghentikannya. Abdinya berkata, “Tunggulah sebentar, Tuanku. Lihat, dua ekor harimau sedang bertarung memperebutkan kerbau yang sama. Ini artinya akan ada pertarungan berdarah di antara keduanya yang tak akan terelakan. Tak diragukan bahwa yang kuat akan menang dan yang lemah akan mati. Tetapi yang kuat juga akhirnya akan terluka. Jadi mengapa tidak menunggu saja, dan anda hanya cukup membunuh sisa harimau yang terluka tersebut?”

Chen Zheng melanjutkan, “Sekarang Han dan Wei sedang bertarung satu sama lainnya seperti dua ekor harimau ini. Segera ataupun nantinya si lemah akan di taklukan oleh yang kuat. Kaisar yang mulia, mengapa tidak melakukan seperti apa yang Bian Zhuangzi perbuat, menunggu dan lihat hasilnya?. Seperti yang diprediksi Chen Zheng, Qian akhirnya mengumumkan sebagai pemenang terakhir dalam konfik antara Han dan Wei.

Umumnya perkataan ini mengandung makna tidak merespon ataupun mengambil tindakan apapun. Tetapi sebenarnya mengandung arti yang lebih dalam, yaitu membiarkan situasi yang menganggu musuh Anda berkembang sehingga Anda akan mendapat manfaat darinya. Dengan perkataan lain, tunggu dan lihat bagaimana kejadian tersebut akan bekerja sesuai perkembangan yang Anda harapkan hingga secara alamiah berakhir. Barang akan menjadi milik siapa yang dapat sabar menunggu hingga situasi berubah menjadi keberuntungan mereka.

Kamis, 16 Juli 2009

Cerpen Samurai


Cerita pendek, Cerita cinta, Cerpen , Cerita misteri, Cerita bergambar, Cergambar

Cerpen Samurai

Seorang samurai bertubuh kekar dan tegap pada suatu hari mendatangi seorang pertapa bertubuh kecil dan kurus. "Hai petapa," katanya dengan nada suara yang terbiasa memberikan perintah, "Ajarkan saya tentang surga dan neraka!"

Si petapa mendongakkan kepalanya memandang samurai gagah di depannya and menjawabnya:, "Mengajarkanmu tentang surga dan neraka? Saya tidak dapat mengajarkan apapun juga kepadamu. Pergilah sekarang.”

Si samurai tampak marah. Mukanya merah padam menahan rasa marah yang tinggi. Ia cabut pedangnya dan mengangkat di atas kepalanya bersiap untuk menebas petapa itu dengan pedangnya.

"Itulah neraka," kata si petapa dengan nada yang tenang.

Si samurai terkejut. Ketenangan dan kepasrahan dari mahluk kecil itu; yang bersedia mempertaruhkan hidupnya, telah memberikan pelajaran mengenai neraka kepadanya! Ia perlahan menurunkan pedangnya. Ia merasakan rasa lega dan tiba-tiba merasa sangat tenang.

"Dan itulah surga," kembali si petapa berkata dengan tenang.

Senin, 13 Juli 2009

Cerpen Tempat Air Suci yang Angkuh

cergam, cerita anak, cerita cinta, cerita dongeng, cerita misteri, cerita pendek, cerpen, keindahan bali


Cerpen Tempat Air Suci yang Angkuh

Zaman dahulu kala, ada sebuah vas di surga. Dewi Kuwan Im menggunakan vas tersebut untuk menaruh air suci pengobat segala penyakit dan ranting daun. Vas itu telah bersama Dewi Kwan Im di surga selama ribuan tahun dan berpikir bahwa ia sangatlah berarti bagi Sang Dewi. Suatu hari, Dewi Kwan Im berkata kepadanya, "Kamu telah menjadi kotor dan tidak bisa lagi tinggal di sini. Kamu harus turun ke bawah sesuai tingkatanmu sekarang." Vas itu berkata dengan cemas, "Dewi Kwan Im, saya tidak kotor! Saya bersih dan berkilau seperti dulu saya diciptakan. Saya tidak tercemar ataupun tergores!" Dewi Kwan Im menjelaskan dengan sabar, "Ya, penampilan kamu masih secantik dahulu, tapi pikiran dan sifatmu sudah menjadi buruk. Kamu tidak lagi sesuai dengan kriteria di alam ini!' Vas itu mulai memohon, "Dewi Kwan Im, saya telah bersama Anda selama bertahun-tahun, bisakah Anda membuat pengecualian untuk saya?" Dewi Kwan Im tersenyum dan berkata, "Membandingkanmu dengan kamu yang dulu, sungguh berbeda jauh." Vas angkuh itu menjadi kecewa dan berkata, "Bila saya tidak lagi diterima disini, saya lebih baik turun ke dunia manusia dan mencari orang yang bisa menghargai saya." Kemudian ia turun ke dunia manusia.

Begitu ia turun ke dunia manusia, ia berada di suatu rumah mewah. Ia sangat senang dengan rumah barunya. Melihat sekeliling ruangan, vas itu dipajang dengan vas-vas antik lainnya dari berbagai dinasti Tiongkok kuno dalam sebuah lemari kaca. Vas itu kemudian berpikir, "Saya adalah vas khayangan dari surga, vas-vas lainnya disini tidak sebanding dengan saya!" Pada kenyataannya, sang pemilik juga memperlakukan vas tersebut dengan istimewa, dia membersihkan vas itu dengan cairan khusus yang membuatnya tambah kinclong setiap hari. Vas itu sangat senang diperlakukan demikian dan berpikir bahwa adalah suatu keputusan yang tepat untuk datang ke dunia manusia.

Suatu hari seorang gembel datang mengunjungi rumah tersebut. Namun anehnya pemilik rumah bersikap sopan kepadanya. Dia menjamu tamu tersebut dengan makan malam yang mewah. Vas itu dalam hati berkata, "Kenapa tuan saya menjamu orang miskin itu bagaikan orang terhormat?" Setelah mereka selesai makan malam, orang kaya itu menunjukkan vas itu dan berkata, "Tuan Zhang, lihatlah harta karun yang baru saja saya miliki ini, sangat berharga bukan?" Lalu ia berkata, "Sebagai tanda terima kasih karena Anda telah menyelamatkan saya dari bahaya tenggelam waktu itu, maka saya ingin memberikan vas ini kepada Anda. Tanpa pertolongan Anda, pasti saya sudah tewas." Lalu ia memberikan vas itu kepada tamunya itu.

Merasa heran dan takut, vas itu mulai marah kepada orang kaya tersebut dan mengutuk didalam hati: "Jadi saya tidak ada artinya bagi kamu selain hanya dijadikan sebagai hadiah bagi seorang gembel.” Vas itu mencium bau busuk ikan dari gembel tersebut, dan kepingin muntah kalau saja dia bisa. Meskipun gembel tersebut menolak hadiah itu, namun orang kaya itu memaksanya. Ia berkata, "Bila Anda menolak pemberian tulus saya ini, saya akan memecahkan vas mahal ini sekarang!" Tamu itu tidak punya pilihan lain selain mengambil vas tersebut dan kemudian pamit pulang.

Kini vas itu menjadi milik gembel tesebut, dibawa pulang ke sebuah gubuk kotor dengan bau amis ikan. Vas itu hampir tidak percaya kini ia harus hidup di gubuk seorang nelayan miskin. Begitu nelayan itu masuk kedalam rumah, ia berteriak kepada istrinya, "Sayang, saya membawa pulang sebuah vas, tolong isi dengan arak dan besok akan saya bawa saat mencari ikan." Lalu seorang wanita keluar dari dapur dan mengambil vas itu. Dipegang dalam genggaman tangan wanita itu yang kasar, vas itu merasa tidak nyaman. Kemudian, ia diisi dengan arak murahan. Vas itu merasa sakit hati. Dulu ia diisi oleh air suci Dewi Kwan Im, sekarang ia diisi oleh arak murahan di dunia manusia!

Setelah beberapa lama waktu, vas itu terlihat baret, berminyak dan kotor. Sekian lama tinggal di dunia manusia, ia terbiasa dengan bau arak murahan dan melihat orang-orang di dunia manusia ini suka meminumnya. Saat araknya habis, ia merasa sedih dan rindu aromanya. Pada suatu hari yang berangin kencang, nelayan itu membawanya lagi saat mencari ikan. Ombak besar menghantam perahu dan vas itu jatuh ke laut. Tutupnya lepas dan araknya tumpah keluar. Air laut yang asin dan kotor kini masuk kedalam vas tersebut, membuatnya merasa jijik.

Saat terombang-ambing di lautan beberapa lama, vas itu teringat kepada Dewi Kwan Im. Ia mulai menimpakan segala kemalangannya kepada Dewi Kwan Im, dan mulai membencinya. Setiap kali ia mulai timbul rasa benci, ombak menghantamkan tubuhnya ke batu karang, menyebabkan beberapa bagian vas itu pecah. Kemudian ia juga mulai berpikiran buruk kepada orang kaya pemilik rumah mewah dan juga sang nelayan, membenci semuanya, tubuhnya semakin hancur diterjang ombak dan batu karang, dan akhirnya tenggelam ke dasar laut dan perlahan-lahan terkubur oleh pasir pantai. Ia tak lagi dapat melihat cahaya, semuanya gelap dan tak ada suara. Seolah-olah bahkan waktu pun telah berhenti. Ia merasa takut dan tak berdaya. Ia ingin keluar dan bebas, namun tidak bisa.

Dikelilingi oleh kesunyian abadi dan ditutup oleh lapisan tebal pasir di dasar laut yang dalam, vas itu mulai merindukan hari-hari dimana ia duduk disamping Dewi Kwan Im di surga. Begitu ia rindunya pada suasana dahulu, ia mulai lagi timbul kebencian kepada Dewi Kwan Im, pemilik rumah mewah dan nelayan itu. Lama kelamaan ia merasa bahwa ia kehilangan akalnya, dan pada akhirnya ia benar-benar kehilangan kemampuannya untuk berpikir. Yang tersisa adalah keping-kepingan vas kotor yang terkubur di dasar laut dalam.

Minggu, 12 Juli 2009

Cerpen Sang Pengusa


cerpen, cerita pendek, cerita misteri, cergam, cerita bergambar, cerita cinta, cermis

Seorang Sultan terkena penyakit parah, yang masih belum diketahui namanya. Beberapa dokter dari Yunani yang khusus didatangkan sepakat, bahwa untuk penyakit tersebut tidak ada obat yang cocok, selain empedu dari seseorang yang memiliki pertanda tertentu.

Sang Sultan memerintahkan untuk mencari orang yang dimaksud, dan akhirnya tanda-tanda yang disebutkan ditemukan pada anak kecil, putra seorang petani. Ayah dan ibunya dipanggil dan diberikan banyak hadiah hingga merasa puas. Hakim memberikan pertimbangannya, bahwa diperbolehkan untuk mengorbankan darah seorang bawahan demi mempertahankan nyawa Sultan.

Ketika tiba saatnya algojo memenggal kepalanya, anak tersebut memalingkan wajah ke langit dan tertawa. “Bagaimana kamu dapat tertawa di saat demikian?”, Sultan yang menyaksikan bertanya. Anak tersebut menjawab, “Mengasuh anak dengan kasih sayang adalah kewajiban ayah dan ibu; pertimbangan hukum ditujukan ke hakim, dan keadilan dituntut dari seorang penguasa; tetapi sekarang, demi harta duniawi, ayah dan ibu telah menyerahkan saya pada kematian, hal mana juga telah disetujui oleh hakim, sedangkan Sultan melihat keselamatan dirinya dalam kematian saya; selain kepada Tuhan saya sungguh tidak melihat lagi tempat untuk berpaling.”

Hati Sultan sangat tersentuh, sehingga air matanya mengalir. Sultan berkata, “Lebih baik saya mati, daripada menumpahkan darah anak yang tidak berdosa.” Sultan mencium kepala dan mata anak tersebut, memeluknya erat-erat dan memberikan hadiah yang berlimpah serta membiarkan anak tersebut pulang. Di luar dugaan, pada minggu itu juga Sultan sembuh dari penyakitnya.

Rabu, 08 Juli 2009

Cerpen Macan dan Bebek

cerpen, cerita pendek, cermis, cerita misteri, cergam, cerita bergambar

Hu Lin adalah budak kecil. Ia dijual ayahnya saat masih kecil, dan tinggal bersama majikannya di sebuah rumah perahu yang tertambat di pinggir sungai. Majikannya yang kejam memperlakukannya sangat buruk. Pekerjaannya banyak dan berat untuk ukuran anak kecil. Hidup ini sungguh sulit bagi si kecil Hu Lin. Dia kadang-kadang menyelinap keluar bermain di lapangan, melihat anak-anak bermain layangan. Ia senang sekali melihat layang-layang menari-nari di angkasa. Namun bila ketahuan majikannya, ia akan dipukul dengan rotan dan tidak diberi makan seharian. Suatu hari Hu Lin berniat kabur, namun belum jauh dia pergi, majikannya telah membuntutinya dan menangkapnya, dan memberi hukuman pukulan sampai Hu Lin pingsan.

Selama beberapa jam, Hu Lin terbaring di tanah, lalu mulai siuman. Sekujur badannya memar dan terasa sangat sakit bila digerakkan. Air mata berlinang di pipinya yang mungil, dan ia mendesah. “Ah..seandainya ada yang dapat membebaskan saya dari majikan...alangkah bahagianya hidupku.”

Tidak jauh dari sungai, hiduplah seorang kakek tua di rumah pondok. Kakek itu memiliki seekor bebek bernama Chang yang setia menjaga rumahnya di malam hari. Bebek itu bisa berteriak kencang bila ada orang asing mencoba masuk rumah. Di siang hari bebek itu suka jalan jalan mencari makan di sungai dan sering bertemu Hu Lin, sehingga mereka juga berteman baik. Suatu keistimewaan yang dimiliki Hu Lin bahwa ia bisa memahami apa yang dikatakan oleh Chang.

Kakek tua yang hidup di pondok itu adalah seorang kakek kikir yang mempunyai banyak harta yang disembunyikan di halaman. Chang punya leher super panjang dan sering menjulurkannya untuk melongok apa yang dilakukan tuannya. Chang yang tidak punya sanak saudara itu suka menceritakan apa yang diketahuinya kepada Hu Lin, satu-satunya temannya.

Pada hari Majikan Hu Lin memukulnya sampai pingsan itu, Chang membuat penemuan mengejutkan. Ternyata tuannya bukanlah seorang kakek kikir, melainkan seorang lelaki muda yang sedang menyamar. Bagaimana Chang mengetahuinya? Kejadiannya begini:

Chang yang sedang lapar di pagi hari itu belum bisa keluar, karena pagar masih dikunci tuannya. Ia berusaha mencari makan didalam rumah, mungkin masih ada sisa remah makan malam tuannya malam sebelumnya. Chang berjalan masuk ke dapur, lalu dari dapur ia melihat pintu kamar tuannya sedang terbuka karena ditiup angin. Terlihat seorang lelaki muda sedang tidur, Chang merasa keheranan dan berjalan mendekat. Tiba-tiba, sosok lelaki muda itu berganti menjadi sosok kakek tua, yang dia kenal sebagai sosok tuannya. Chang sangat terperangah.

Lupa akan perutnya yang lapar, bebek ini berlari kencang ke halaman dan berpikir keras tentang misteri itu, tapi semakin dia berpikir, semakin aneh rasanya. Lalu dia teringat Hu-lin, teman manusianya, dan berpikir ingin bertanya kepada Hu-lin tentang kejadian tersebut. Chang kagum akan kepandaian Hu-lin dan berpikir bahwa Hu-lin pasti bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan tuannya. Ia ingin segera menemui Hu-lin.

Seperti biasanya kalau masih pagi, pintu pagar masih terkunci. Tidak ada yang bisa dilakukan Chang kecuali meunggu tuannya bangun. Dua jam kemudian, tuannya bangun, terlihat sangat segar dan tidak seperti biasanya, memberi makan Chang sangat banyak. Kemudian dia merokok di depan rumah, lalu pergi ke luar. Pintu pagar lupa dikuncinya.

Dengan gembira Chang berjalan keluar pelan-pelan, menuju sungai dan mencari Hu-lin. Gadis mungil itu masih terbaring di tepian sungai.

“Hu-lin, panggil si bebek. “Bangun, saya ada sesuatu yang ingin dibicarakan.”

“Aku tidak tidur, ujarnya. Hu-lin bangkit sambil tersenyum dan menghapus air matanya.

“Ada apa Hu-lin? Kamu menangis….apakah majikanmu memukulmu lagi?”

“Hush! Dia lagi tidur siang di perahu, jangan sampai suaramu terdengar olehnya.”

“Ah, tidak mungkin dia mengerti bahasa bebek, hanya kamu yang bisa,” ujar Chang. “Tapi memang lebih baik bila kita bicara sambil berbisik-bisik saja.”

Chang lalu menceritakan apa yang dialaminya pagi hari itu kepada Hu-lin, dan bertanya apa pendapat Hu-lin.

Hu-lin sampai lupa akan kesedihannya mendengar cerita Chang, lalu bertanya pada bebek itu, “Apa kamu yakin bahwa tidak ada orang lain yang menginap di kamar tuanmu kemarin?”

“Ya, tidak ada. Saya yakin betul itu. Tuan saya tidak punya seorang temanpun. Lagipula saya sudah didalam rumah saat pintu pagar dikunci semalam. Saya tidak mendengar ada suara orang asing masuk.”

“Kalau begitu, tuanmu pasti peri sedang menyamar”, ujar Hu-lin dengan bijak.

“Peri? Apa itu? Tanya Chang, yang semakin tertarik akan kejadian ini.

“Aduh, kamu khan bebek tua, masak tidak tahu apa itu peri? Ujar Hu-lin sambil tertawa. Saat itu Hu-lin sudah lupa akan nasib malangnya, tertawa bercanda dengan kawan baiknya yang sedang kebingungan itu. “Sssh… ujarnya dengan suara sangat pelan sehingga Chang memincingkan mata berusaha mendengarnya, “Peri itu adalah….(Hu-lin membisikkan sesuatu ke kuping Chang), kemudian Chang mengangguk-angguk mengerti. “Wow! Astaga!”, ujar Chang. “Bila tuan saya adalah peri, ayo pergi temui dia, pasti tuan saya bisa menyelamatkanmu dari segala masalahmu dan membuat saya bahagia selamanya.”

“Apa saya berani melakukannya lagi?” Tanya Hu-lin kepada Chang, sambil menunjukkan luka-lukanya akibat dipukul karena kabur tadi. Hu-lin lalu melihat keadaan sekeliling, menempelkan kupingnya ke pintu perahu tuannya, masih terdengar suara mengorok.

“Tentu, tentu, ayo ikut aku! Dia sudah begitu kejam memukulimu, pasti dia sangat capek dan tertidur pulas, Ayo pergi sekarang!

Dengan cepat mereka pergi ke pondok kakek tua. Sambil berlari, jantung Hu-lin berdegup sangat kencang, dia juga bingung apa yang akan diucapkannya bila bertemu dengan majikan Chang. Pintu pagar rumah Chang masih terbuka sedikit, lalu mereka masuk ke dalam.

“Ayo lewat sini”, ujar Chang. “Dia pasti di dalam lagi menggali tanah di kebun”

Saat mereka sampai di kebun, tidak ada orang yang terlihat.

“Sangat aneh,”ujar bebek itu sambil berbisik. “Saya tidak mengerti, masa dia sudah istirahat?” Ayo kita cek ke dalam rumah.”

Sambil berjingkat-jingkat, Hu-lin memasuki rumah karena diajak oleh Chang. Di dalam rumah juga tidak ada orang, termasuk di kamar majikan Chang, yang sedang terbuka lebar.

“Ayo, lihat, dia tidur di ranjang jenis apa, “ ujar Hu-lin. “Saya tidak pernah melihat kamar peri, pasti lain dengan kamar orang biasa.”

“Hanya ranjang bata biasa, seperti ranjang orang lain, ujar Chang, sambil memasuki kamar tuannya.

Hu-lin membungkuk di bawah ranjang bata, melihat ada tempat menyalakan api dibawahnya. Lalu ia bertanya pada Chang, “Apakah dia menyalakan api di cuaca dingin?”

“Oh, ya, dia selalu menyalakan api untuk menghangatkan ranjang bata itu, tak peduli cuaca dingin ataupun panas, ranjang bata itu selalu panas.”

“Hmm… itu sangat aneh lho, bagaimana menurutmu?” Tanya Hu-lin. Katamu majikanmu kikir, tapi kenapa ia boros menyalakan api tiap malam?”

“”Iya, aneh, ujar Chang, sambil mengibaskan sayapnya. “Saya tak pernah berpikir ke arah situ. “Aneh, aneh banget.” Hu-lin, kamu sangat pandai”.

Tiba-tiba dari luar terdengar suara pintu pagar dibanting, ternyata tuannya sudah pulang! Mendadak wajah Chang memucat ketakutan.

“Oh, apa yang harus kita katakan kepadanya bila ia menemukan kita di kamarnya?” Tanya Hu-lin kepada Chang. Iapun panik dan berkata, “Saya sudah dipukul hari ini, saya tidak sanggup dipukul lagi, isak gadis kecil itu, air matanya mulai menetes.

“Hu-lin, jangan menangis, jangan khawatir, ayo kita sembunyi di belakang tirai itu,” ujar bebek itu.

Dengan gerak sangat cepat, kedua sahabat itu bersembunyi di balik tirai. Untungnya, majikan Chang tidak masuk ke kamar, melainkan hanya mampir sebentar ke gudang dan mengambil sekop, lalu berjalan ke luar menuju halaman, lalu bekerja disana.

Kedua sahabat itu tidak berani keluar dari persembunyian, apalagi keluar dari rumah, takut ketahuan oleh majikan Chang.

“Saya tidak bisa bayangkan apa jadinya kalau ia menemukan bebeknya ini membawa orang asing masuk,” bisik Chang pada Hu-lin.

Hu-lin menjawab, “Mungkin dia berpikir bahwa kita mau mencoba mencari uang yang dia sembunyikan, “ujar Hu-lin sambil tertawa. Saat itu Hu-lin sudah tidak begitu takut, jantungnya sudah berhenti berdebar-debar. “Lagipula, dia tidak mungkin lebih jahat daripada majikan saya.”

Setelah mengalami kejadian mendebarkan itu, kedua sahabat itu kelelahan dan tertidur di dalam tirai di kamar majikan Chang. Majikan Chang malam itu heran kenapa Chang belum pulang, dan mengiranya masih asyik bermain di sungai. Jam 9 malam, majikan Chang masuk ke kamar dan tidur.

Pagi hari, Hu-lin terbangun oleh sinar matahari yang menembus jendela kamar. Awalnya dia lupa dimana dia berada, namun ketika dia melihat Chang, dia segera membangunkan bebek itu. Chang bangun dan mengintip ke luar tirai.

Di ranjang tuannya, berbaring seorang lelaki muda berambut hitam yang sangat tampan. Seulas senyum terhias di wajahnya, seolah-olah sedang menikmati mimpi yang indah. Hu-lin yang baru melihatnya tiba-tiba berdecak kagum. Mata majikan Chang tiba-tiba terbuka dan memandang Hu-lin. Gadis kecil itu sangat terkejut, ketakutan sehingga tak dapat bergerak. Chang yang berdiri disampingnya juga gemetaran.

Lelaki muda itu bahkan lebih kaget daripada Hu-lin dan Chang, selama dua menit dia terdiam. “Apa maksudnya ini?, Tanyanya, dan kemudian melihat kepada bebeknya yang gemetaran, “Apa yang kamu lakukan di kamar saya, dan siapa anak ini, yang sangat ketakutan?”

“Maafkan saya, tapi apa yang kamu lakukan pada Tuan saya?” ujar bebek itu, bertanya balik.

“Saya bukan tuanmu, ujar lelaki muda itu sambil tertawa. “Kamu lebih bodoh daripada biasanya pagi ini.”

“Tuan saya adalah kakek tua yang jelek, sedangkan kamu masih muda dan tampan,” ujar Chang.

“Apa? Kamu bilang saya masih muda?”

“Iya, coba Tanya Hu-lin kalau kamu tak percaya,” ujar Chang.

Lelaki muda itu bertanya kepada gadis kecil itu.

“Ya, tuan. Tidak pernah saya melihat seorang lelaki begitu tampan.” ujar Hu-lin.

“Chang, siapa nama temanmu ini?” Tanya lelaki muda itu.

“Namaku Hu-lin, si gadis budak” ujarnya.

Lelaki muda itu bertepuk tangan, “Betul, betul! Saya telah mengetahui arti teka teki itu semuanya dengan jelas sekarang. “Adalah kalian berdua yang membebaskan saya dari kutukan menjadi kakek tua,” Melihat wajah Hu-lin dan bebeknya yang keheranan, lelaki muda itu mulai menceritakan apa yang pernah terjadi:

“Ayah saya adalah lelaki kaya yang hidup di sebuah daerah yang jauh. Saat saya masih kecil, dia memberikan apapun yang saya minta. Saya sangat sombong dan berpikir bahwa tidak ada apapun di dunia yang tidak bisa saya miliki, juga tidak ada yang perlu saya lakukan bila saya tidak mau melakukannya.”

“Guru saya sering mengomeli saya atas pikiran saya yang tidak lurus itu. Dikatakannya bahwa uang memang dapat membuat orang bahagia, namun Tuhanlah yang menentukan. Terkadang saya mentertawakannya, menyombongkan diri bahwa saya punya cukup uang dan dapat membeli dewa-dewa, peri dan iblis. Guru saya berkata, “Hati-hati! Kamu akan menyesal dengan ucapanmu yang sombong itu.”

“Suatu hari, setelah menyelesaikan pelajaran hari itu, kami berjalan di taman ayahku. Saya menjadi lebih berani daripada biasanya dan berkata padanya bahwa saya tidak mau mematuhi peraturan apapun. Kamu pernah berakta bahwa taman ayahku ini ada penunggunya, dan bila saya membuatnya marah dengan melompati sumur di taman ini, dia akan bangun dan menghukumku.” “Ya, ujar guru saya itu. “Itu yang pernah saya katakan, dan saya ulangi bahwa itu benar. Hati-hati, Anak muda. Jangan melanggar peraturan itu.” “Apa peduliku bila ia bangun?, ujar saya tanpa rasa takut, meloncati sumur tua itu. “Saya tak percaya taman ini ada penunggunya, itu hanya budak ayahku.”

“Tiba-tiba, begitu saya selesai mengucapkan hal itu, perubahan terjadi dalam tubuhku. Tubuh ini menjadi lemas, pandangan kabur, kulit menua dan berkerut, rambut berubah menjadi uban. Dalam satu menit, saya telah berubah menjadi seorang kakek tua.”

“Guru saya bengong melihat apa yang saya alami, Ia berkata, “Penunggu taman ini telah marah atas kata-katamu dan menghukummu. Saya sudah peringatkan agar kamu jangan meloncati sumur itu.” Saya tidak tahu bagaimana cara mengembalikanmu ke bentuk semula.”

“Saat ayahku mengetahui apa yang terjadi padaku, dia sangat sedih dan kecewa. Dia melakukan apa saja untuk membuatku kembali muda. Dia telah mengajakku ke puluhan tabib dan biksu, berdoa siang dan malam serta meminta maaf kepada penunggu di taman. Saya adalah satu-satunya anaknya, dia tidak dapat bergembira bila saya masih seperti iini. Akhirnya guru saya menemukan satu peramal terkenal yang berkata bahwa penunggu taman menghukumku akibat kesalahanku sendiri. Hanya dalam kondisi tidur barulah saya kembali muda, namun begitu bangun akan berwujud kakek tua. Atau bila kepergok oleh siapapun, wujud saya akan kembali menjadi kakek tua,” ujar lelaki tampan itu.

“Saya melihat kamu kemarin pagi, ujar si bebek. :Kamu menjadi muda dan tampan, lalu tak lama kemudian berubah menjadi orang tua.”

“Peramal itu mengatakan bahwa hanya ada satu kesempatan agar saya pulih seperti sedia kala. Yaitu saat saya dalam wujud asli saya (dalam kondisi tidur), datang seekor bebek gila yang membebaskan macan hutan dari perbudakan, maka kutukan itu bisa terlepas, jiwa iblis tidak lagi mengontrol saya lagi. Perkataan si peramal itu bagaikan sebuah teka teki yang sangat aneh, ayah dan guru saya pun menyerah, tidak mengerti.”, kata lelaki itu melanjutkan kisah masa lalunya.

“Kemudian saya ingin mengembara demi memecahkan jawaban teka teki itu. Malam itu saya pergi meninggalkan kota saya seizin ayah. Saya datang ke sini, membeli rumah ini. Saya membawa banyak harta yang diberikan ayah saya. Karena takut kehabisan, saya hidup dengan pelit, menyimpan harta itu di pekarangan. Saya takut ia dicuri, maka saya harus mencari hewan penjaga. Ketika hampir membeli anjing, saya ingat teka-teki si peramal. Akhirnya saya tidak jadi membeli anjing, melainkan membeli bebek, untuk menjaga rumah saya.

“Tapi aku bukan bebek gila,” ujar Chang dengan kesal.

“Betul, Chang, kamu tidak gila, ujar tuannya sambil tersenyum. Supaya cocok dengan teka-tekinya, maka saya memberimu nama Chang, yang artinya gila.

“Oh”, ujar Hu-lin dan Chang bersamaan, “Pintar sekali!”

“Iya, namun Chang tidak pernah membawa macan hutan keluar dari perbudakan selama ini, sampai hari ini tiba!”

“Sayakah si macan hutan?” Tanya Hu-lin sambil tertawa.

“Tentu, Hu artinya Macan, dan Lin artinya kumpulan pepohonan, yang dapat diartikan sebagai hutan. Kamu juga tadi berkata bahwa kamu gadis budak. Jadi sesuai teka teki si peramal, “Chang melepaskanmu dari perbudakan.”

“Oh, saya sangat senang mendengarnya!” ujar Hu-lin. “Senang mengetahui bahwa kamu tidak harus menjadi kakek tua yang pelit lagi. “

Tiba-tiba terdengar suara majikan Hu-lin di depan rumah. Hu-lin sangat ketakutan. “Tidak perlu takut, gadis kecil yang manis. Saya akan membebaskanmu, “ ujar lelaki itu, yang keluar rumah dan berbicara dengan majikan Hu-lin untuk membeli kebebasan Hu-lin.

Hu-lin sangat bahagia, bersimpuh di depan majikan barunya dan berkata, “Oh saya sangat senang, sekarang saya milikmu selamanya, dan bebek ini akan menjadi sahabat saya untuk seterusnya.”

“Ya, tentu, ujar lelaki tampan itu sambil tersenyum. Nanti bila kamu sudah besar, saya akan memperistrimu. Sekarang ayo, kita pulang ke rumah ayah saya.”

Minggu, 05 Juli 2009

Cerpen Kisah Menjual Babi Sakit

Cerpen Kisah Menjual Babi Sakit

Gongsun Mu hidup pada masa Dinasti Han Timur. Ketika dia masih muda, keluarganya sangat miskin. Dia sangat ambisius, bekerja keras dan belajar Puisi Han. Pada musim semi dan gugur, ia belajar dengan tekun kita-kitab kuno seperti Hetu dan Loushu, terutama cara meramal masa akan datang. Dia juga dikenal sebagai seorang yang jujur dan baik, sehingga disegani orang lain.

Gongsun Mu memelihara babi. Ketika salah satu ekor babinya sakit, ia lalu meminta seseorang untuk menjual babi itu di pasar. Gongsun Mu berkata kepada orang tersebut, ”Jika babi itu ada yang berminat, kamu harus memberitahukan pembelinya kalau babi ini sakit, dan kamu harus menjualnya dengan harga yang murah dan pantas. Jangan menipu orang dan meminta harga yang tinggi.” Saat menawarkan babi, orang tersebut tidak memberitahu pembeli bahwa babi itu sakit dan babi itu dijual dengan harga yang sangat tinggi. Setelah mengetahui kejadian ini, Gongsun Mu segera pergi ke pasar dan mencari pembelinya. Dia memberitahu kepada pembeli itu, ”Babi ini sebenarnya sakit. Saya ingin menjualnya dengan harga rendah. Saya tidak menyangka orang tersebut menjual babi tersebut dengan harga tinggi.” Kemudian dia mengembalikan separuh uang kepada pembeli itu.


Sementera itu, ada seorang kaya-raya yang bernama Wang Zhong. Dia berkata kepada Gongsun Mu, ”Kamu dapat melakukan hal-hal yang hebat kalau kamu mempunyai uang. Saya ingin memberi kamu satu juta koin untuk berbisnis. Apa pendapatmu?” Gongsun Mu telah belajar kitab Hetu, Luoshu dan buku-buku kultivasi lainnya. Dia mengerti hukum langit dan takdir pertemuan. Dia berkata, ”Saya sangat menghargai kebaikanmu! Menjadi kaya atau miskin adalah keputusan langit. Saya akan mendapatkannya jika itu ada dalam kehidupan saya. Saya tidak boleh menerima!”


Karena Gongsun Mu mempunyai kebajikan dan kebijakan, dia direkomendasikan mempunyai “Xiao Lian”. “Xiao Lian” adalah salah satu kriteria untuk menyeleksi pejabat. Xiao bermakna penghormatan dan kasih sayang orang tua; Lian bermakna tidak dapat disuapi. Peraturan dari Pengadilan Kaisar menyatakan bahwa orang yang tidak mempunyai sifat Xiao dan Lian tidak memenuhi syarat menduduki posisi sebagai seorang pejabat.


Sejak itulah Gongsun Mu diangkat sebagai pejabat setelah lulus ujian seleksi. Ketika sebagai seorang pejabat, pencapaiannya menjadi pembicaraan dan dia sangat terkenal karena kebaikannya. Begitu juga kelima anak laki-lakinya terkenal karena kebaikan mereka. Cerita “Gongsun Mu Menjual Babi” menjadi contoh moral selama beberapa ribu tahun dan cerita tersebut membawa sanjungan terhadap kejujuran dan integritas.

Cerpen, cerita pendek, cerita lucu, cerita anak

Rabu, 01 Juli 2009

Cerpen Pentingnya Belajar dengan Baik


Cerpen: Pentingnya Belajar dengan Baik

Ada seorang guru privat, dia menempuh perjalanan seorang diri di tengah malam, tiba-tiba menjumpai teman yang sudah meninggal. Karena biasanya dia bernyali besar, maka diapun tidak takut.
Dengan kemauan sendiri dia bertanya kepada temannya yang sudah meninggal ini, "Anda sekarang ini hendak kemana ?"
Temannya menjawab, "Saya sekarang menjadi petugas di alam baka, sekarang hendak pergi menangani urusan di selatan desa, kebetulan kita berdua searah."
Guru privat ini lalu berjalan bersama temannya, ketika melewati sebuah rumah lama, petugas alam baka itu berkata, "Di dalam rumah ini tinggal seorang terpelajar yang berbudi luhur dan berwibawa tinggi!"
Guru swasta itu lalu bertanya, "Bagaimana Anda bisa mengetahui bahwa didalam rumah ini tinggal seorang terpelajar yang berbudi luhur dan berwibawa tinggi?"
Petugas alam baka itu menjawab, "Orang yang masih hidup, pada pagi hari karena sibuk dengan urusannya, maka intelijensinya tertutupi. Sampai pada malam hari ketika dia tidur, dan tidak berpikiran apa pun, maka Yuanshen-nya (jiwa primanya) akan nampak keluar."
"Jika dia biasa membaca buku yang baik, seperti Lun Yu dari Kong Zi, Li Sao dari Qu Yuan, Shi Ji dari Si Ma Qian dan lain-lain, maka setiap huruf yang memancarkan cahaya, akan memancar keluar dari ratusan titik akupunktur, beraneka warna dan indah cemerlang."
"Yang paling tinggi bisa berebut kilau dengan bulan dan bintang. Yang agak kurang, cahayanya bisa mencapai beberapa puluhan meter. Lebih rendah lagi, cahayanya bisa mencapai beberapa meter."
"Menurut urutan, yang paling rendah, sinar cahayanya kecil bagaikan sinar dari kunang-kunang atau lampu kecil, hanya menerangi ruangan. Pemandangan seperti ini, tidak bisa terlihat oleh orang biasa, tetapi hantu dan dewa bisa melihatnya."
Guru privat ini bertanya lagi kepada temannya, "Saya membaca buku sudah selama hampir lima puluh tahun, ketika saya tidur nyenyak pancaran sinar saya seberapa tinggi?"
Petugas alam baka tersebut agak ragu sejenak, lalu dia menjawab, "Saya kemarin lewat di depan rumahmu, Anda sedang tidur siang. Anda membaca buku memang sangat banyak tetapi yang bermutu sangat sedikit. Kebanyakan buku-buku yang Anda baca adalah jenis-jenis buku yang sesuai zaman, yang hanya untuk mencari keuntungan pribadi serta buku-buku hobi yang melemahkan tekad untuk maju."
"Setiap huruf-hurufnya berubah menjadi asap hitam, menyelubungi rumah, seperti di dalam kabut awan yang tebal, sama sekali tidak terlihat sinar cahayanya."
Setelah mendengar kata-kata ini, guru privat itu bukannya memeriksa diri dengan penuh kerendahan hati, sebaliknya dia dengan murka mencela temannya itu.
Petugas alam baka itu tidak hendak bertengkar dengan dia, ia hanya tertawa dan menghilang.
Otak manusia sama seperti sebuah penampung, bila ke dalamnya diisi oleh benda apa, maka ia akan menjadi benda itu. Karena itu harus selektif dalam membaca buku maupun menonton film. Usahakan banyak membaca buku-buku yang baik, dan jangan membaca buku-buku yang tidak baik serta yang tidak bermanfaat. Juga jangan menonton film-film yang penuh kekerasan dan yang tidak mendidik .
Untuk menjaga kemurnian jiwa dan pikiran, maka banyak membaca buku yang baik dipercaya dapat melenyapkan karma (dosa), dan menambah substansi putih (de, = pahala) pada diri kita. Orang tersebut juga akan berubah menjadi orang yang berbudi luhur. Jika dipandang dari dimensi lain, maka orang tersebut akan memancarkan cahaya yang luar biasa.
Jika terlalu banyak membaca buku yang tidak baik, maka benda-benda tidak baik juga akan banyak terisi ke dalam otak, dan orang tersebut juga akan berubah menjadi orang jahat.
Orang yang mempunyai kemampuan (mata ketiganya terbuka), maka ia dapat melihat pancaran yang dikeluarkan oleh orang tersebut adalah hawa hitam pekat yang jahat. Tentu tidak ada ruginya bila kita waspada.

Kamis, 25 Juni 2009

Gadis Bangau dari Jepang


Cerpen, Gadis Bangau dari Jepang

Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Pekerjaannya adalah mencari kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju.

Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.

Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju. "Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku," ujar Yosaku. "Nona mau pergi kemana sebenarnya ?", Tanya Yosaku. "Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat." "Bolehkah aku menginap disini malam ini ?". "Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan." ,kata Yosaku. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap". Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak.

Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan lebatnya. "Tinggallah disini sampai salju reda." Setelah lima hari berlalu salju mereda. Gadis itu berkata kepada Yosaku, "Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini." Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu. "Mulai hari ini panggillah aku Otsuru", ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun.

Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun. Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai. "Ini tenunan ayanishiki. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang. "Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. "Baiklah akan aku buatkan", ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.

Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya. "Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya", kata Otsuru.

Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru. "Akhirnya kau melihatnya juga", ujar Otsuru.

"Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong", untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini," ujar Otsuru. "Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu", lanjut Otsuru. "Maafkan aku, kumohon jangan pergi," kata Yosaku. Otsuru akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terbang keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Yosaku sendiri yang menyesali perbuatannya.

Rabu, 24 Juni 2009

Rusa Sembilan Warna


Cerita pendek Rusa Sembilan Warna

Pada zaman dahulu kala, di pinggir sungai Heng tinggal seekor Rusa yang lain dari yang lain, bulu ditubuhnya memiliki 9 warna. Pada suatu hari, di atas sungai itu tiba-tiba terdengar suara teriakan “Tolong!tolong!”, ternyata seseorang jatuh ke dalam sungai. Rusa 9 warna mendengar teriakan orang itu, lalu tanpa memikirkan keselamatan sendiri, Rusa itu meloncat ke sungai, berenang ke samping orang itu untuk menolongnya. Rusa 9 warna berkata pada orang itu: “Cepat naik ke atas punggung dan pegang erat tandukku”.
Demikian Rusa 9 warna menyelamatkan orang itu. Orang itu terus berkata pada Rusa 9 warna, “Terimakasih telah menyelamatkan saya, bagaimana saya harus membalas budimu ini?” Rusa 9 warna menggeleng-gelengkan kepala dan dengan lirih berkata, “Saya menolongmu, bukan ingin mendapat imbalan, asalkan kamu tidak menceritakan tentang peristiwa ini kepada orang lain, itu sudah cukup bagiku. Setelah itu, Rusa 9 warna membiarkan orang itu pergi.
Beberapa hari kemudian, Raja megumumkan pemberitahuan kepada seluruh rakyat di negerinya, “Bagi siapa yang dapat membantu raja menangkap Rusa 9 warna, akan diberikan hadiah!”
Setelah kembali ke kota, orang itu mengetahui raja sedang menawarkan hadiah besar bagi orang yang dapat menangkap Rusa 9 warna. Namun, tidak ada seorangpun yang pernah bertemu dengan Rusa 9 warna, apalagi mengetahui dimana keberadaan Rusa 9 warna itu. Dalam benak orang itu berpikir, “Kesempatan saya untuk menjadi kaya akhirnya datang juga.”
Lalu, orang itu datang menemui raja, meminta raja membawa serta prajurit untuk ikut bersama dengannya menangkap Rusa 9 warna itu. Pada saat itu, Rusa 9 warna sedang tidur nyenyak di pinggir sungai, burung kecil yang telah mengetahui hal itu segera memberi kabar, “Celaka, celaka, raja membawa prajuritnya datang menangkapmu, cepat tinggalkan tempat ini!saya tidak akan kabur.” Namun Rusa itu ingin mengatakan sesuatu kepada raja. Rusa 9 warna bertanya, “Baginda, siapakah yang memberitahu anda, saya berada disini?” Raja menunjuk orang itu, dan mengatakan: Dia. Rusa 9 warna menatapi orang itu, dan dengan menitikkan air mata berkata, “Saya tidak mempedulikan segala resiko untuk menyelamatkanmu dari dalam sungai, tetapi, kamu malah membawa orang datang menangkapku.”
Mengetahui keadaan demikian, lantas raja memerintahkan prajuritnya supaya jangan memanah Rusa 9 warna, bahkan mulai hari ini melarang siapapun menangkap Rusa 9 warna. Begitu mendengar raja berkata demikian, saking panik dan gugupnya orang itu mundur ke belakang, sehingga terpeleset dan akhirnya mati tenggelam jatuh ke dalam sungai.
Tanpa peduli dengan segala resiko dan keselamatan diri sendiri, Rusa 9 warna menolong orang, namun, orang yang telah ditolong oleh Rusa 9 warna itu mengingkari janjinya, demi untuk mendapatkan hadiah uang lalu mengkhianati Rusa 9 warna yang telah berbudi terhadap dirinya. Karena dia telah berbuat jahat, akhirnya mendapat balasan mati tenggelam ke dalam sungai
Anak-anak, kalian jangan meniru orang jahat yang tidak bisa dipercaya dan lupa balas budi, ya. Kalian harus meneladani keberanian dan kebaikan Rusa 9 warna, juga paman bibi dan kakak-kakak di sekitar kalian yang menempa diri dalam sejati, baik, sabar, jadilah orang yang lebih baik yang selalu memikirkan orang lain. Anak-anak, jika kalian benar-benar bisa berbuat jujur, baik, toleransi dan menjalin tali kasih persaudaraan, maka guru maupun orang tua kalian pasti akan sangat gembira.

Selasa, 23 Juni 2009

Bunga Kecil Tumbuh Tegar

Cerita pendek, cerpen Bunga kecil tubuh tegar



Di pinggiran hutan tampak sekelompok bunga bermekaran indah sekali, mereka dengan riang memanggil para lebah dan kupu-kupu. “Hai lebah! disini ada bunga yang harum dan penuh madu!”, sahut salah satu bunga. Bunga yang lainnya juga tidak mau kalah, “Hai kupu kupu, cepatlah kemari! bungaku penuh madu yang manis dan lezat”. Bunga pertama tetap tidak mau mengalah, “Itu adalah Lebah bukan kupu kupu!”, dibalas temannya, “Bukan , itu adalah kupu kupu!”. Lebah ! Kupu kupu ! Lebah ! Kupu kupu !, kedua bunga itu berdebat. Bunga bunga yang lain tertawa melihat mereka. Ha ha ha ha ha. Suasananya sangat ceria.
Diam-diam, dibawah sebuah pohon besar, nampak sekuntum bunga kecil menatap dengan iri. Bunga-bunga lainnya mencoba mengajaknya, “Bunga kecil maukah ikut bermain dengan kami?”. Si bunga kecil dengan ketus menjawab, “Saya tidak mau ikut!”. Bunga-bunga lainnya heran,“Mengapa?”. Bunga kecil berkata, “Matahari bersinar terik, saya takut sinarnya akan membakar tubuhku”. “Janganlah takut, lama kelamaan akan terbiasa, matahari akan membuat kita tumbuh kuat dan semakin besar”, rayu bunga-bunga lainnya. Tetapi si bunga kecil tetap bersikeras, “Untuk apa saya menjadi kuat dan besar, bukankah sudah ada pohon besar yang selalu melindungi-ku?!”.
Tak berselang lama, ternyata hujan. Rintik-rintik air hujan membasahi para bunga. “Wah, turun hujan, turun hujan!”,terdengar teriakan bunga-bunga. “Waktu mandi telah tiba lagi!”, sahut bunga A. Mereka dengan riang bersenandung, “La la hu, la la hu, assyiikk sungguh enak dan nyaman!”. Bunga kecil melihat mereka sambil bergerutu, “Kalian semuanya basah kuyup, apanya yang asyik!”. Beberapa saat, sang pelangi pun muncul. “Hai kakak Pelangi apa kabar? ” sapa para bunga. “Kakak pelangi cantik sekali, berwarna warni!” puji bunga A.
“Di mana? Di mana kakak Pelangi?” si bunga kecil karena tertutup oleh pohon besar sehingga tidak bisa melihat pelangi, “ Ah sudahlah, kakak Pelangi pasti tidak akan bisa lebih cantik dariku”. Tiba-tiba bunga B berteriak, “Ssstttt, pelankan sedikit suaramu, ada manusia datang!” Dari kejauhan terlihat dua sosok manusia mendekati mereka, salah seorang membawa kapak besar sambil menunjuk, “Itu pohonnya, apa yang saya katakan tidak salah bukan?”. Temannya melihat, “Iya, betul! Itu pohon yang sangat besar, ayo kita tebang pohon itu”.
Terdengar suara hiruk piruk, “Celaka , celaka mereka mau menebang pohon besar ini!’’ Sang bunga kecil berteriak, “Hentikan , hentikan, pohon ini punyaku!” Melihat manusia terus menerus mengayunkan kapak ke tubuh pohon besar, bunga kecil sambil menangis sambil terus berteriak dan gemetar. Bunga A berkata, “Adik bunga, manusia tidak mengerti bahasa kita”.
Akhirnya pohon besar telah ditebang, dibawah rintik-rintik hujan, sang bunga kecil terkurai lemas. Para bunga merasa iba, “Adik bunga, ayo bangkitlah! jangan engkau merasa tak berdaya”. Bunga kecil hanya bisa merintih, “Tidak bisa, saya sudah tidak berdaya, saya hanya menunggu ajal”. Bunga A berkata, “Jangan berkata demikian, kami semua akan menemanimu”. Langit bertambah gelap, “Lihatlah ada segerombolan awan hitam, kita semua bersiap-siap, hujan lebat akan segera turun!”, bbrrr, hujan lebat turun disertai petir, tapi para bunga telah siap menghadapinya. Bunga kecil dengan suara lemas berkata, “Saya sungguh kagum, hujan dan badai pun kalian tidak takut.”. Bunga A menjawab, “Ini hal biasa, tidak akan mempersulit kami”. Suara bunga kecil makin melemah, “Maaf, saya mungkin tidak bisa setegar kalian, saya harus berpamitan dulu”. Bunga kecillll!
Ketika siuman, bunga kecil masih ditemani oleh teman-temannya. Bunga A berkata, “Bunga kecil, saya mendadak teringat pengalaman yang sama sepertimu” “Benarkah?”, suara bunga kecil masih terdengar lirih. “Iya, waktu itu tubuh kita semua kecil dan kurus, juga tidak tahu bagaimana bentuk hujan badai dan petir”. Bunga B melanjutkan, “Sehingga sewaktu hujan dan badai kami sangat menderita, tetapi kami selalu bersama dan saling memberi semangat”. Para bunga pun mengenang masa lalu, “Setiap kali badai berlalu, kami mengibaskan air hujan dan perlahan lahan meluruskan badan lalu menyapa paman matahari”. Dan Paman matahari berkata, “Bunga bunga yang tegar, kalian tampak semakin tinggi aja, ha ha ha ha…” “Segala rintangan malah membuat diri kami semakin tumbuh kuat dan sehat. Bunga kecil, kamu juga bisa seperti kami, bukankah pohon besar itu pun selalu menyemangatimu”, bunga A menyelesaikan ceritanya.
Bunga kecil terdiam, teringat akan ucapan sahabatnya si pohon besar, “Kamu harus berani dan tegar, jangan lupa bahwa pohon yang besar itupun berasal dari pohon kecil”. Pelan-pelan, bunga kecil berusaha bangun kembali,“Baiklah, saya sekarang akan bangkit dan menjadi tegar”.
Pagi yang cerah, para lebah dan kupu-kupu sedang bekerja. Para bunga pun berteriak, “Hai lebah! Disini ada bunga yang harum dan penuh madu!” Bunga yang lainnya juga tidak mau kalah, “Hai kupu kupu, cepatlah kemari! Bungaku penuh madu yang manis dan lezat”. “Itu adalah lebah bukan kupu kupu!”, dibalas temannya, “Bukan, itu adalah kupu kupu!” Si Bunga kecil ikut berteriak. Bunga kecil telah tumbuh besar dan kuat. Lebah ! Kupu kupu ! Lebah ! Kupu kupu !, Ha ha ha… Mereka semua tertawa bersama dibawah sinar hangat paman matahari.
Segala rintangan dan kesulitan yang adik-adik hadapi, akan mengembleng kalian semakin dewasa, kuat dan tabah. Yang penting jangan cepat menyerah. Ayo!!

Cerita Jaka Gembala dan Putri Tenun

Cerpen, cerita pendek, cerita jaka gembala dan putri tenun



Jaka Gembala dan Putri Tenun

Putri Tenun tinggal di ujung timur bimasakti, ia adalah putri bungsu kekaisaran langit, karena sangat mahir menenun, jadi semua orang memanggilnya “Putri Tenun”.
Setiap hari dengan tekun dan sibuk Putri Tenun selalu menenun kain. Pagi hari, ia menenun bumi dengan berlaksa-laksa berkas sinar mentari; siang hari, ia menenun langit cerah tanpa awan yang berarak; senja hari, ia menenun matahari senja yang berawan kemerah-merahan; malam hari, ia sibuk menghiasi langit bertabur bintang yang berkelap-kelip di atas kain.
Ia bekerja dengan susah payah setiap hari, namun ia sangat kesepian, karena itu selalu berkeluh-kesah, tidak bahagia. Di ujung barat bimasakti ada seorang jejaka yang menggembalakan sapi, pekerjaannya adalah memelihara sapi di langit. Ia memberi makan sekelompok sapi dengan rumput segar dan memandikannya, pekerjaannya setiap hari banyak sekali. Tetapi Jaka Gembala, demikian dia dipanggil adalah seorang pemuda yang jujur dan rajin, ia bekerja dengan tekun setiap hari, sapi-sapi di langit itu dipeliharanya dengan baik sehingga menjadi gemuk dan sehat, Kaisar Langit sangat mengaguminya.
Suatu hari, Kaisar Langit memanggil dan mempertemukan Jaka Gembala dan Putri Tenun.
“Putri Tenun, saya lihat kamu bekerja dengan susah payah setiap hari, tetapi selalu tidak gembira. Usiamu juga sudah tidak kecil lagi, saya bermaksud menjodohkanmu dengan Jaka Gembala, tidak tahu apakah kamu bersedia atau tidak?” demikian tanya Kaisar Langit pada Putri Tenun.
Putri Tenun tahu, bahwa Jaka Gembala adalah seorang pemuda yang jujur dan bertanggung jawab, ia lantas berkata: ”Segalanya diserahkan pada paduka untuk memutuskan.” Seusai berkata, dengan malu-malu ia menundukkan kepalanya. Mengetahui hal ini, Kaisar Langit sangat gembira, lantas berkata: “Jaka Gembala, saya paling menyayangi putri bungsu ini, dapat dikatakan ia pandai dalam berbagai hal. Dan saya lihat, kamu juga seorang pemuda yang berprestasi, sekarang saya akan menjodohkan sang putri denganmu, apakah kamu bersedia?”
Jaka Gembala memandang putri tenun, dan menilai ia adalah seorang gadis yang manis dan lembut, lalu dengan gembira menyetujuinya.
Sejak itu, Jaka Gembala dan Putri Tenun hidup bahagia dan saling mencintai. Mereka sering saling bergandeng tangan, berjalan-jalan di langit, menikmati pemandangan. Hidup bersama dengan Jaka Gembala, Putri Tenun selalu merasakan sesuatu yang baru dan menarik, sebab dulu ia tidak pernah ke luar rumah dan berjalan-jalan. Ia sibuk bekerja setiap hari, sama sekali tidak mungkin ada kesempatan untuk istirahat.
Begitu juga dengan Jaka Gembala, dulu karena harus menggembalakan sapi, jadi setiap kali hanya bisa berada di padang rumput, kini ada Putri Tenun yang menemani, bermain bersama dan berkeliling ke mana saja, benar-benar bahagia sekali.
Namun mereka berdua lupa akan pekerjaannya masing-masing. Putri Tenun lupa menenun, akibatnya terlihat sehamparan kosong di langit, tidak ada lagi warna langit yang indah; sedangkan Jaka Gembala lupa menggembalakan sapinya, akibatnya sapi di langit berkeliaran tidak menentu, sehingga membuat kerajaan langit menjadi kacau berantakan. Dengan marah, Kaisar Langit berkata pada mereka: “Kalian berdua benar-benar membuat saya sangat kecewa, sepanjang hari kerjanya main dan main saja, sehingga mengabaikan pekerjaan masing-masing, saya memutuskan akan menghukum kalian. Mulai hari ini, kalian kembali ke tempat kerja masing-masing. Dan baru boleh bertemu tiap tanggal 7 Juli setiap tahun, terkecuali hari yang disebutkan ini, tidak boleh bertemu. Jika kalian melanggar perintah, maka kalian akan dihukum mati.”
Sejak itu, Jaka Gembala dan Putri Tenun terpaksa bekerja sambil dengan sabar menanggung derita kerinduan hanya mengharapkan datangnya 7 Juli itu. Dan karena sangat menaruh simpati dengan derita yang dialami Jaka Gembala dan Putri Tenun, lalu tepat pada 7 Juli, si murai membuat sebuah jembatan untuk mereka agar supaya bisa bertemu di atas jembatan untuk saling mengutarakan derita kerinduan mereka.

Saat mata singa berubah menjadi merah

Cerita pendek, cerpen, cerita saat mata singa berubah menjadi merah



Saat Mata Singa Berubah Menjadi Merah

Untuk waktu yang lama, orang-orang Tionghoa percaya dengan Dewa-Dewa dan menghormati Buddha-Buddha. Seperti cerita-cerita budi pekerti lainnya, cerita ini juga terjadi di masa lampau. Dikisahkan Bodhisattva Dizang turun ke dunia manusia, akan tetapi dia menemukan bahwa manusia sudah tidak percaya lagi dengan para Dewa dan Buddha.
Dengan belas kasih-Nya yang maha besar, dia memutuskan untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang terakhir yang masih mempercayai Mereka. Bodhisattva Dizang menjelma diri-Nya menjadi seorang pengemis, berkeliling meminta makan dari satu rumah ke rumah lain di dusun itu. Tidak ada satu orang pun yang memberikan makanan pada-Nya dan juga tidak ada satu rumah pun mempunyai altar untuk sembahyang. Sewaktu sampai ke ujung desa, Dia melihat seorang perempuan tua sedang membakar hio di depan patung Buddha.
Dia pergi kesana dan mengemis makanan. Dengan malu-malu perempuan tua itu berkata, “Saya hanya sisa satu mangkuk nasi. Kamu boleh ambil setengahnya, karena saya harus menyimpan separuhnya lagi untuk dipersembahkan pada Buddha.”
Melihat kebaikan dan ketulusan hatinya kepada Buddha, Bodhisattva Dizang mengungkapkan padanya apa yang akan terjadi. Dia menunjuk pada sepasang patung singa di ujung desa dan berkata, “Ketika mata singa-singa itu berubah menjadi merah, itu meramalkan banjir besar akan segera datang. Kamu harus secepatnya lari ke atas puncak bukit. Saya dapat menjamin kamu akan selamat.” Setelah itu, Bodhisattva yang menjelma menjadi pengemis itupun pergi.
Perempuan tua yang baik hati itupun segera memberitahukan kata-kata pengemis itu kepada seluruh penghuni desa. Akan tetapi tidak seorangpun yang mempercayainya. Sebaliknya mereka malah mengejeknya. Mereka mengatakan bahwa dia sudah gila dan percaya takhayul: Bagaimana mungkin mata sepasang patung singa batu itu bisa berubah menjadi merah? Perempuan tua itu terus memohon pada penghuni-penghuni desa untuk mempercayainya, tapi mereka tetap tidak mau.
Perempuan tua itu terus mengingat ramalan pengemis itu dan dia setiap hari memeriksa mata sepasang patung singa. Suatu hari, beberapa penghuni desa yang nakal memutuskan untuk mempermainkannya, “Ayo, kita permainkan perempuan tua itu; ayo kita cat mata patung singa menjadi merah.”
Begitu melihat ternyata mata sepasang patung singa benar berubah menjadi merah, perempuan tua itu menjadi panik. Dia langsung lari ke desa dan berteriak memberitahukan mereka, “Cepat lari! Banjir besar akan segera datang!” Tapi tidak seorangpun yang mendengarkannya. Mereka terus menertawakannya sampai sakit perut.
Karena tidak bisa meyakinkan seorangpun, akhirnya perempuan tua itu seorang diri berlari ke atas puncak bukit. Begitu dia mencapai puncak, ketika dia melihat kembali, ternyata banjir besar benar-benar terjadi, terlihat seluruh desa sudah tenggelam ke dalam air.
Dia menangis dengan kesedihan yang amat sangat.