Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Oktober 2009

Hubungan Raja dan Punggawa

cerita pendek, cerpen Hubungan Raja dan Punggawa



Pada masa dinasti Musim Semi dan Gugur (Th 722 SM – 481 SM). Suatu hari, raja Chu Zhuang / Chu Zhuang Wang menggelar pesta minum arak dan mengumpulkan para punggawanya. Di dalam perjamuan, raja dan bawahannya bagaikan satu keluarga, sambil meminum arak sambil menikmati tarian indah para dayang istana. Semuanya larut dalam suasana kegembiraan dan keakraban.

Tiba-tiba semua lilin padam, pada kesempatan itu ada seorang pejabat karena pengaruh alkohol telah menggoda selir Chu Zhuang Wang. Sang selir dengan emosi menarik lepas pita topi pejabat tersebut dan berniat menyerahkannya kepada sang raja begitu lilin dinyalakan lagi serta memohon raja menghukumnya.

Setelah Chu Zhuang Wang mengetahui kejadian tersebut, ia tidak ingin mempermalukan pejabat besarnya di depan umum yang selama ini penuh loyalitas dan ia berkata dengan penyesalan dalam hati : “Ini berkat aku mengundang mereka minum arak, banyak minum baru bisa terjadi kejadian semacam ini. Maka dari itu aku tidak ingin kejadian ini mempermalukan punggawaku."

Ia berkata, “Sekarang, harap kalian semua melepas pita topi masing-masing”. Pada saat api lilin kembali dinyalakan, pita topi para punggawa telah dilepas semua, tiada seorangpun yang tahu sebetulnya siapa gerangan yang telah menggoda si selir? Dan mereka melanjutkan pesta minum araknya dengan suka ria hingga tengah malam.

Beberapa tahun kemudian, telah muncul seorang jenderal besar yang gagah berani, orang ini ternyata adalah pejabat besar yang kala itu menggoda sang selir. Ia demi membalas budi tidak dihukum mati oleh sang raja, dengan gagah berani memukul musuh dan telah mengalahkan musuh dari negara Chu, demi pertahanan negara telah menyumbangkan jasa gemilang. Ini adalah perilaku prinsip yang adil diantara raja dan punggawanya, disebut Hubungan Raja dan Punggawa

Jumat, 11 September 2009

Dewi Kecil dan Kunang-kunang


Peristiwa ini terjadi sudah sangat lama sekali, di pinggiran sebidang hutan yang luas bermukim satu keluarga petani, seorang petani dan istrinya. Mereka adalah orang-orang yang baik hati juga rajin. Maka itu, dalam sekian tahun ini mereka tidak pernah kekurangan sandang pangan, selalu dalam kehidupan tanpa rasa khawatir sedikit pun, tetapi dalam hidup mereka selalu merasakan seperti kekurangan sesuatu, membuat mereka merasa hati kurang mantap. Ternyata, mereka sampai saat itu masih belum mempunyai satu orang anak pun. Cita-cita mereka yang paling besar saat itu adalah mempunyai seorang anak, supaya bisa mencurahkan seluruh hatinya untuk mencintai si kecil ini.

Pada malam hari itu juga, sewaktu dua orang tua itu sedang siap tidur. Mereka berdua sama seperti biasanya berkata pada diri sendiri: "Hai, bila kami bisa mempunyai seorang anak yang bisa bernyanyi, berlompat-lompat alangkah baiknya! Kami begitu ingin mempunyai seorang anak." Ketika mereka dengan suara rendah meracau, tiba-tiba di dekat rumah mereka muncul sebuah sorotan cahaya yang aneh, sinar cahaya ini menerangi seluruh hutan. Pemandangan ini membuat mereka tercengang, seumur hidup mereka tinggal di sini tidak pernah melihat fenomena tersebut. "Wah, apa yang terjadi?"

Lalu mereka memutuskan untuk keluar rumah melihat apa sesungguhnya yang terjadi. Ketika menelusuri cahaya tersebut, dengan cepat ketahuan di tengah cahaya cemerlang berdiri seorang gadis kecil yang cantik. Si gadis ini sungguh cantik sekali, ia mengenakan setelan rok dan blus berwarna putih dan bersih, wajahnya bagaikan rembulan terang yang jernih dan bersinar. Di bawah selubung sinar bintang dan bulan, seluruh tubuh memancarkan cahaya putih perak. Sepasang suami-istri lansia ini tidak pernah menemui gadis secantik ini, sungguh tidak berani mempercayai mata diri sendiri!.

Tiba-tiba melihat si gadis itu berjalan perlahan-lahan hingga di depan mereka, dengan suara lembut berkata: "Saya adalah putri dari dewi surga. Saya di surga bisa melihat kehidupan kalian sehari-hari, saya tahu kalian sedang berbuat apa dan memikirkan apa saja. Saya tahu kalian adalah orang yang baik hati, jujur dan rajin, hanya keinginan mempunyai anak sudah sedemikian lama belum bisa terwujud. Saya terharu oleh ketulusan hati kalian, dengan diam-diam saya meninggalkan surga ingin menjadi putri kalian untuk satu jangka waktu." Petani tua dan istri setelah mendengarnya, masih belum percaya. "Ini apakah benar? Cita-cita kami ingin mempunyai seorang anak apakah benar telah tercapai? Lagi pula adalah seorang gadis dari surga yang begitu cantik dan menakjubkan. Apakah bukan mata sudah kabur?"

Saat itu si dewi kecil lebih mendekat lagi, "Ini benar, mata Anda tidak kabur, sekarang mari kita bersama-sama pulang." Si petani dan istri setelah mendengar perkataan dewi kecil luar biasa senangnya. Mereka dengan riang gembira membawa dewi kecil pulang. Sejak itu, istri petani setiap hari menyiapkan makanan yang lezat untuk dewi kecil, juga sering menjahit pakaian bercorak yang cantik untuknya. Mereka bersama-sama bermain dan bernyanyi. Setiap malam, istri petani duduk di samping ranjang dewi kecil membacakan buku dan menceritakan banyak dongengan yang menarik, sampai dewi kecil tertidur.

Siang hari mereka menanam bunga di taman bunga, saat musim semi tiba, taman bunga penuh dengan bunga segar yang indah cemerlang. Sejak itu, dewi kecil, petani dan istrinya hidup bahagia bersama melewatkan hari-hari dengan penuh gembira dan bahagia. Karena dewi kecil cerdas dan manis, hatinya sangat baik dan jujur, oleh sebab itu orang-orang yang tinggal di sekitarnya sangat menyukainya, terutama anak-anak semuanya senang berteman dengannya. Anak-anak mengajarkan dia nyanyian dan dendang, dan dia menyanyikan lagu-lagu yang merdu dari atas langit sana, juga menceritakan kepada mereka keajaiban dan keindahan langit. Karena ketulusan dan kebaikan hatinya, terhadap siapa pun dia selalu sangat baik, juga suka menolong siapa saja yang ditemuinya.

Hal itu berlangsung selama beberapa tahun. Hingga pada suatu hari, petani dan istrinya tiba-tiba menemukan setiap malam hari tiba, dewi kecil menjadi sangat diam. Dia selalu seorang diri duduk di undakan depan rumah menengadah langit malam. Petani dan istrinya sangat mengkhawatirkannya. Akhirnya pada suatu hari, dia berkata pada petani dan istrinya, "Beberapa tahun ini saya hidup bersama kalian merasa sangat gembira, tapi itu di luar sepengetahuan ibuku. Saya dari surga diam-diam turun kemari, hal ini di atas langit adalah tidak diperbolehkan. Sekarang ibu telah menemukan saya, saya sudah tidak bisa bersama kalian lagi, besok ibu akan menjemput saya pulang ke rumah di atas langit."

Petani dan istrinya sepertinya sudah menduga semuanya ini: Si dewi kecil adalah dewi, mana mungkin selamanya hidup bersama mereka? Tetapi begitu mendengar dewi kecil akan meninggalkan mereka, sungguh tidak tega melepaskannya, merasa datangnya terlalu dini, terlalu cepat! Mereka bertiga sama-sama merasa sangat sedih.

Dua hari kemudian bulan muncul di langit yang gelap, cahaya sinar berwarna putih perak bagaikan jembatan langit dari surga lurus menembus ke bawah, langsung menuju rumah kecil yang ditinggali dewi kecil. Si dewi kecil kaget terbangun oleh cahaya terang tersebut, dia memandang ke luar jendela mengikuti arah cahaya, di tengah cahaya terlihat ada seorang dewi perlahan-lahan turun ke bawah. Dewi kecil mengerti inilah saatnya ibu membawa dia pulang ke surga. Dia lalu memegang tangan ibunya bersama-sama terbang menuju ke "rumah" mereka yang sesungguhnya.

Karena dewi kecil sangat mencintai petani dan istrinya, dia dengan berat hati menjatuhkan selayang pandang yang terakhir ke bumi. Butiran air mata gemerlapan di wajahnya, dia sangat mengharapkan mereka bisa mengetahui, bahwa dia sangat mencintai mereka! Sebagian jiwanya telah menyatu selamanya dengan mereka! Saat itu terjadilah keajaiban, air mata dewi kecil seperti tumbuh sayap, berterbangan turun ke bawah. Mereka memantulkan cahaya, tiba-tiba semua berubah menjadi kunang-kunang yang indah. Dewi kecil mengetahui, mulai saat itu, setiap kali petani dan istrinya melihat kunang-kunang berterbangan di sekitar rumah mereka, bisa mengingatkan mereka betapa bahagianya masa-masa hidup bersama dengan dirinya.

Dia berharap kunang-kunang yang indah ini bisa membawakan keajaiban bagi kehidupan semua orang. Inilah sebabnya mengapa orang sekarang setiap melihat kunang-kunang, dalam hatinya bisa diliputi rasa cinta dan rasa menakjubkan.

Selasa, 01 September 2009

Mancian di Danau Singkarak

Cerita pendek, Cerita cinta, Cerpen , Cerita misteri, Cerita bergambar, cerita cinta

Mancian di Danau Singkarak


Waktu malam minggu,sakitar jam sabaleh malam..,awak baduo samo Zikra kawan awak manciang di Danau Singkarak.., aia danau sadang riak-riak.., sakitar satu jam kami mamanciang indak ado dapek lauk nyo do.,umpan lah abih.,.

Indak Lamo kamudian tibo lah urang dari Pakan Baru singgah untuk mamanciang di tampek kami tu,kiro-kiro ado sakitar 6 urang nyo. Anak jo bini nyo sato lo mamanciang malam- malam tu..

"Lah ado Dapek ikan Diak..??",kato salah surang laki-laki tadi.

"Alun ado lai Da...", Jawek si Zikra.

"Dari caliak caro nyo mamanciang urang ko dak biaso manciang di danau do Zik..??"kato awak ka si Zikra.

"ba a tu ..??"

"caliak lah bini urang tu....,mamanciang disiko batu - batu nyo sagadang godok,,apuang-apuang nyo pake bola karah-karah sagadang godok lo."

"huakak...kahh...kah...ado ado se mah..."

Lah sakitar tigo jam mamanciang indak yo dapek ikan do ..,umpan kami lah abih.Jadi kami cuma mangawanan urang Pakan Baru tu mamanciang lai.

Indak lamo panciang salah sorang laki-laki tadi panciang nyo dibanam an apuang-apuang nyo,

"Eh lai mah Da...,"kato Zikra.

"yo...gadang takah nyo mah.,,kareh unyuik nyo..."

Bakumpualah keluarga nyo disitu untuk mancaliak hasil yang didapek an.

"Ayo ..Pa..jaan ampe lapeh Pa..",kato bini Uda tu.

Tali panciang digulung taruih, ampiang sampai ditapian lai..lah mulai nampak mangkilek-kilek.

Tau tau nyo sampai panciang diangkek,tapampang lah softek yang lakek dimato panciang paja tadi.

"Aduh...,mimpi a den samalam...,,ado darah lo lai...",kato laki-laki tadi.

Awak samo Zikra payah manahan galak.... keluarganyo galak bacampua sadiah.

Selasa, 25 Agustus 2009

Sang Raja dan Burung Kecil


Cerita pendek, Cerita cinta, Cerpen , Cerita misteri, Cerita bergambar, cerita cinta

Ada sebuah cerita kuno di India. Pada suatu siang hari, beberapa orang dewasa sedang mengobrol dengan santai di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba terdengar suara burung dengan nada sedih yang sedang berusaha terbang sekuat tenaga. Ketika dilihat seekor burung kecil terbang rendah sekali, sebentar jatuh dan terbang lagi, tetapi sama sekali tidak berhasil, tampak menderita sekali.

Di belakang burung kecil itu, ada sekelompok anak sedang mengejarnya dengan riang gembira, sementara para orang dewasa hanya tertawa terbahak-bahak dianggapnya itu mainan yang lucu. Nah, pada saat itulah muncul orang tua yang berpakai baju putih mendekati dan menghalangi anak-anak yang mengejarnya, dan berjongkok mengambil burung kecil itu pelan-pelan dengan kedua tangan.

Oh! Sayap burung itu ternyata diikat dengan tali dan di ujung tali terikat satu biji batu, pantas burung itu tidak dapat terbang! Orang berbaju putih itu merasa kasihan pada burung kecil itu. "Burung itu punya kami, pulangkan kepada kami," kata anak-anak itu dengan nada kurang sopan. Tapi, orang berbaju putih itu berujar, "Aku akan membeli burung ini, berapa harganya?" Mendengar uang, anak-anak itu sangat gembira dan menjualnya kepada orang itu. Orang berbaju putih tersebut dengan penuh belas kasih membuka talinya dan melepaskannya, burung itu terbang berputar-putar di atas kepalanya dengan riang seolah ingin mengucapkan terima kasih.

Selanjutnya, orang berbaju putih ini mengelus kepala anak-anak itu: "Lihatlah anak-anak, burung kecil itu terbang bebas dan bernyanyi gembira, ini indah sekali bukan? Setiap jiwa pun mempunyai harga dan hak untuk hidup, ini adalah jiwa yang indah di dalam langit bumi." Anak-anak itu hanya menundukkan kepala, dan orang-orang dewasa yang di samping itu juga merasa malu. Orang berbaju putih sekali lagi mengelus kepala setiap anak, lalu pergi. Mereka melihat bayang-bayang di belakangnya, terdapat kelapangan dada yang luar biasa, dengan kelembutannya bertutur. Tiba-tiba seorang anak berujar, "Aku ingat! Beliau adalah sang raja kami."

Saat itu adalah zaman kerajaan di mana rajanya seorang penganut agama Buddha yang taat, rakyatnya disayang seperti anaknya sendiri, sering memakai berbaju putih, masuk ke perkampungan penduduk untuk memahami keadaan rakyat, dan sering menolong orang yang susah. Sebagai sesama, kita berusaha memahami jiwa yang indah, dan juga harus selalu bermurah hati kepada orang yang membutuhkan pertolongan, serta memupuk kasih sayang kepada semua jiwa.

Selasa, 21 Juli 2009

Memandang Api dari Seberang Pantai

Di masa negara-negara sedang berperang (Tiongkok kuno), terdapat seorang penasehat terkenal bernama Chen Zheng. Suatu hari, ketika Chen Zheng mengunjungi negara Qian, Kaisar Qian Huei mengambil kesempatan meminta nasehat pada Chen Zheng tentang apakah beliau harus campur tangan sebagai wasit dalam konflik antara negara Han dan Wei. Chen Zheng lalu bercerita pada Kaisar Qian Huei tentang kisah bagaimana Bian Zhuangzi membunuh harimau. Harimau ganas, galak.

Kisah ini tentang seorang pemuda bernama Bian Zhuangzi. Suatu hari dia melihat dua ekor harimau sedang bertarung memperebutkan seekor kerbau. Dia hendak menarik pedangnya membunuh harimau-harimau namun abdinya menghentikannya. Abdinya berkata, “Tunggulah sebentar, Tuanku. Lihat, dua ekor harimau sedang bertarung memperebutkan kerbau yang sama. Ini artinya akan ada pertarungan berdarah di antara keduanya yang tak akan terelakan. Tak diragukan bahwa yang kuat akan menang dan yang lemah akan mati. Tetapi yang kuat juga akhirnya akan terluka. Jadi mengapa tidak menunggu saja, dan anda hanya cukup membunuh sisa harimau yang terluka tersebut?”

Chen Zheng melanjutkan, “Sekarang Han dan Wei sedang bertarung satu sama lainnya seperti dua ekor harimau ini. Segera ataupun nantinya si lemah akan di taklukan oleh yang kuat. Kaisar yang mulia, mengapa tidak melakukan seperti apa yang Bian Zhuangzi perbuat, menunggu dan lihat hasilnya?. Seperti yang diprediksi Chen Zheng, Qian akhirnya mengumumkan sebagai pemenang terakhir dalam konfik antara Han dan Wei.

Umumnya perkataan ini mengandung makna tidak merespon ataupun mengambil tindakan apapun. Tetapi sebenarnya mengandung arti yang lebih dalam, yaitu membiarkan situasi yang menganggu musuh Anda berkembang sehingga Anda akan mendapat manfaat darinya. Dengan perkataan lain, tunggu dan lihat bagaimana kejadian tersebut akan bekerja sesuai perkembangan yang Anda harapkan hingga secara alamiah berakhir. Barang akan menjadi milik siapa yang dapat sabar menunggu hingga situasi berubah menjadi keberuntungan mereka.

Kamis, 16 Juli 2009

Cerpen Sang Penguasa

Seorang Sultan terkena penyakit parah, yang masih belum diketahui namanya. Beberapa dokter dari Jawa yang khusus didatangkan sepakat, bahwa untuk penyakit tersebut tidak ada obat selain empedu dari seseorang yang memiliki pertanda tertentu.

Sang Sultan memerintahkan untuk mencari orang yang dimaksud, dan akhirnya tanda-tanda yang disebutkan oleh para dokter dapat ditemukan pada anak kecil, putra seorang petani. Ayah dan ibunya dipanggil dan diberikan banyak hadiah hingga mereka puas. Hakim memberikan pertimbangannya, bahwa diperbolehkan untuk mengorbankan darah seorang bawahan demi mempertahankan nyawa Sultan.

Ketika tiba saatnya algojo menghabisi nyawanya, anak tersebut memalingkan wajah ke langit dan tertawa. “Bagaimana kamu dapat tertawa di saat demikian?”, Sultan yang menyaksikan bertanya. Anak tersebut menjawab: Mengasuh anak dengan kasih sayang adalah kewajiban ayah dan ibu; pertimbangan hukum ditujukan ke hakim, dan keadilan dituntut dari seorang penguasa; tetapi sekarang, demi harta duniawi, ayah dan ibu telah menyerahkan saya pada kematian, hal mana juga telah disetujui oleh hakim, sedangkan Sultan melihat keselamatan dirinya dalam kematian saya; selain kepada Tuhan saya sungguh tidak melihat lagi tempat untuk berpaling.

Hati Sultan sangat tersentuh, sehingga air matanya mengalir. Sultan berkata: Lebih baik saya mati, daripada menumpahkan darah orang yang tidak berdosa. Sultan mencium kepala dan mata anak tersebut, memeluknya erat-erat dan memberikan hadiah yang berlimpah serta membiarkan anak tersebut pergi. Diceritakan, Sultan tersebut pada minggu yang sama sehat kembali.Dan membiarkan mereka hidup bagaia seperti sedia kala lagi. Kasian nyawa seorang anak kecil dikorbankan.

Cerpen Samurai


Cerita pendek, Cerita cinta, Cerpen , Cerita misteri, Cerita bergambar, Cergambar

Cerpen Samurai

Seorang samurai bertubuh kekar dan tegap pada suatu hari mendatangi seorang pertapa bertubuh kecil dan kurus. "Hai petapa," katanya dengan nada suara yang terbiasa memberikan perintah, "Ajarkan saya tentang surga dan neraka!"

Si petapa mendongakkan kepalanya memandang samurai gagah di depannya and menjawabnya:, "Mengajarkanmu tentang surga dan neraka? Saya tidak dapat mengajarkan apapun juga kepadamu. Pergilah sekarang.”

Si samurai tampak marah. Mukanya merah padam menahan rasa marah yang tinggi. Ia cabut pedangnya dan mengangkat di atas kepalanya bersiap untuk menebas petapa itu dengan pedangnya.

"Itulah neraka," kata si petapa dengan nada yang tenang.

Si samurai terkejut. Ketenangan dan kepasrahan dari mahluk kecil itu; yang bersedia mempertaruhkan hidupnya, telah memberikan pelajaran mengenai neraka kepadanya! Ia perlahan menurunkan pedangnya. Ia merasakan rasa lega dan tiba-tiba merasa sangat tenang.

"Dan itulah surga," kembali si petapa berkata dengan tenang.

Senin, 13 Juli 2009

Cerpen Tempat Air Suci yang Angkuh

cergam, cerita anak, cerita cinta, cerita dongeng, cerita misteri, cerita pendek, cerpen, keindahan bali


Cerpen Tempat Air Suci yang Angkuh

Zaman dahulu kala, ada sebuah vas di surga. Dewi Kuwan Im menggunakan vas tersebut untuk menaruh air suci pengobat segala penyakit dan ranting daun. Vas itu telah bersama Dewi Kwan Im di surga selama ribuan tahun dan berpikir bahwa ia sangatlah berarti bagi Sang Dewi. Suatu hari, Dewi Kwan Im berkata kepadanya, "Kamu telah menjadi kotor dan tidak bisa lagi tinggal di sini. Kamu harus turun ke bawah sesuai tingkatanmu sekarang." Vas itu berkata dengan cemas, "Dewi Kwan Im, saya tidak kotor! Saya bersih dan berkilau seperti dulu saya diciptakan. Saya tidak tercemar ataupun tergores!" Dewi Kwan Im menjelaskan dengan sabar, "Ya, penampilan kamu masih secantik dahulu, tapi pikiran dan sifatmu sudah menjadi buruk. Kamu tidak lagi sesuai dengan kriteria di alam ini!' Vas itu mulai memohon, "Dewi Kwan Im, saya telah bersama Anda selama bertahun-tahun, bisakah Anda membuat pengecualian untuk saya?" Dewi Kwan Im tersenyum dan berkata, "Membandingkanmu dengan kamu yang dulu, sungguh berbeda jauh." Vas angkuh itu menjadi kecewa dan berkata, "Bila saya tidak lagi diterima disini, saya lebih baik turun ke dunia manusia dan mencari orang yang bisa menghargai saya." Kemudian ia turun ke dunia manusia.

Begitu ia turun ke dunia manusia, ia berada di suatu rumah mewah. Ia sangat senang dengan rumah barunya. Melihat sekeliling ruangan, vas itu dipajang dengan vas-vas antik lainnya dari berbagai dinasti Tiongkok kuno dalam sebuah lemari kaca. Vas itu kemudian berpikir, "Saya adalah vas khayangan dari surga, vas-vas lainnya disini tidak sebanding dengan saya!" Pada kenyataannya, sang pemilik juga memperlakukan vas tersebut dengan istimewa, dia membersihkan vas itu dengan cairan khusus yang membuatnya tambah kinclong setiap hari. Vas itu sangat senang diperlakukan demikian dan berpikir bahwa adalah suatu keputusan yang tepat untuk datang ke dunia manusia.

Suatu hari seorang gembel datang mengunjungi rumah tersebut. Namun anehnya pemilik rumah bersikap sopan kepadanya. Dia menjamu tamu tersebut dengan makan malam yang mewah. Vas itu dalam hati berkata, "Kenapa tuan saya menjamu orang miskin itu bagaikan orang terhormat?" Setelah mereka selesai makan malam, orang kaya itu menunjukkan vas itu dan berkata, "Tuan Zhang, lihatlah harta karun yang baru saja saya miliki ini, sangat berharga bukan?" Lalu ia berkata, "Sebagai tanda terima kasih karena Anda telah menyelamatkan saya dari bahaya tenggelam waktu itu, maka saya ingin memberikan vas ini kepada Anda. Tanpa pertolongan Anda, pasti saya sudah tewas." Lalu ia memberikan vas itu kepada tamunya itu.

Merasa heran dan takut, vas itu mulai marah kepada orang kaya tersebut dan mengutuk didalam hati: "Jadi saya tidak ada artinya bagi kamu selain hanya dijadikan sebagai hadiah bagi seorang gembel.” Vas itu mencium bau busuk ikan dari gembel tersebut, dan kepingin muntah kalau saja dia bisa. Meskipun gembel tersebut menolak hadiah itu, namun orang kaya itu memaksanya. Ia berkata, "Bila Anda menolak pemberian tulus saya ini, saya akan memecahkan vas mahal ini sekarang!" Tamu itu tidak punya pilihan lain selain mengambil vas tersebut dan kemudian pamit pulang.

Kini vas itu menjadi milik gembel tesebut, dibawa pulang ke sebuah gubuk kotor dengan bau amis ikan. Vas itu hampir tidak percaya kini ia harus hidup di gubuk seorang nelayan miskin. Begitu nelayan itu masuk kedalam rumah, ia berteriak kepada istrinya, "Sayang, saya membawa pulang sebuah vas, tolong isi dengan arak dan besok akan saya bawa saat mencari ikan." Lalu seorang wanita keluar dari dapur dan mengambil vas itu. Dipegang dalam genggaman tangan wanita itu yang kasar, vas itu merasa tidak nyaman. Kemudian, ia diisi dengan arak murahan. Vas itu merasa sakit hati. Dulu ia diisi oleh air suci Dewi Kwan Im, sekarang ia diisi oleh arak murahan di dunia manusia!

Setelah beberapa lama waktu, vas itu terlihat baret, berminyak dan kotor. Sekian lama tinggal di dunia manusia, ia terbiasa dengan bau arak murahan dan melihat orang-orang di dunia manusia ini suka meminumnya. Saat araknya habis, ia merasa sedih dan rindu aromanya. Pada suatu hari yang berangin kencang, nelayan itu membawanya lagi saat mencari ikan. Ombak besar menghantam perahu dan vas itu jatuh ke laut. Tutupnya lepas dan araknya tumpah keluar. Air laut yang asin dan kotor kini masuk kedalam vas tersebut, membuatnya merasa jijik.

Saat terombang-ambing di lautan beberapa lama, vas itu teringat kepada Dewi Kwan Im. Ia mulai menimpakan segala kemalangannya kepada Dewi Kwan Im, dan mulai membencinya. Setiap kali ia mulai timbul rasa benci, ombak menghantamkan tubuhnya ke batu karang, menyebabkan beberapa bagian vas itu pecah. Kemudian ia juga mulai berpikiran buruk kepada orang kaya pemilik rumah mewah dan juga sang nelayan, membenci semuanya, tubuhnya semakin hancur diterjang ombak dan batu karang, dan akhirnya tenggelam ke dasar laut dan perlahan-lahan terkubur oleh pasir pantai. Ia tak lagi dapat melihat cahaya, semuanya gelap dan tak ada suara. Seolah-olah bahkan waktu pun telah berhenti. Ia merasa takut dan tak berdaya. Ia ingin keluar dan bebas, namun tidak bisa.

Dikelilingi oleh kesunyian abadi dan ditutup oleh lapisan tebal pasir di dasar laut yang dalam, vas itu mulai merindukan hari-hari dimana ia duduk disamping Dewi Kwan Im di surga. Begitu ia rindunya pada suasana dahulu, ia mulai lagi timbul kebencian kepada Dewi Kwan Im, pemilik rumah mewah dan nelayan itu. Lama kelamaan ia merasa bahwa ia kehilangan akalnya, dan pada akhirnya ia benar-benar kehilangan kemampuannya untuk berpikir. Yang tersisa adalah keping-kepingan vas kotor yang terkubur di dasar laut dalam.

Minggu, 12 Juli 2009

Cerpen Sang Pengusa


cerpen, cerita pendek, cerita misteri, cergam, cerita bergambar, cerita cinta, cermis

Seorang Sultan terkena penyakit parah, yang masih belum diketahui namanya. Beberapa dokter dari Yunani yang khusus didatangkan sepakat, bahwa untuk penyakit tersebut tidak ada obat yang cocok, selain empedu dari seseorang yang memiliki pertanda tertentu.

Sang Sultan memerintahkan untuk mencari orang yang dimaksud, dan akhirnya tanda-tanda yang disebutkan ditemukan pada anak kecil, putra seorang petani. Ayah dan ibunya dipanggil dan diberikan banyak hadiah hingga merasa puas. Hakim memberikan pertimbangannya, bahwa diperbolehkan untuk mengorbankan darah seorang bawahan demi mempertahankan nyawa Sultan.

Ketika tiba saatnya algojo memenggal kepalanya, anak tersebut memalingkan wajah ke langit dan tertawa. “Bagaimana kamu dapat tertawa di saat demikian?”, Sultan yang menyaksikan bertanya. Anak tersebut menjawab, “Mengasuh anak dengan kasih sayang adalah kewajiban ayah dan ibu; pertimbangan hukum ditujukan ke hakim, dan keadilan dituntut dari seorang penguasa; tetapi sekarang, demi harta duniawi, ayah dan ibu telah menyerahkan saya pada kematian, hal mana juga telah disetujui oleh hakim, sedangkan Sultan melihat keselamatan dirinya dalam kematian saya; selain kepada Tuhan saya sungguh tidak melihat lagi tempat untuk berpaling.”

Hati Sultan sangat tersentuh, sehingga air matanya mengalir. Sultan berkata, “Lebih baik saya mati, daripada menumpahkan darah anak yang tidak berdosa.” Sultan mencium kepala dan mata anak tersebut, memeluknya erat-erat dan memberikan hadiah yang berlimpah serta membiarkan anak tersebut pulang. Di luar dugaan, pada minggu itu juga Sultan sembuh dari penyakitnya.

Rabu, 08 Juli 2009

Cerpen Macan dan Bebek

cerpen, cerita pendek, cermis, cerita misteri, cergam, cerita bergambar

Hu Lin adalah budak kecil. Ia dijual ayahnya saat masih kecil, dan tinggal bersama majikannya di sebuah rumah perahu yang tertambat di pinggir sungai. Majikannya yang kejam memperlakukannya sangat buruk. Pekerjaannya banyak dan berat untuk ukuran anak kecil. Hidup ini sungguh sulit bagi si kecil Hu Lin. Dia kadang-kadang menyelinap keluar bermain di lapangan, melihat anak-anak bermain layangan. Ia senang sekali melihat layang-layang menari-nari di angkasa. Namun bila ketahuan majikannya, ia akan dipukul dengan rotan dan tidak diberi makan seharian. Suatu hari Hu Lin berniat kabur, namun belum jauh dia pergi, majikannya telah membuntutinya dan menangkapnya, dan memberi hukuman pukulan sampai Hu Lin pingsan.

Selama beberapa jam, Hu Lin terbaring di tanah, lalu mulai siuman. Sekujur badannya memar dan terasa sangat sakit bila digerakkan. Air mata berlinang di pipinya yang mungil, dan ia mendesah. “Ah..seandainya ada yang dapat membebaskan saya dari majikan...alangkah bahagianya hidupku.”

Tidak jauh dari sungai, hiduplah seorang kakek tua di rumah pondok. Kakek itu memiliki seekor bebek bernama Chang yang setia menjaga rumahnya di malam hari. Bebek itu bisa berteriak kencang bila ada orang asing mencoba masuk rumah. Di siang hari bebek itu suka jalan jalan mencari makan di sungai dan sering bertemu Hu Lin, sehingga mereka juga berteman baik. Suatu keistimewaan yang dimiliki Hu Lin bahwa ia bisa memahami apa yang dikatakan oleh Chang.

Kakek tua yang hidup di pondok itu adalah seorang kakek kikir yang mempunyai banyak harta yang disembunyikan di halaman. Chang punya leher super panjang dan sering menjulurkannya untuk melongok apa yang dilakukan tuannya. Chang yang tidak punya sanak saudara itu suka menceritakan apa yang diketahuinya kepada Hu Lin, satu-satunya temannya.

Pada hari Majikan Hu Lin memukulnya sampai pingsan itu, Chang membuat penemuan mengejutkan. Ternyata tuannya bukanlah seorang kakek kikir, melainkan seorang lelaki muda yang sedang menyamar. Bagaimana Chang mengetahuinya? Kejadiannya begini:

Chang yang sedang lapar di pagi hari itu belum bisa keluar, karena pagar masih dikunci tuannya. Ia berusaha mencari makan didalam rumah, mungkin masih ada sisa remah makan malam tuannya malam sebelumnya. Chang berjalan masuk ke dapur, lalu dari dapur ia melihat pintu kamar tuannya sedang terbuka karena ditiup angin. Terlihat seorang lelaki muda sedang tidur, Chang merasa keheranan dan berjalan mendekat. Tiba-tiba, sosok lelaki muda itu berganti menjadi sosok kakek tua, yang dia kenal sebagai sosok tuannya. Chang sangat terperangah.

Lupa akan perutnya yang lapar, bebek ini berlari kencang ke halaman dan berpikir keras tentang misteri itu, tapi semakin dia berpikir, semakin aneh rasanya. Lalu dia teringat Hu-lin, teman manusianya, dan berpikir ingin bertanya kepada Hu-lin tentang kejadian tersebut. Chang kagum akan kepandaian Hu-lin dan berpikir bahwa Hu-lin pasti bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan tuannya. Ia ingin segera menemui Hu-lin.

Seperti biasanya kalau masih pagi, pintu pagar masih terkunci. Tidak ada yang bisa dilakukan Chang kecuali meunggu tuannya bangun. Dua jam kemudian, tuannya bangun, terlihat sangat segar dan tidak seperti biasanya, memberi makan Chang sangat banyak. Kemudian dia merokok di depan rumah, lalu pergi ke luar. Pintu pagar lupa dikuncinya.

Dengan gembira Chang berjalan keluar pelan-pelan, menuju sungai dan mencari Hu-lin. Gadis mungil itu masih terbaring di tepian sungai.

“Hu-lin, panggil si bebek. “Bangun, saya ada sesuatu yang ingin dibicarakan.”

“Aku tidak tidur, ujarnya. Hu-lin bangkit sambil tersenyum dan menghapus air matanya.

“Ada apa Hu-lin? Kamu menangis….apakah majikanmu memukulmu lagi?”

“Hush! Dia lagi tidur siang di perahu, jangan sampai suaramu terdengar olehnya.”

“Ah, tidak mungkin dia mengerti bahasa bebek, hanya kamu yang bisa,” ujar Chang. “Tapi memang lebih baik bila kita bicara sambil berbisik-bisik saja.”

Chang lalu menceritakan apa yang dialaminya pagi hari itu kepada Hu-lin, dan bertanya apa pendapat Hu-lin.

Hu-lin sampai lupa akan kesedihannya mendengar cerita Chang, lalu bertanya pada bebek itu, “Apa kamu yakin bahwa tidak ada orang lain yang menginap di kamar tuanmu kemarin?”

“Ya, tidak ada. Saya yakin betul itu. Tuan saya tidak punya seorang temanpun. Lagipula saya sudah didalam rumah saat pintu pagar dikunci semalam. Saya tidak mendengar ada suara orang asing masuk.”

“Kalau begitu, tuanmu pasti peri sedang menyamar”, ujar Hu-lin dengan bijak.

“Peri? Apa itu? Tanya Chang, yang semakin tertarik akan kejadian ini.

“Aduh, kamu khan bebek tua, masak tidak tahu apa itu peri? Ujar Hu-lin sambil tertawa. Saat itu Hu-lin sudah lupa akan nasib malangnya, tertawa bercanda dengan kawan baiknya yang sedang kebingungan itu. “Sssh… ujarnya dengan suara sangat pelan sehingga Chang memincingkan mata berusaha mendengarnya, “Peri itu adalah….(Hu-lin membisikkan sesuatu ke kuping Chang), kemudian Chang mengangguk-angguk mengerti. “Wow! Astaga!”, ujar Chang. “Bila tuan saya adalah peri, ayo pergi temui dia, pasti tuan saya bisa menyelamatkanmu dari segala masalahmu dan membuat saya bahagia selamanya.”

“Apa saya berani melakukannya lagi?” Tanya Hu-lin kepada Chang, sambil menunjukkan luka-lukanya akibat dipukul karena kabur tadi. Hu-lin lalu melihat keadaan sekeliling, menempelkan kupingnya ke pintu perahu tuannya, masih terdengar suara mengorok.

“Tentu, tentu, ayo ikut aku! Dia sudah begitu kejam memukulimu, pasti dia sangat capek dan tertidur pulas, Ayo pergi sekarang!

Dengan cepat mereka pergi ke pondok kakek tua. Sambil berlari, jantung Hu-lin berdegup sangat kencang, dia juga bingung apa yang akan diucapkannya bila bertemu dengan majikan Chang. Pintu pagar rumah Chang masih terbuka sedikit, lalu mereka masuk ke dalam.

“Ayo lewat sini”, ujar Chang. “Dia pasti di dalam lagi menggali tanah di kebun”

Saat mereka sampai di kebun, tidak ada orang yang terlihat.

“Sangat aneh,”ujar bebek itu sambil berbisik. “Saya tidak mengerti, masa dia sudah istirahat?” Ayo kita cek ke dalam rumah.”

Sambil berjingkat-jingkat, Hu-lin memasuki rumah karena diajak oleh Chang. Di dalam rumah juga tidak ada orang, termasuk di kamar majikan Chang, yang sedang terbuka lebar.

“Ayo, lihat, dia tidur di ranjang jenis apa, “ ujar Hu-lin. “Saya tidak pernah melihat kamar peri, pasti lain dengan kamar orang biasa.”

“Hanya ranjang bata biasa, seperti ranjang orang lain, ujar Chang, sambil memasuki kamar tuannya.

Hu-lin membungkuk di bawah ranjang bata, melihat ada tempat menyalakan api dibawahnya. Lalu ia bertanya pada Chang, “Apakah dia menyalakan api di cuaca dingin?”

“Oh, ya, dia selalu menyalakan api untuk menghangatkan ranjang bata itu, tak peduli cuaca dingin ataupun panas, ranjang bata itu selalu panas.”

“Hmm… itu sangat aneh lho, bagaimana menurutmu?” Tanya Hu-lin. Katamu majikanmu kikir, tapi kenapa ia boros menyalakan api tiap malam?”

“”Iya, aneh, ujar Chang, sambil mengibaskan sayapnya. “Saya tak pernah berpikir ke arah situ. “Aneh, aneh banget.” Hu-lin, kamu sangat pandai”.

Tiba-tiba dari luar terdengar suara pintu pagar dibanting, ternyata tuannya sudah pulang! Mendadak wajah Chang memucat ketakutan.

“Oh, apa yang harus kita katakan kepadanya bila ia menemukan kita di kamarnya?” Tanya Hu-lin kepada Chang. Iapun panik dan berkata, “Saya sudah dipukul hari ini, saya tidak sanggup dipukul lagi, isak gadis kecil itu, air matanya mulai menetes.

“Hu-lin, jangan menangis, jangan khawatir, ayo kita sembunyi di belakang tirai itu,” ujar bebek itu.

Dengan gerak sangat cepat, kedua sahabat itu bersembunyi di balik tirai. Untungnya, majikan Chang tidak masuk ke kamar, melainkan hanya mampir sebentar ke gudang dan mengambil sekop, lalu berjalan ke luar menuju halaman, lalu bekerja disana.

Kedua sahabat itu tidak berani keluar dari persembunyian, apalagi keluar dari rumah, takut ketahuan oleh majikan Chang.

“Saya tidak bisa bayangkan apa jadinya kalau ia menemukan bebeknya ini membawa orang asing masuk,” bisik Chang pada Hu-lin.

Hu-lin menjawab, “Mungkin dia berpikir bahwa kita mau mencoba mencari uang yang dia sembunyikan, “ujar Hu-lin sambil tertawa. Saat itu Hu-lin sudah tidak begitu takut, jantungnya sudah berhenti berdebar-debar. “Lagipula, dia tidak mungkin lebih jahat daripada majikan saya.”

Setelah mengalami kejadian mendebarkan itu, kedua sahabat itu kelelahan dan tertidur di dalam tirai di kamar majikan Chang. Majikan Chang malam itu heran kenapa Chang belum pulang, dan mengiranya masih asyik bermain di sungai. Jam 9 malam, majikan Chang masuk ke kamar dan tidur.

Pagi hari, Hu-lin terbangun oleh sinar matahari yang menembus jendela kamar. Awalnya dia lupa dimana dia berada, namun ketika dia melihat Chang, dia segera membangunkan bebek itu. Chang bangun dan mengintip ke luar tirai.

Di ranjang tuannya, berbaring seorang lelaki muda berambut hitam yang sangat tampan. Seulas senyum terhias di wajahnya, seolah-olah sedang menikmati mimpi yang indah. Hu-lin yang baru melihatnya tiba-tiba berdecak kagum. Mata majikan Chang tiba-tiba terbuka dan memandang Hu-lin. Gadis kecil itu sangat terkejut, ketakutan sehingga tak dapat bergerak. Chang yang berdiri disampingnya juga gemetaran.

Lelaki muda itu bahkan lebih kaget daripada Hu-lin dan Chang, selama dua menit dia terdiam. “Apa maksudnya ini?, Tanyanya, dan kemudian melihat kepada bebeknya yang gemetaran, “Apa yang kamu lakukan di kamar saya, dan siapa anak ini, yang sangat ketakutan?”

“Maafkan saya, tapi apa yang kamu lakukan pada Tuan saya?” ujar bebek itu, bertanya balik.

“Saya bukan tuanmu, ujar lelaki muda itu sambil tertawa. “Kamu lebih bodoh daripada biasanya pagi ini.”

“Tuan saya adalah kakek tua yang jelek, sedangkan kamu masih muda dan tampan,” ujar Chang.

“Apa? Kamu bilang saya masih muda?”

“Iya, coba Tanya Hu-lin kalau kamu tak percaya,” ujar Chang.

Lelaki muda itu bertanya kepada gadis kecil itu.

“Ya, tuan. Tidak pernah saya melihat seorang lelaki begitu tampan.” ujar Hu-lin.

“Chang, siapa nama temanmu ini?” Tanya lelaki muda itu.

“Namaku Hu-lin, si gadis budak” ujarnya.

Lelaki muda itu bertepuk tangan, “Betul, betul! Saya telah mengetahui arti teka teki itu semuanya dengan jelas sekarang. “Adalah kalian berdua yang membebaskan saya dari kutukan menjadi kakek tua,” Melihat wajah Hu-lin dan bebeknya yang keheranan, lelaki muda itu mulai menceritakan apa yang pernah terjadi:

“Ayah saya adalah lelaki kaya yang hidup di sebuah daerah yang jauh. Saat saya masih kecil, dia memberikan apapun yang saya minta. Saya sangat sombong dan berpikir bahwa tidak ada apapun di dunia yang tidak bisa saya miliki, juga tidak ada yang perlu saya lakukan bila saya tidak mau melakukannya.”

“Guru saya sering mengomeli saya atas pikiran saya yang tidak lurus itu. Dikatakannya bahwa uang memang dapat membuat orang bahagia, namun Tuhanlah yang menentukan. Terkadang saya mentertawakannya, menyombongkan diri bahwa saya punya cukup uang dan dapat membeli dewa-dewa, peri dan iblis. Guru saya berkata, “Hati-hati! Kamu akan menyesal dengan ucapanmu yang sombong itu.”

“Suatu hari, setelah menyelesaikan pelajaran hari itu, kami berjalan di taman ayahku. Saya menjadi lebih berani daripada biasanya dan berkata padanya bahwa saya tidak mau mematuhi peraturan apapun. Kamu pernah berakta bahwa taman ayahku ini ada penunggunya, dan bila saya membuatnya marah dengan melompati sumur di taman ini, dia akan bangun dan menghukumku.” “Ya, ujar guru saya itu. “Itu yang pernah saya katakan, dan saya ulangi bahwa itu benar. Hati-hati, Anak muda. Jangan melanggar peraturan itu.” “Apa peduliku bila ia bangun?, ujar saya tanpa rasa takut, meloncati sumur tua itu. “Saya tak percaya taman ini ada penunggunya, itu hanya budak ayahku.”

“Tiba-tiba, begitu saya selesai mengucapkan hal itu, perubahan terjadi dalam tubuhku. Tubuh ini menjadi lemas, pandangan kabur, kulit menua dan berkerut, rambut berubah menjadi uban. Dalam satu menit, saya telah berubah menjadi seorang kakek tua.”

“Guru saya bengong melihat apa yang saya alami, Ia berkata, “Penunggu taman ini telah marah atas kata-katamu dan menghukummu. Saya sudah peringatkan agar kamu jangan meloncati sumur itu.” Saya tidak tahu bagaimana cara mengembalikanmu ke bentuk semula.”

“Saat ayahku mengetahui apa yang terjadi padaku, dia sangat sedih dan kecewa. Dia melakukan apa saja untuk membuatku kembali muda. Dia telah mengajakku ke puluhan tabib dan biksu, berdoa siang dan malam serta meminta maaf kepada penunggu di taman. Saya adalah satu-satunya anaknya, dia tidak dapat bergembira bila saya masih seperti iini. Akhirnya guru saya menemukan satu peramal terkenal yang berkata bahwa penunggu taman menghukumku akibat kesalahanku sendiri. Hanya dalam kondisi tidur barulah saya kembali muda, namun begitu bangun akan berwujud kakek tua. Atau bila kepergok oleh siapapun, wujud saya akan kembali menjadi kakek tua,” ujar lelaki tampan itu.

“Saya melihat kamu kemarin pagi, ujar si bebek. :Kamu menjadi muda dan tampan, lalu tak lama kemudian berubah menjadi orang tua.”

“Peramal itu mengatakan bahwa hanya ada satu kesempatan agar saya pulih seperti sedia kala. Yaitu saat saya dalam wujud asli saya (dalam kondisi tidur), datang seekor bebek gila yang membebaskan macan hutan dari perbudakan, maka kutukan itu bisa terlepas, jiwa iblis tidak lagi mengontrol saya lagi. Perkataan si peramal itu bagaikan sebuah teka teki yang sangat aneh, ayah dan guru saya pun menyerah, tidak mengerti.”, kata lelaki itu melanjutkan kisah masa lalunya.

“Kemudian saya ingin mengembara demi memecahkan jawaban teka teki itu. Malam itu saya pergi meninggalkan kota saya seizin ayah. Saya datang ke sini, membeli rumah ini. Saya membawa banyak harta yang diberikan ayah saya. Karena takut kehabisan, saya hidup dengan pelit, menyimpan harta itu di pekarangan. Saya takut ia dicuri, maka saya harus mencari hewan penjaga. Ketika hampir membeli anjing, saya ingat teka-teki si peramal. Akhirnya saya tidak jadi membeli anjing, melainkan membeli bebek, untuk menjaga rumah saya.

“Tapi aku bukan bebek gila,” ujar Chang dengan kesal.

“Betul, Chang, kamu tidak gila, ujar tuannya sambil tersenyum. Supaya cocok dengan teka-tekinya, maka saya memberimu nama Chang, yang artinya gila.

“Oh”, ujar Hu-lin dan Chang bersamaan, “Pintar sekali!”

“Iya, namun Chang tidak pernah membawa macan hutan keluar dari perbudakan selama ini, sampai hari ini tiba!”

“Sayakah si macan hutan?” Tanya Hu-lin sambil tertawa.

“Tentu, Hu artinya Macan, dan Lin artinya kumpulan pepohonan, yang dapat diartikan sebagai hutan. Kamu juga tadi berkata bahwa kamu gadis budak. Jadi sesuai teka teki si peramal, “Chang melepaskanmu dari perbudakan.”

“Oh, saya sangat senang mendengarnya!” ujar Hu-lin. “Senang mengetahui bahwa kamu tidak harus menjadi kakek tua yang pelit lagi. “

Tiba-tiba terdengar suara majikan Hu-lin di depan rumah. Hu-lin sangat ketakutan. “Tidak perlu takut, gadis kecil yang manis. Saya akan membebaskanmu, “ ujar lelaki itu, yang keluar rumah dan berbicara dengan majikan Hu-lin untuk membeli kebebasan Hu-lin.

Hu-lin sangat bahagia, bersimpuh di depan majikan barunya dan berkata, “Oh saya sangat senang, sekarang saya milikmu selamanya, dan bebek ini akan menjadi sahabat saya untuk seterusnya.”

“Ya, tentu, ujar lelaki tampan itu sambil tersenyum. Nanti bila kamu sudah besar, saya akan memperistrimu. Sekarang ayo, kita pulang ke rumah ayah saya.”

Selasa, 07 Juli 2009

Cerpen : Pemerah Susu dan Embernya



Seorang wanita pemerah susu telah memerah susu dari beberapa ekor sapi dan berjalan pulang kembali dari peternakan, dengan seember susu yang dijunjungnya di atas kepalanya. Saat dia berjalan pulang, dia berpikir dan membayang-bayangkan rencananya kedepan.

"Susu yang saya perah ini sangat baik mutunya," pikirnya menghibur diri, "akan memberikan saya banyak cream untuk dibuat. Saya akan membuat mentega yang banyak dari cream itu dan menjualnya ke pasar, dan dengan uang yang saya miliki nantinya, saya akan membeli banyak telur dan menetaskannya, Sungguh sangat indah kelihatannya apabila telur-telur tersebut telah menetas dan ladangku akan dipenuhi dengan ayam-ayam muda yang sehat. Pada suatu saat, saya akan menjualnya, dan dengan uang tersebut saya akan membeli baju-baju yang cantik untuk di pakai ke pesta. Semua pemuda ganteng akan melihat ke arahku. Mereka akan datang dan mencoba merayuku, tetapi saya akan mencari pemuda yang memiliki usaha yang bagus saja!"

Ketika dia sedang memikirkan rencana-rencananya yang dirasanya sangat pandai, dia menganggukkan kepalanya dengan bangga, dan tanpa disadari, ember yang berada di kepalanya jatuh ke tanah, dan semua susu yang telah diperah mengalir tumpah ke tanah, dengan itu hilanglah semua angan-angannya tentang mentega, telur, ayam, baju baru beserta kebanggaannya.

Pesan Moral: Jangan menghitung ayam yang belum menetas.

Kisah ini adalah bagian dari Seri Dongeng Aesop

Aesop adalah seorang pendongeng yang konon hidup 600 tahun sebelum Masehi. Dongeng-dongengnya selalu mengajarkan kebaikan atau kebijakan untuk manusia.

Senin, 06 Juli 2009

Cerpen Pedagang Ikan dan Rajawali

cerpen, cerita pendek, cergam, cerita bergambar, cerita anak

Cerpen ; Pedagang Ikan dan Rajawali

Orang yang bisa menjalankan kewajiban sendiri, baru dapat mencurahkan kemampuannya. Seperti burung yang terbang di angkasa, bunyi kicauan-nya yang nyaring, jelas dan merdu, menambah dinamika kehidupan alam, inilah kewajiban dan kemampuan mereka.

Ada pun manusia, kewajibannya adalah patuh pada hukum dan disiplin diri, berkelakuan baik, sedangkan kemampuan adalah mengembangkan kecakapan intuitif melayani orang lain. Tetapi ada yang hanya ingin memamerkan kemampuan, namun tidak tahu kewajibannya, tidak mau mematuhi kewajibannya, akibatnya keluar dari prosedur dan melanggar aturan, ini sungguh merupakan hal yang sangat mengerikan!

Alkisah pada suatu masa disebuah desa, hiduplah seorang pemuda yang bermata pencaharian dengan berdagang ikan. Suatu hari seperti biasa dia berjualan ikan di ujung jalan desa, “Ikan…ikan….!” sambil berteriak dan memandang ke sekitar, mungkin ada orang yang akan lewat dan membeli dagangannya. Namun tiba-tiba, WUSS… dari angkasa seekor rajawali menukik ke bawah, dan menyambar seekor ikan dari lapaknya lalu terbang lagi ke angkasa. Dengan sangat marah pedagang ikan itu berteriak lantang “Hai kembalikan ikanku!” sambil berteriak ia mengacung-acungkan kepalan tangannya ke angkasa namun teriakannya sia-sia, ia hanya bisa memandangi rajawali itu terbang semakin jauh dan tinggi dengan sedih.

Sambil berguman, ia berkata, “sayang aku tidak punya sayap, jika punya kau tidak akan kulepaskan!” Sambil ia melangkah lemas.

Ketika dia pulang ke rumah, melewati sebuah Kuil Dicang, ia berlutut di depan kuil, berdo’a memohon pada Bodhisatwa agar menjadikannya seekor burung rajawali, agar bisa terbang ke angkasa. “ Ya Bodhisatwa yang Agung, hamba mohon jadikanlah hamba burung agar bisa terbang ke angkasa.” Sejak saat itu, setiap hari ia lewat Kuil Dicang, dan akan berdo’a dengan sepenuh hati.

Kebiasaan itu diamati oleh sekelompok pemuda yang melihat ia setiap hari berdo’a memohon pada Bodhisatwa, dan dengan rasa penasaran mereka saling membicarakannya, salah satu di antaranya berkata: “Ia berdoa setiap hari agar dapat berubah menjadi seekor rajawali agar dapat terbang ke angkasa.”

Yang lainnya lantas berkata : “Aduh! Betapa tololnya dia, mau berdoa’a sampai kapan? Lebih baik dia kita kerjain!”

Keesokan hari, mereka masuk kuil dan menunggu pedagang ikan itu datang seperti biasanya. Salah satu di antara pemuda itu bersembunyi di belakang patung Bodhisatwa. Tidak lama kemudian, pedagang ikan itu datang, seperti biasa ia sembahyang dan memohon dengan tulus, pemuda yang sembunyi di belakang patung Bodhisatwa berkata: “Kau memohon dengan begitu tulus, aku akan memenuhi keinginanmu, pergilah ke desa dan cari sebuah pohon yang paling tinggi, lalu panjatlah pohon itu.”

Pedagang ikan gembira sekali mengira benar-benar telah mendengar petunjuk Bodhisatwa, kemudian bergegas ke desa dan menemukan sebuah pohon yang paling tinggi, lalu naik ke atas pohon itu. Pohon itu benar-benar tinggi sekali. Makin naik ke atas ia semakin cemas.

Ia memanjat sampai ke puncak pohon, dan begitu melongok kebawah dalam hati ia berkata : ”Wah! Tinggi sekali! Apa benar aku bisa terbang?” Sekelompok pemuda itu datang, mereka sengaja ramai-ramai memperbincangkannya dan berteriak : “Hei!, Coba kalian lihat di atas puncak pohon itu, ada seekor rajawali besar, entah dia bisa terbang atau tidak? Kalau memang rajawali, pasti bisa terbang dong!”

Pedagang ikan itu gembira sekali, dia berpikir: “Ternyata aku telah berubah menjadi seekor Rajawali, kalau memang Rajawali, mana mungkin tidak bisa terbang?” Kemudian ia membentangkan kedua tangannya seperti sayap hendak terbang, ia membayangkan bagaimana seekor burung akan terbang, kemudian ……”UPS!” ia meloncat seperti burung hendak terbang tetapi ia ……WOOOOOO terbang ke bawah.

Tapi, kenapa bukan terbang ke atas, malah merosot jatuh ke bawah? O..ngeri sekali! Namun, sudah terlambat. Dan untung saja, ia terjatuh di antara lumpur dan rumput, hanya mengalami luka kecil.

Pemuda-pemuda itu datang menghampiri, dan mengolok-oloknya “Apa yang kalian tertawakan? Ini karena kedua sayap saya patah, bukannya tidak bisa terbang!” Kata pedagang ikan itu tak tahu malu.

Cerita ini dapat memberi kita moral:

Seseorang harus memenuhi kewajiban pribadinya, baru dapat mencurahkan kemampuannya. Jika hanya ingin mendapatkan kemampuan yang besar, namun tidak mematuhi kewajibannya, tidak tahu diri dan secara membabi buta melakukan hal yang melampaui batas kemampuan diri sendiri, itu sangat berbahaya.

Sabtu, 04 Juli 2009

Cerpen Keluarga Dua Centong


cerita pendek, cerpen, cerita anak

Cerita ini merupakan kisah nyata yang terjadi di Tiongkok. Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah desa kecil yang sederhana dan indah, namanya desa Tianhui. Disana ada seorang warga yang kaya raya, bermarga Yang. Beberapa generasi keluarga Yang adalah orang baik yang suka menolong orang lain.

Kalau menjumpai bhiksu atau pendeta agama Tao yang minta sedekah, hartawan Yang pasti akan menyajikan banyak lauk-pauk untuk mereka.

Terkadang, tetangga rumah juga datang meminjam bahan pangan padanya. Namun karena tetangganya banyak yang miskin, maka ketika mereka hendak mengembalikan bahan pangan yang dipinjaminya itu, tuan Yang tidak mau menerima. Para tetangga merasa bahwa tuan Yang sudah berbaik hati meminjamkan bahan pangan, itu sudah sangat membantu, mana boleh tidak mengembalikan? Tidak, harus dikembalikan kepadanya.

Lalu hartawan Yang memotong 2 bagian kendi besarnya, sebagian besar dan sebagian lagi kecil. Ketika tetangga datang untuk meminjam bahan pangan, tuan Yang menimbang dengan centong besar, centong demi centong bahan pangan dipinjamkannya kepada tetangga. Pada saat tetangga mengembalikan bahan pangan yang dipinjamnya itu, tuan Yang menimbangnya dengan centong kecil, hanya mengambil sedikit saja.

Waktu berlalu dan lama kelamaan, semua orang menyebutnya “Liang Piaojia” (keluarga 2 centong). Diusianya yang ke-80 musim gugur tahun itu, tanaman gandum juga telah matang, “Liang Piaojia” bermaksud hendak ke ladang untuk melihat sejenak gandumnya. Lalu, dengan terhuyung-huyung ia menopang tongkat pergi ke ladang gandumnya seorang diri. Tiba-tiba, langit tertutup oleh awan hitam, petir bergemuruh di ladang. Melihat keadaan seperti ini, dalam benak “Liang Piaojia” berpikir , “Saya sudah tua, tidak bisa jalan lagi, lebih baik mati disini saja!”

Saat itulah, Liang Piaojia mendengar satu suara keras bergema di ladangnya, “Dewa guntur, dewi petir dan naga laut, kalian dengar baik-baik, “Liang Piaojia” saat ini berada di ladang rumahnya, setitik airpun tidak boleh kalian teteskan di atas gandumnya!”

Setelah lama berlalu, hujan yang disertai petir akhirnya berhenti, “Liang Piaojia” bangun dari atas ladangnya dan begitu melihat, tidak ada setetes airpun membasahi ladang gandum tempat ia berbaring, sedangkan ladang gandum orang lain semuanya terbenam air.

Setelah “Liang Piaojia” pulang ke rumah, ia menceritakan kepada putra-putrinya tentang peristiwa yang dialaminya itu, lantas dengan disertai putra-putrinya mereka berlutut menyembah, memanjatkan puji syukur dan terimakasih atas anugerah Yang Maha Kuasa.
Nah, anak-anak, mengapa kilatan petir tidak sampai melukai hartawan Yang? Sebab seumur hidupnya ia memperlakukan orang dengan baik, selalu memikirkan kepentingan orang lain.

Pada zaman dulu di Tiongkok, orang-orang tahu mengenai prinsip bahwa baik dan jahat ada balasannya, percaya bahwa setiap hal yang dilakukan manusia, baik yang kecil maupun besar, Yang Maha Kuasa selalu melihatnya. Karena itu, semua orang berusaha berbuat hal yang baik, tidak melakukan perbuatan jahat.

Anak-anak, tahukah kalian? Bahwa di masyarakat sekarang juga banyak orang baik seperti “Liang Piaojia”, diantara mereka adalah kakek nenek, paman, bibi dan kakak yang berkultivasi Zhen, Shan, Ren (Sejati, Baik, Sabar), meskipun sekarang mereka mengalami penderitaan, namun, kelak pasti akan mendapat balasan yang baik.

Nah, anak-anak, maukah kalian menjadi anak yang baik, sabar dan membantu orang lain tanpa pamrih?

Rabu, 01 Juli 2009

Cerpen Keledai & Garam Muatanya



Cerpen: Keledai & Garam Muatanya

Seorang pedagang, menuntun keledainya untuk melewati sebuah sungai yang dangkal. Selama ini mereka telah melalui sungai tersebut tanpa pernah mengalami satu pun kecelakaan, tetapi kali ini, keledainya tergelincir dan jatuh ketika mereka berada tepat di tengah-tengah sungai tersebut. Ketika pedagang tersebut akhirnya berhasil membawa keledainya beserta muatannya ke pinggir sungai dengan selamat, kebanyakan dari garam yang dimuat oleh keledai telah meleleh dan larut ke dalam air sungai. Gembira karena merasakan muatannya telah berkurang sehingga beban yang dibawa menjadi lebih ringan, sang Keledai merasa sangat gembira ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Pada hari berikutnya, sang Pedagang kembali membawa muatan garam. Sang Keledai yang mengingat pengalamannya kemarin saat tergelincir di tengah sungai itu, dengan sengaja membiarkan dirinya tergelincir jatuh ke dalam air, dan akhirnya dia bisa mengurangi bebannya kembali dengan cara itu.

Pedagang yang merasa marah, kemudian membawa keledainya tersebut kembali ke pasar, dimana keledai tersebut di muati dengan keranjang-keranjang yang sangat besar dan berisikan spons. Ketika mereka kembali tiba di tengah sungai, sang keledai kembali dengan sengaja menjatuhkan diri, tetapi pada saat pedagang tersebut membawanya ke pinggir sungai, sang keledai menjadi sangat tidak nyaman karena harus dengan terpaksa menyeret dirinya pulang kerumah dengan beban yang sepuluh kali lipat lebih berat dari sebelumnya akibat spons yang dimuatnya menyerap air sungai.

Pesanku: Cara yang sama tidak cocok digunakan untuk segala situasi.

Kamis, 25 Juni 2009

Cerpen Reparasi


Cerita pendek Reparasi

Di sebuah jalan raya yang ramai, banyak orang lalu lalang. Hari ini Dede datang ke tengah kota bersama ibunya, mereka berdua terpesona dengan suasana keramaian jalan tersebut. Di tempat yang ramai ini, para pedagang sibuk melayani pelanggan mereka masing masing. Di antara suasana jalan yang sangat sibuk itu, tampak seorang paman sedang asyik memperbaiki barang barang elektronik di sampingnya. Dede dengan antusias mendekati paman itu, tak lama kemudian Dede bertanya, ”Paman, bolehkah saya mengetahui apa yang sedang paman lakukan?”



Sang paman itu melihat sebentar kearah Dede dan berkata sambil tersenyum melihat wajah Dede yang sangat penasaran itu, ”Oh, paman sedang memperbaiki barang-barang elektronik ini”. Si Dede kembali bertanya, ”Ada apa dengan barang-barang elektronik ini? Mengapa harus paman perbaiki?”



Lalu paman itu menghentikan pekerjaannya dan sambil tersenyum ramah menjelaskan, ”Barang-barang elektronik ini adalah milik pelanggan yang ingin diperbaiki. Mereka ingin memberikan kesempatan sekali lagi kepada barang-barang elektronik ini untuk menjalankan tugasnya. Namun jika barang-barang ini dipergunakan agak lama, akan ada sebagian onderdilnya yang sudah aus dan rusak sehingga harus diperbaiki atau diganti dengan yang baru. Nah kalau sudah diperbaiki begini, mungkin akan dapat berfungsi seperti sedia kala tanpa harus membuangnya.”



Dede setelah mendengar perkataan sang paman, dia lalu berpikir sejenak kemudian menolehkan kepala kepada ibunya yang berdiri di samping Dede dan bertanya, ”Mama…apakah manusia juga perlu direparasi?” Ibunya tersenyum bijak dan membelai kepala Dede, ” Kalau seseorang terlalu banyak berbuat hal yang buruk dan memiliki konsep pikiran yang tidak betul, maka dia juga perlu direparasi, akan tetapi kalau mau memperbaiki perilaku dan konsep pikiran kita, itu namanya bukan reparasi (xiu li) tapi disebut kultivasi (xiu lian).” Si Dede pun menganggukkan kepala tanda mengerti. Ada sebuah syair bijak berbunyi:



Tujuan kultivasi adalah,

Kembali ke jati diri yang asli

Kembali ke asal diri sendiri,

Kepada karakter alam semesta yang paling murni,

Kembali ke sifat dasar manusia Sejati Baik Sabar.

Cerpen Dalam Cobaan Iblis


Cerita Dalam cobaan Iblis

Zaman dulu kala, hiduplah seorang yang baik hati yang sangat kaya raya dan punya banyak budak untuk melayaninya. Para budak itu sangat membanggakan tuannya sambil berkata,” Tidak ada tuan yang lebih baik daripada tuan kita di dunia ini. Dia memberi makan kita dengan baik, memberi kita pakaian yang bagus, pekerjaan yang sesuai kemampuan kita. Dia tidak pernah memarahi kita atau bertindak kasar pada kita. Dia tidak seperti majikan-majikan lain, yang memperlakukan budak-budaknya dengan buruk, menghukum mereka tanpa mau tahu siapa yang salah dan tidak pernah bersikap ramah. Kita sudah hidup sangat baik, tidak ada yang sebaik ini.”

Mendengar hal itu, iblis ingin mengacau hubungan yang harmonis antara mereka. Lalu iblis menculik salah seorang budak bernama Aleb. Dia memerintahkan Aleb untuk menggoda budak-budak lain dengan rayuannya. Suatu hari, saat mereka sedang duduk istirahat dan membicarakan kebaikan tuan mereka, Aleb tiba-tiba berkata, :

“Sungguh bodoh kalian ini. Bahkan iblis juga akan baik pada kita, bila kita melakukan apa yang dimintanya. Selama ini kita khan melakukan apa yang diminta majikan kita dengan baik. Coba sekali-kali kita lakukan dengan buruk, lihat bagaimana sikapnya pada kita.”

Budak lain tidak setuju dengan apa yang Aleb katakan dan kemudian menantang Aleb taruhan untuk membuat tuannya marah. Aleb menerimanya. Syaratnya: bila ia gagal, ia akan kehilangan hari libur, namun bila dia sukses, budak lain akan memberikan jatah liburnya. Budak-budak lain bahkan berjanji untuk mendukung Aleb, dan melepaskannya bila ia dirantai atau dihukum kurung oleh tuannya. Setuju dengan taruhan itu, Aleb siap membuat tuannya marah besok.

Abel adalah gembala domba, yang bertanggungjawab mengurus domba ras yang terbaik dan bernilai tinggi yang sangat dibanggakan tuannya. Keesokan paginya, saat tuannya mengantarkan beberapa tamu melihat domba ras tersebut, Aleb mengerdipkan mata ke teman-temannya seolah-olah berkata, “Lihat, saya akan membuatnya marah.”

Budak-budak lain berkumpul di dekat pagar untuk menonton, sementara iblis memanjat pohon di dekat kandang untuk menyaksikan Abel beraksi. Tuannya mendekat ke kandang bersama tamu-tamunya, mempertunjukkan domba-dombanya sambil berkata, “Semua domba di peternakan ini bagus kualitasnya. Saya juga punya satu yang istimewa, domba dengan tanduk bergelung sempurna, yang sangat langka, itu….yang sedang berdiri di paling depan.”

Tiba-tiba Aleb dengan sengaja mengagetkan kumpulan domba itu sehingga mereka saling terpencar, membuat para tamu sulit menemukan mana yang dimaksud domba langka berharga tersebut. Tuannya juga mulai pusing melihat domba-domba itu panik dan berputar-putar.

Ia lalu berkata kepada Aleb, “Aleb, tolong tangkapkan domba terbaik kita, yang mempunyai tanduk tergelung sempurna. Tangkap dia secara hati-hati, dan pegang dia selama beberapa menit.”

Aleb berlari kencang ke kerumunan domba bagaikan seekor singa lapar, menangkap domba berharga itu, mematahkan kaki kanannya, membantingnya ke tanah bagaikan ranting patah. Tuan, Para tamu dan budak lain sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Aleb. Iblis yang berdiri di atas pohon meloncat loncat kegirangan, dan hal ini terlihat oleh sang majikan. Majikannya mengerutkan dahi, tidak mengucapkan sepatah katapun. Para tamu dan para budak juga terdiam, menunggu sesuatu terjadi. Apakah majikan akan marah? Beberapa lama terdiam, tuan menggeleng gelengkan kepalanya dengan kencang seolah-olah melepaskan sebuah beban berat. Lalu ia mengangkat kepalanya, menarik nafas panjang sambil memandang langit. Kerutan-kerutan di wajahnya perlahan menghilang dan dengan senyuman ia berkata kepada Aleb:

“Oh Aleb, Saya tahu iblis menyuruh kamu untuk membuat saya marah. Namun, Tuhan saya lebih kuat daripada dia. Saya tidak marah kepadamu. Kamu takut saya akan menghukummu, sebaliknya, saya akan membebaskanmu dari menjadi budak. Pergilah kemanapun kamu suka.”

Kemudian tuan ini dengan tamu-tamunya kembali ke rumah, dan iblis di atas pohon, menggertakan giginya, jatuh ke tanah dan lenyap.

Selasa, 23 Juni 2009

Cerita Jaka Gembala dan Putri Tenun

Cerpen, cerita pendek, cerita jaka gembala dan putri tenun



Jaka Gembala dan Putri Tenun

Putri Tenun tinggal di ujung timur bimasakti, ia adalah putri bungsu kekaisaran langit, karena sangat mahir menenun, jadi semua orang memanggilnya “Putri Tenun”.
Setiap hari dengan tekun dan sibuk Putri Tenun selalu menenun kain. Pagi hari, ia menenun bumi dengan berlaksa-laksa berkas sinar mentari; siang hari, ia menenun langit cerah tanpa awan yang berarak; senja hari, ia menenun matahari senja yang berawan kemerah-merahan; malam hari, ia sibuk menghiasi langit bertabur bintang yang berkelap-kelip di atas kain.
Ia bekerja dengan susah payah setiap hari, namun ia sangat kesepian, karena itu selalu berkeluh-kesah, tidak bahagia. Di ujung barat bimasakti ada seorang jejaka yang menggembalakan sapi, pekerjaannya adalah memelihara sapi di langit. Ia memberi makan sekelompok sapi dengan rumput segar dan memandikannya, pekerjaannya setiap hari banyak sekali. Tetapi Jaka Gembala, demikian dia dipanggil adalah seorang pemuda yang jujur dan rajin, ia bekerja dengan tekun setiap hari, sapi-sapi di langit itu dipeliharanya dengan baik sehingga menjadi gemuk dan sehat, Kaisar Langit sangat mengaguminya.
Suatu hari, Kaisar Langit memanggil dan mempertemukan Jaka Gembala dan Putri Tenun.
“Putri Tenun, saya lihat kamu bekerja dengan susah payah setiap hari, tetapi selalu tidak gembira. Usiamu juga sudah tidak kecil lagi, saya bermaksud menjodohkanmu dengan Jaka Gembala, tidak tahu apakah kamu bersedia atau tidak?” demikian tanya Kaisar Langit pada Putri Tenun.
Putri Tenun tahu, bahwa Jaka Gembala adalah seorang pemuda yang jujur dan bertanggung jawab, ia lantas berkata: ”Segalanya diserahkan pada paduka untuk memutuskan.” Seusai berkata, dengan malu-malu ia menundukkan kepalanya. Mengetahui hal ini, Kaisar Langit sangat gembira, lantas berkata: “Jaka Gembala, saya paling menyayangi putri bungsu ini, dapat dikatakan ia pandai dalam berbagai hal. Dan saya lihat, kamu juga seorang pemuda yang berprestasi, sekarang saya akan menjodohkan sang putri denganmu, apakah kamu bersedia?”
Jaka Gembala memandang putri tenun, dan menilai ia adalah seorang gadis yang manis dan lembut, lalu dengan gembira menyetujuinya.
Sejak itu, Jaka Gembala dan Putri Tenun hidup bahagia dan saling mencintai. Mereka sering saling bergandeng tangan, berjalan-jalan di langit, menikmati pemandangan. Hidup bersama dengan Jaka Gembala, Putri Tenun selalu merasakan sesuatu yang baru dan menarik, sebab dulu ia tidak pernah ke luar rumah dan berjalan-jalan. Ia sibuk bekerja setiap hari, sama sekali tidak mungkin ada kesempatan untuk istirahat.
Begitu juga dengan Jaka Gembala, dulu karena harus menggembalakan sapi, jadi setiap kali hanya bisa berada di padang rumput, kini ada Putri Tenun yang menemani, bermain bersama dan berkeliling ke mana saja, benar-benar bahagia sekali.
Namun mereka berdua lupa akan pekerjaannya masing-masing. Putri Tenun lupa menenun, akibatnya terlihat sehamparan kosong di langit, tidak ada lagi warna langit yang indah; sedangkan Jaka Gembala lupa menggembalakan sapinya, akibatnya sapi di langit berkeliaran tidak menentu, sehingga membuat kerajaan langit menjadi kacau berantakan. Dengan marah, Kaisar Langit berkata pada mereka: “Kalian berdua benar-benar membuat saya sangat kecewa, sepanjang hari kerjanya main dan main saja, sehingga mengabaikan pekerjaan masing-masing, saya memutuskan akan menghukum kalian. Mulai hari ini, kalian kembali ke tempat kerja masing-masing. Dan baru boleh bertemu tiap tanggal 7 Juli setiap tahun, terkecuali hari yang disebutkan ini, tidak boleh bertemu. Jika kalian melanggar perintah, maka kalian akan dihukum mati.”
Sejak itu, Jaka Gembala dan Putri Tenun terpaksa bekerja sambil dengan sabar menanggung derita kerinduan hanya mengharapkan datangnya 7 Juli itu. Dan karena sangat menaruh simpati dengan derita yang dialami Jaka Gembala dan Putri Tenun, lalu tepat pada 7 Juli, si murai membuat sebuah jembatan untuk mereka agar supaya bisa bertemu di atas jembatan untuk saling mengutarakan derita kerinduan mereka.

Saat mata singa berubah menjadi merah

Cerita pendek, cerpen, cerita saat mata singa berubah menjadi merah



Saat Mata Singa Berubah Menjadi Merah

Untuk waktu yang lama, orang-orang Tionghoa percaya dengan Dewa-Dewa dan menghormati Buddha-Buddha. Seperti cerita-cerita budi pekerti lainnya, cerita ini juga terjadi di masa lampau. Dikisahkan Bodhisattva Dizang turun ke dunia manusia, akan tetapi dia menemukan bahwa manusia sudah tidak percaya lagi dengan para Dewa dan Buddha.
Dengan belas kasih-Nya yang maha besar, dia memutuskan untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang terakhir yang masih mempercayai Mereka. Bodhisattva Dizang menjelma diri-Nya menjadi seorang pengemis, berkeliling meminta makan dari satu rumah ke rumah lain di dusun itu. Tidak ada satu orang pun yang memberikan makanan pada-Nya dan juga tidak ada satu rumah pun mempunyai altar untuk sembahyang. Sewaktu sampai ke ujung desa, Dia melihat seorang perempuan tua sedang membakar hio di depan patung Buddha.
Dia pergi kesana dan mengemis makanan. Dengan malu-malu perempuan tua itu berkata, “Saya hanya sisa satu mangkuk nasi. Kamu boleh ambil setengahnya, karena saya harus menyimpan separuhnya lagi untuk dipersembahkan pada Buddha.”
Melihat kebaikan dan ketulusan hatinya kepada Buddha, Bodhisattva Dizang mengungkapkan padanya apa yang akan terjadi. Dia menunjuk pada sepasang patung singa di ujung desa dan berkata, “Ketika mata singa-singa itu berubah menjadi merah, itu meramalkan banjir besar akan segera datang. Kamu harus secepatnya lari ke atas puncak bukit. Saya dapat menjamin kamu akan selamat.” Setelah itu, Bodhisattva yang menjelma menjadi pengemis itupun pergi.
Perempuan tua yang baik hati itupun segera memberitahukan kata-kata pengemis itu kepada seluruh penghuni desa. Akan tetapi tidak seorangpun yang mempercayainya. Sebaliknya mereka malah mengejeknya. Mereka mengatakan bahwa dia sudah gila dan percaya takhayul: Bagaimana mungkin mata sepasang patung singa batu itu bisa berubah menjadi merah? Perempuan tua itu terus memohon pada penghuni-penghuni desa untuk mempercayainya, tapi mereka tetap tidak mau.
Perempuan tua itu terus mengingat ramalan pengemis itu dan dia setiap hari memeriksa mata sepasang patung singa. Suatu hari, beberapa penghuni desa yang nakal memutuskan untuk mempermainkannya, “Ayo, kita permainkan perempuan tua itu; ayo kita cat mata patung singa menjadi merah.”
Begitu melihat ternyata mata sepasang patung singa benar berubah menjadi merah, perempuan tua itu menjadi panik. Dia langsung lari ke desa dan berteriak memberitahukan mereka, “Cepat lari! Banjir besar akan segera datang!” Tapi tidak seorangpun yang mendengarkannya. Mereka terus menertawakannya sampai sakit perut.
Karena tidak bisa meyakinkan seorangpun, akhirnya perempuan tua itu seorang diri berlari ke atas puncak bukit. Begitu dia mencapai puncak, ketika dia melihat kembali, ternyata banjir besar benar-benar terjadi, terlihat seluruh desa sudah tenggelam ke dalam air.
Dia menangis dengan kesedihan yang amat sangat.